Kampung Indonesia Sebagai Identitas

Facebook
RSS

Perjuangan Gie : Realitas Aktivis Kini (1)

-
Arung Shad S


Bagian satu

Soe Hoek Gie  
Ada yang lain. sesusatu hal berbeda, terasa oleh saya ketika selesai menyaksikan film Gie, Catatan Seorang Demonstran. tidak seperti sebelumnya, saya, dan mungkin banyak kalangan, mengalami "perasaan konvensional" pasca nonton film; mengagumi sang aktor,kadang sampai batas nirwana. bagitu pula sebaliknya, mencemooh sang aktor, di luar batas kemanusiaan (walau mungkin kemanusiaan sejarahis dan imajinatif ) jika filmnya tidak menarik.

ungkapan serampanga bernada ejekan, akan terus mengalir dari mulut para penonton, ketika,sebuah kesimpulan ada pada masing-masing kita;tidak realistis,tidak memberikan sebuah inspirasi,dan seterusnya. adapun sang aktor,tentu dapat dugem mentah caci maki penonton. Telah banyak memang kawan-kawan aktivis himpunan yang menonton sosok Nicholas sebagai personifikasi seorang demonstran tahun 50-an sampai akhir 60-an yaitu So Hok Gie. dan, pandangan serta komentar mereka sangat beragam. penilaian berbeda, sebuah representasi perbedaan kapabilitasnya (semoga hal ini tidak dikatakan sangat deterministic). Reklesi Gie, pun membawa kita ke lorong kontemplasi, sejauh mana arah gerak aktivis itu, memahami jalan yang telah dia tempuh dalam proses perjalanan sejarah keaktivisannya?.

Ada yang mengatakan, karena ini adalah catatan Diary Seorang Gie, maka, subjektifitas sangatlah tinggi. subjektivitas seoarang Gie dalam membaca realitas sosial, budaya dan tentunya realitas politik atau bahkan konspirasi politik. Hal demikian, terlihat, kamus diri gie bahwa organisasi itu jelek, politik tai kucing, terus dipegangnya sampai akhir hayat.bersama teman karib dan lingkungan kecilnya, dia melakukan perlawanan. dan, keluar sebagai pemenang,ketika, herman lantang ( seorang sahabat karib gie yang kemudian didorong oleh gie untuk mencalonkan diri sebagai ketua senat mahasiswa, dan memang herman lantang menjadi ketua senat yang kemudian menjadi wadah perjuangan oleh gie dan kawan-kawan untuk berkreasi, nyanyi, naik gunung dan tentunya sekali-kali menentang kebijakan pemerintah yang menindas .

Di pangkuan herman lantang pulalah gie menghembuskan nafas terkhirnya dengan kesaksian puncak semeru “mahameru”, bulan desember tahun 1969 ).

Sekali lagi ini bukan dimaksudkan sebagi komentar/ringkasan pasca nonton gie. tapi lebih pada hentakan,penggelitikan. pribadi saya yang tergelitik, betapa sejarah gerakan mahasiswa, sering kali terulang.
hentakan, ketergelitikan itu mewujud pada sebuah kenangan. ingatan pada teman kecil (sampai gede masih sering komunikasi, walaupun sangat berbeda nasib. Teman yang mengambil serta memegang kendali kekuasaan mahasiswa disalah satu universitas "bergengsi" Indonesia. pemegang kekuasaan, yang lebih kita kenal dalam dunia kampus dan masyarkat kampus sebagai president mahasiswa.

Ada hal yang sangat menarik bagi penulis melihat dua relatis ini: pertama, realitas imajinatif gie (imajinatif karena masa lalu). kedua realitas empiris, temanku (masa kini ). adanya kesamaan antar dua relaitas dan dua zaman berbeda; menguasai wadah politik yang ada dikampus tanpa latar belakang bendera organisasi mahasiswa manapun.

sosok figur, memang signifikan, dan tidak bisa dinafikan dalam pola strategi mengambil kekuasaan. namun analisis saya mencoba keluar dan ingin melihat dari sisi yang berbeda.
Ada yang lebih urgen untuk kita wacanakan dalam forum-forum aktivis terkait masalah kampus. ada indikasi kuat, masyarakat kampus sumpek, bahkan muak dengan realitas permukaan yang mereka lihat, kawan-kawan pergerakan, yang mengatas namakan/bergabung dalam sebuah organisasi sebagai wadah perjuangan "ide".
Ketika mereka di permukaan (dan mungkin tanpa analisis yang panjang) melihat bahwa ternyata, bergerak dengan membawa suara golongan tertentu, bendera tertentu, tentunya membawa kepentingan golongan atau benderanya, justru tidak mencerminkan masyarakat akademis, bahkan mencederai alam demokrasi

Ya, mencederai alam demokrasi, ketika kawan-kawan pergerakan, saling adu kekuatan dengan fisik, baku tonjok, baku hantam, sebagai ekses adu konsep dan ide sebelumnya yang tidak mendapatkan titik kesamaan. Fenomena demikian sangat nampak pada realitas imajinatif serta realitas empiris. jangan salahkan, jika kemudian banyak selentingan negative pada kawan- kawan aktivis; aktivis adalah sosok wacanais an sich, ngomong banyak tanpa realisasi atau implementasi konkret. seorang aktivis adalah sosok yang pada tiap waktunya ber”onani wacana”.
Anehnya, dan sangat naïf, bahkan ironi memang. tidak sedikit kalangan, yang seolah aktivis sadar atau tidak mengamini selentingan-selentingan negative diatas. Aneh karena individu/kelompok yang paham serta melek realitas, tidak mampu berbuat banyak. individu/kelompok yang mengatas namakan dirinya kaum intelektula. meminjam bahasa Antonio gramsci sebagai intelektual organic, kalah dalam praksis-praksis sosial.