Tidak jarang terjadi, dalam kolektivisme, benturan
ide-ide sampai konfrontasi hati antara sesama kita, dan sedikit mengancam
ke-kita-an, namun, kesatuan sikap dan cita-cita bersama sekiranya dapat
memulihkan emberio keretakan itu.
Malah, sebuah mekanisme kelompok telah kita canangkan
untuk bagaimana persoalan geografis tidak ikut menipiskan aroma kekelurgaan dan
sliaturrahim kita. Mekanisme itu tidak lain, adalah ajang/forum rutin dialektika
ide dan gagasan masing-masing individu, baek formal ato non formal.
Mekanisme yang kemudian terbangun, setidaknya, mampu
mampu meredam dan meminimalisir keretakan internal kolektivisme. Tapi, segera
pertanyaan berseliuran dalam benak kita samua akan keluar; bagaimana dengan
dunia luar, dunia yang dikuasai dengan para elite kekuasaan? Dunia yang
dibangun dengan pondasi propoganda media?
Bagimana sikap kelompok ini dengan bangunan realitas oleh
media yang jelas tidak merepresentasikan sebuah realitas sosial sesungguhnya?
Di sinilah kita menemukan istilah masyarakat dramaturgi.
Masyarakat dramaturgi yang coba diketengahkan kepada kita adalah sebuah
konstruksi/sebuah perekayaan sosial oleh para petinggi, oleh para penguasa
media dan seterusnya.
Ato pertanyaan yang tidak kalah menohok, apakah kita
termasuk kelompok dramaturgi?
Walau sang pencetus teori ini, Erving Goffman, mencoba
menelisik lebih jauh terhadap fenomena interaksi sosial antar individu dalam
masyarakat, saya sendiri mencoba memakainya melihat masyarakat lebih luas.
Selanjutnya, menurut Goffman, dua bidang penampilan/wajah
perlu dibedakan: panggung depan dan panggung belakang. Panggung depan adalah
bagian penampilan individu yang secara teratur berfungi di dalam mode yang umum
dan tetap untuk mendefenisikan situasi bagi mereka yang menyaksikan penampilan
itu (Goffman : 1959 : 22). Pada penampilan/wajah depan ini, sang aktor akan memberikan
wajah yang ideal yang diharapkan oleh orang-orang yang menykasikan aksinya. Dan
sebaliknya, berbalik seratus delapan puluh drajat, ketika kita melihat
penampilan/wajah itu dibelakang panggung.
Terinpirasi dengan teori diatas, saya coba mengatakan
bahwa tatanan masyarakat kita mempunyai dua sisi wajah; pertama, yang dibangun
oleh para penguasa elite dengan media-medianya. Kedua, wajah masyarakat yang
merepresentasikan realitas sosial sesungguhnya tanpa manipulasi.
Wajah pertama, akan memotret sebuah masyarakat lewat
angka-angka statistik: bahwa masyarakat kita cukup makan, mereka sampai
sekarang tercukupi kebutuhan sehari-harinya, bahwa mereka sekarang menuju
kesejahteraan bersama, penggangguran menurun dan seterusnya. Semua wajah
masyarakat dalam potret ini memperlihatkan mimpi-mimpi indah yang seolah-olah telah teraktualisasi/terimplementasi
pada ranah praksis sosial.
Sebaliknya wajah belakang panggung, akan terpotret; suara-suara
yang terbungkam oleh sistem selama ini, atopun suara mereka tidak terdengar
karena memang tidak mempunyai akses media. Seribu satu macam hal ihwal, kenapa
potret wajah kedua ini tidak terungkap ke permukaan. Mereka diasingkan di tanah
luhur mereka, bahkan kekeyaan alam bangsa ini pun, tidak layak mereka nikmati. Sebagai buah demokrasi prosedural lewat perwakilan rakyat
: maka semua mereka telah terwakili, pun di wilayah menikmati
sumber-sumber kekayaan alam.
Akhirnya, kembali ke masalah ke-kita-an, apakah kelompok
organik ini juga bagian dari dari masyarakat dramaturgi; mempunyai wajah depan
dan belakang? Ato kelompok ini meng-amini tatanan masyarakat tersebut dengan
tinggal diam? Pun, kalau lewat mulut ngopi kita terus berteriak tidak
termasuk dalam masyarakat dramaturgi, menantang secara tegas bangunan itu, lalu
apa yang coba kita perbuat sebaga gerakan resistensi?


