Kampung Indonesia Sebagai Identitas

Facebook
RSS

Wajah Intelektual : Realitas Dominasi Kapitalis "Suci"

-
Arung Shad S

Mungkin sebuah keniscayaan
bahwa kekayaan materi,
harta benda jauh dari kaum-kaum pecinta ilmu

Setelah ritual dunia siswa usai di gelar menasional, tibalah saatnya ritual-ritual kampus merambah pada calon mahasiswa. tentu melalui banyak persayaratan dan juga mekanisme yang cukup mengeringkan kantong orang tua calon-calon mahasiswa. mengapa tidak, system pendidikan Indonesia saat ini “berlogika pasar”. tidak mengherankan kemudian, tidak sedikit orang tua yang memilih melanjutkan pendidikan anaknya ke dunia kampus bertambah miskin.

Perjalanan semester menghantui orang tua; Semester demi semester terlewati, seiring dapur harus di irit sedemikian rupa. Selip “gaji” dari bank rumah setidaknya bertambah sekian persen tiap kenaikan semester, menurut logika mahasiswa.

Sebagai bahan referensi sekaligus refleksi, tulisan ini memuat sebuah hipotesis; Walau belum ada penelitian yang cukup—bahwa terjadi pemiskinan secara struktural pada hampir semua orang tua yang menyekolahkan anak mereka di universitas. Pemiskinan yang dikemas secara apik; kaum intelektual terdominasi dan terhegemoni dalam kerangkeng sistem kapitalisme pendidikan.

Atas nama misi suci; pendidikan anak. Orang tua rela—entah, dalam sadar atau tidak, mengorbankan segalanya. Pendidikan adalah symbol keluarga yang terhormat. sebagai simbol kemajuan keluarga, bahkan sebuah bangsa Negara. para orang tua memampukan “memaksakan” diri untuk menyekolahkan anaknya di perguruan tinggi yang, tanpa sepengetahuan mereka, mempunyai system servis lokalisasi; Siapa Banyak Duit Akan Mendapatkan Fasilitas Pendidikan Yang Nomor Wahid Dan Anak Didik Yang Pas-Pasan Dari Segi Materi Pun Akan Mendapatkan Fasilitas Yang Alakadarnya!!!.

wacana swastinasasi universitas negeri memberi andil yang signifikan pada perkembangan logika pasar pendidikan kita. Seolah, memperjelas dan mempertegas dominasi kapitalisme dengan topeng-topeng indah di tengah masyarakat.

Namun, terlepas pro kontra terkait wacana di atas, identifikasi diri serta status mahasiswa telah di sandang.

Pada perjalanannya, dunia kampus pun menjadi pintu gerbang; untuk pengembangan potensi-potensi penghuninya. sebuah pintu gerbang menuju sesuatu yang didamba; pintu gerbang menuju maksimalisasi potensi masing masing.

Selanjutnya, penggalian potensi-potensi diri sangat berdampak pada tercapai atau setidaknya harapan. penciptaan ruang-ruang yang signifikan pada perubahan dan kemajuan diri dan lingkukangan, serta tentunya penciptaan sebuah komunitas atau basis yang sekiranya kondusif untuk pengjewantahan ide-ide kita sebagai manusia kampus atau manusia ide. bukankah manusia ide seperti kita hanya dapat diapresiasi, hanya dapat dihargai ketika ide-ide yang ada pada benak kita semua, mampu kita realisasikan atau praksis sosialkan pada kehidupan hari ini.

Dalam konteks inilah, sebuah pilihan menemukan titik signifikan. Sebagian orang (baca, kaum eksistensialis) meyakini bahwa “aku memilih maka aku ada”. bahwa salah satu perbedaan manusia dengan makhluk tuhan lainnya terletak pada kemampuan manusia menciptakan pilihan-pilihan dalam hidup dan kehidupannya. Dan setiap pilihan mempunyai konsekwensi, sehingga proses selanjutnya adalah pertanggung jawaban atas pilihan yang telah diambil oleh masing-masing individu.

Sebuah pengejawantahan ide, sangat membutuhkan ruang ataupun sebuah wadah yang tepat (baca, konteks). Dan, dunia kampus adalah satu dari sekian banyak wadah, sebagai persinggahan ide-ide "manusia ide" atau manusia kampus itu sendiri.

Pintu gerbang ini, memang menjadi ruang yang cukup luas untuk kita memilih jalan hidup. Bagi manusia kampus, memilih adalah niscaya sekarang juga; biarkan masa lalu menjadi saksi sejarah, masa depan sebagai harapan dan masa kini adalah masa memilih jalan hidup dan menata sejarah dinamika hidup kita.

Akhirnya, walau sedikit patah arang, seruan untuk berkarya dalam rimbah dominasi kapitalis berwajah suci ini terus bergolak. walau tidak jarang, pilihan itu pahit, bahkan terlelu pahit. Tapi yakin bahwa terus berproses dalam dialiktika kehidupan adalah manifestasi kemanusiaan kita. maka sesulit apapun rintangan yang menghadang, memilih adalah keharusan.

Selamat bercumbu dalam rimbah dominasi kapitalis “suci”.