Kampung Indonesia Sebagai Identitas

Facebook
RSS

Kita Sebagai Warga Dramaturgi (2)

-
Arung Shad S


Tidak jarang terjadi, dalam kolektivisme, benturan ide-ide sampai konfrontasi hati antara sesama kita, dan sedikit mengancam ke-kita-an, namun, kesatuan sikap dan cita-cita bersama sekiranya dapat memulihkan emberio keretakan itu.

Malah, sebuah mekanisme kelompok telah kita canangkan untuk bagaimana persoalan geografis tidak ikut menipiskan aroma kekelurgaan dan sliaturrahim kita. Mekanisme itu tidak lain, adalah ajang/forum rutin dialektika ide dan gagasan masing-masing individu, baek formal ato non formal.

Mekanisme yang kemudian terbangun, setidaknya, mampu mampu meredam dan meminimalisir keretakan internal kolektivisme. Tapi, segera pertanyaan berseliuran dalam benak kita samua akan keluar; bagaimana dengan dunia luar, dunia yang dikuasai dengan para elite kekuasaan? Dunia yang dibangun dengan pondasi propoganda media?

Bagimana sikap kelompok ini dengan bangunan realitas oleh media yang jelas tidak merepresentasikan sebuah realitas sosial sesungguhnya? Di sinilah kita menemukan istilah masyarakat dramaturgi. Masyarakat dramaturgi yang coba diketengahkan kepada kita adalah sebuah konstruksi/sebuah perekayaan sosial oleh para petinggi, oleh para penguasa media dan seterusnya.

Ato pertanyaan yang tidak kalah menohok, apakah kita termasuk kelompok dramaturgi?
Walau sang pencetus teori ini, Erving Goffman, mencoba menelisik lebih jauh terhadap fenomena interaksi sosial antar individu dalam masyarakat, saya sendiri mencoba memakainya melihat masyarakat lebih luas.

Selanjutnya, menurut Goffman, dua bidang penampilan/wajah perlu dibedakan: panggung depan dan panggung belakang. Panggung depan adalah bagian penampilan individu yang secara teratur berfungi di dalam mode yang umum dan tetap untuk mendefenisikan situasi bagi mereka yang menyaksikan penampilan itu (Goffman : 1959 : 22). Pada penampilan/wajah depan ini, sang aktor akan memberikan wajah yang ideal yang diharapkan oleh orang-orang yang menykasikan aksinya. Dan sebaliknya, berbalik seratus delapan puluh drajat, ketika kita melihat penampilan/wajah itu dibelakang panggung.

Terinpirasi dengan teori diatas, saya coba mengatakan bahwa tatanan masyarakat kita mempunyai dua sisi wajah; pertama, yang dibangun oleh para penguasa elite dengan media-medianya. Kedua, wajah masyarakat yang merepresentasikan realitas sosial sesungguhnya tanpa manipulasi.

Wajah pertama, akan memotret sebuah masyarakat lewat angka-angka statistik: bahwa masyarakat kita cukup makan, mereka sampai sekarang tercukupi kebutuhan sehari-harinya, bahwa mereka sekarang menuju kesejahteraan bersama, penggangguran menurun dan seterusnya. Semua wajah masyarakat dalam potret ini memperlihatkan mimpi-mimpi indah yang seolah-olah telah teraktualisasi/terimplementasi pada ranah praksis sosial.           

Sebaliknya wajah belakang panggung, akan terpotret; suara-suara yang terbungkam oleh sistem selama ini, atopun suara mereka tidak terdengar karena memang tidak mempunyai akses media. Seribu satu macam hal ihwal, kenapa potret wajah kedua ini tidak terungkap ke permukaan. Mereka diasingkan di tanah luhur mereka, bahkan kekeyaan alam bangsa ini pun, tidak layak mereka nikmati. Sebagai buah demokrasi prosedural lewat perwakilan rakyat : maka semua mereka telah terwakili, pun di wilayah menikmati sumber-sumber kekayaan alam.

Akhirnya, kembali ke masalah ke-kita-an, apakah kelompok organik ini juga bagian dari dari masyarakat dramaturgi; mempunyai wajah depan dan belakang? Ato kelompok ini meng-amini tatanan masyarakat tersebut dengan tinggal diam? Pun, kalau lewat mulut ngopi kita terus berteriak tidak termasuk dalam masyarakat dramaturgi, menantang secara tegas bangunan itu, lalu apa yang coba kita perbuat sebaga gerakan resistensi?