bahwa
kekayaan materi,
harta
benda jauh dari kaum-kaum pecinta ilmu
Setelah
ritual dunia siswa usai di gelar menasional, tibalah saatnya ritual-ritual
kampus merambah pada calon mahasiswa. tentu melalui banyak persayaratan dan
juga mekanisme yang cukup mengeringkan kantong orang tua calon-calon mahasiswa.
mengapa tidak, system pendidikan Indonesia saat ini “berlogika pasar”. tidak
mengherankan kemudian, tidak sedikit orang tua yang memilih melanjutkan
pendidikan anaknya ke dunia kampus bertambah miskin.
Perjalanan
semester menghantui orang tua; Semester demi semester terlewati, seiring dapur
harus di irit sedemikian rupa. Selip “gaji” dari bank rumah setidaknya
bertambah sekian persen tiap kenaikan semester, menurut logika mahasiswa.
Sebagai
bahan referensi sekaligus refleksi, tulisan ini memuat sebuah hipotesis; Walau
belum ada penelitian yang cukup—bahwa terjadi pemiskinan secara struktural pada
hampir semua orang tua yang menyekolahkan anak mereka di universitas.
Pemiskinan yang dikemas secara apik; kaum intelektual terdominasi dan
terhegemoni dalam kerangkeng sistem kapitalisme pendidikan.
Atas
nama misi suci; pendidikan anak. Orang tua rela—entah, dalam sadar atau tidak,
mengorbankan segalanya. Pendidikan adalah symbol keluarga yang terhormat.
sebagai simbol kemajuan keluarga, bahkan sebuah bangsa Negara. para orang tua
memampukan “memaksakan” diri untuk menyekolahkan anaknya di perguruan tinggi
yang, tanpa sepengetahuan mereka, mempunyai system servis lokalisasi; Siapa
Banyak Duit Akan Mendapatkan Fasilitas Pendidikan Yang Nomor Wahid Dan Anak
Didik Yang Pas-Pasan Dari Segi Materi Pun Akan Mendapatkan Fasilitas Yang
Alakadarnya!!!.
wacana
swastinasasi universitas negeri memberi andil yang signifikan pada perkembangan
logika pasar pendidikan kita. Seolah, memperjelas dan mempertegas dominasi
kapitalisme dengan topeng-topeng indah di tengah masyarakat.
Namun,
terlepas pro kontra terkait wacana di atas, identifikasi diri serta status
mahasiswa telah di sandang.
Pada
perjalanannya, dunia kampus pun menjadi pintu gerbang; untuk pengembangan
potensi-potensi penghuninya. sebuah pintu gerbang menuju sesuatu yang didamba;
pintu gerbang menuju maksimalisasi potensi masing masing.
Selanjutnya,
penggalian potensi-potensi diri sangat berdampak pada tercapai atau setidaknya
harapan. penciptaan ruang-ruang yang signifikan pada perubahan dan kemajuan
diri dan lingkukangan, serta tentunya penciptaan sebuah komunitas atau basis
yang sekiranya kondusif untuk pengjewantahan ide-ide kita sebagai manusia
kampus atau manusia ide. bukankah manusia ide seperti kita hanya dapat
diapresiasi, hanya dapat dihargai ketika ide-ide yang ada pada benak kita
semua, mampu kita realisasikan atau praksis sosialkan pada kehidupan hari ini.
Dalam
konteks inilah, sebuah pilihan menemukan titik signifikan. Sebagian orang
(baca, kaum eksistensialis) meyakini bahwa “aku memilih maka aku ada”. bahwa
salah satu perbedaan manusia dengan makhluk tuhan lainnya terletak pada
kemampuan manusia menciptakan pilihan-pilihan dalam hidup dan kehidupannya. Dan
setiap pilihan mempunyai konsekwensi, sehingga proses selanjutnya adalah
pertanggung jawaban atas pilihan yang telah diambil oleh masing-masing
individu.
Sebuah
pengejawantahan ide, sangat membutuhkan ruang ataupun sebuah wadah yang tepat
(baca, konteks). Dan, dunia kampus adalah satu dari sekian banyak wadah,
sebagai persinggahan ide-ide "manusia ide" atau manusia kampus itu
sendiri.
Pintu
gerbang ini, memang menjadi ruang yang cukup luas untuk kita memilih jalan
hidup. Bagi manusia kampus, memilih adalah niscaya sekarang juga; biarkan masa
lalu menjadi saksi sejarah, masa depan sebagai harapan dan masa kini adalah
masa memilih jalan hidup dan menata sejarah dinamika hidup kita.
Akhirnya,
walau sedikit patah arang, seruan untuk berkarya dalam rimbah dominasi
kapitalis berwajah suci ini terus bergolak. walau tidak jarang, pilihan itu
pahit, bahkan terlelu pahit. Tapi yakin bahwa terus berproses dalam dialiktika
kehidupan adalah manifestasi kemanusiaan kita. maka sesulit apapun rintangan
yang menghadang, memilih adalah keharusan.
Selamat
bercumbu dalam rimbah dominasi kapitalis “suci”.


