Bagian satu
![]() |
| Soe Hoek Gie |
ungkapan
serampanga bernada ejekan, akan terus mengalir dari mulut para penonton, ketika,sebuah
kesimpulan ada pada masing-masing kita;tidak realistis,tidak memberikan sebuah
inspirasi,dan seterusnya. adapun sang aktor,tentu dapat dugem mentah caci maki
penonton. Telah banyak memang kawan-kawan aktivis himpunan yang menonton sosok
Nicholas sebagai personifikasi seorang demonstran tahun 50-an sampai akhir
60-an yaitu So Hok Gie. dan, pandangan serta komentar mereka sangat beragam.
penilaian berbeda, sebuah representasi perbedaan kapabilitasnya (semoga hal ini
tidak dikatakan sangat deterministic). Reklesi
Gie, pun membawa kita ke lorong kontemplasi, sejauh mana arah gerak aktivis
itu, memahami jalan yang telah dia tempuh dalam proses perjalanan sejarah
keaktivisannya?.
Ada
yang mengatakan, karena ini adalah catatan Diary Seorang Gie, maka, subjektifitas
sangatlah tinggi. subjektivitas seoarang Gie dalam membaca realitas sosial,
budaya dan tentunya realitas politik atau bahkan konspirasi politik. Hal
demikian, terlihat, kamus diri gie bahwa organisasi itu jelek, politik tai
kucing, terus dipegangnya sampai akhir hayat.bersama teman karib dan lingkungan
kecilnya, dia melakukan perlawanan. dan, keluar sebagai pemenang,ketika, herman
lantang ( seorang sahabat karib gie yang kemudian didorong oleh gie untuk
mencalonkan diri sebagai ketua senat mahasiswa, dan memang herman lantang
menjadi ketua senat yang kemudian menjadi wadah perjuangan oleh gie dan
kawan-kawan untuk berkreasi, nyanyi, naik gunung dan tentunya sekali-kali
menentang kebijakan pemerintah yang menindas .
Di
pangkuan herman lantang pulalah gie menghembuskan nafas terkhirnya dengan
kesaksian puncak semeru “mahameru”, bulan desember tahun 1969 ).
Sekali
lagi ini bukan dimaksudkan sebagi komentar/ringkasan pasca nonton gie. tapi
lebih pada hentakan,penggelitikan. pribadi saya yang tergelitik, betapa sejarah
gerakan mahasiswa, sering kali terulang.
hentakan,
ketergelitikan itu mewujud pada sebuah kenangan. ingatan pada teman kecil
(sampai gede masih sering komunikasi, walaupun sangat berbeda nasib. Teman yang
mengambil serta memegang kendali kekuasaan mahasiswa disalah satu universitas
"bergengsi" Indonesia. pemegang kekuasaan, yang lebih kita kenal
dalam dunia kampus dan masyarkat kampus sebagai president mahasiswa.
Ada
hal yang sangat menarik bagi penulis melihat dua relatis ini: pertama, realitas
imajinatif gie (imajinatif karena masa lalu). kedua realitas empiris, temanku
(masa kini ). adanya kesamaan antar dua relaitas dan dua zaman berbeda;
menguasai wadah politik yang ada dikampus tanpa latar belakang bendera
organisasi mahasiswa manapun.
sosok
figur, memang signifikan, dan tidak bisa dinafikan dalam pola strategi
mengambil kekuasaan. namun analisis saya mencoba keluar dan ingin melihat dari
sisi yang berbeda.
Ada
yang lebih urgen untuk kita wacanakan dalam forum-forum aktivis terkait masalah
kampus. ada indikasi kuat, masyarakat kampus sumpek, bahkan muak dengan
realitas permukaan yang mereka lihat, kawan-kawan pergerakan, yang mengatas
namakan/bergabung dalam sebuah organisasi sebagai wadah perjuangan
"ide".
Ketika
mereka di permukaan (dan mungkin tanpa analisis yang panjang) melihat bahwa
ternyata, bergerak dengan membawa suara golongan tertentu, bendera tertentu,
tentunya membawa kepentingan golongan atau benderanya, justru tidak
mencerminkan masyarakat akademis, bahkan mencederai alam demokrasi
Ya,
mencederai alam demokrasi, ketika kawan-kawan pergerakan, saling adu kekuatan
dengan fisik, baku tonjok, baku hantam, sebagai ekses adu konsep dan ide
sebelumnya yang tidak mendapatkan titik kesamaan. Fenomena demikian sangat
nampak pada realitas imajinatif serta realitas empiris. jangan salahkan, jika
kemudian banyak selentingan negative pada kawan- kawan aktivis; aktivis adalah
sosok wacanais an sich, ngomong banyak tanpa realisasi atau implementasi
konkret. seorang aktivis adalah sosok yang pada tiap waktunya ber”onani
wacana”.
Anehnya,
dan sangat naïf, bahkan ironi memang. tidak sedikit kalangan, yang seolah
aktivis sadar atau tidak mengamini selentingan-selentingan negative diatas.
Aneh karena individu/kelompok yang paham serta melek realitas, tidak mampu
berbuat banyak. individu/kelompok yang mengatas namakan dirinya kaum
intelektula. meminjam bahasa Antonio gramsci sebagai intelektual organic, kalah
dalam praksis-praksis sosial.


