Dalam
konteks kekinian, bertebaran sekelumit pertanyaan tentang peran dan fungsi
pemuda. Sebagai kalangan yang tidak terpisahkan dalam perjalanan sejarah suatu
bangsa, pemuda yang diharapkan dan idealnya mengawal sebuah perubahan menuju
arah gerak bangsa menggapai cita. kedaulatan, kemerdekaan sehingga melahirkan
keadilan serta kesejahteraan untuk rakyat/ khalayak. Wajar, hampir seluruh
persoalan bangsa tidak bisa dilepaskan dari gerakan-gerakan pemuda. kreatif
minority yang sering menjadi "tumbal" dari kesewangan rezim despotis
karena berjuang, ataupun ikut andil besar dalam memperjuangkan hak-hak rakyat.
Pemenuhan hak-hak rakyat oleh pemerintah yang masih sebatas mimpi diharapkan
mampu teralisasi ditangan-tangan kelompok kecil ini.
Namun,
dalam perjalanan sepak terjang pemuda, ideologi hedonisme menghegemoni seluruh
lapisan masyarakat. Dan virus itu langsung ke jantung para pembaharu ini.
sehingga banyak kalangan menilai bahwa pemuda jaman edan ini, ikut terbawa arus
ke-edanan jaman hedonisme yang materialistik. mereka menjadi kaum-kaum borjois
kecil, kelas menengah yang mengambil posisi "perantara" kaum proletar
dan para kalangan elit, yang banyak mengambil keuntungan pribadi.
Tidak
sedikit pemuda diharapkan menjadi penghubung sinergisitas antara dua kelompok
besar ini justru justru berjatuhan di medan juang suci dan kemudian memainkan
peran-peran picik dengan buaian hedonisme; sebuah kesenangan sesaat bersifat
materialistic. ujung-ujungnya, mereka melupakan peran dan fungsi sebagai
pengubah arah gerak sejarah. metaforfosis dari perwakilan orang-orang yang
selama ini dibungkam oleh kekuasaan negara menjadi kaki tangan kelompok elit
kapitalis, membuat mereka lumpuh. gerakan-gerakan yang dimainkan, berubah arah
geraknya: dari pembela rakyat menjadi pemburuh kehidupan yang menjajikan hidup
mewah, bergelimang harta tahta dan perempuan untuk dicumbu dan dinikmati.
Pemuda
kemudian mengidap penyakit baru, yaitu "amnesia" terhadap derita
khalayak. alih-alih tetap mengambil posisi siaga dan curiga kepada lawan abadi
"kelompok status qua", tidak sedikit dari mereka,justru berteman dan
secara berjamaah membodohi rakyaat. dan, di pojok sejarah, kita melihat,
perslingkuhan pemuda-pengusa membuat rakyat tidak lain sebagai komoditas
politik semata.
Walaupun
dimasa lalu, pemuda punya peran sangat signifikan dalam perwujudan keadilan dan
kesejahteraan masyarakat, sebagai agen gerakan moral, agen terhadap
control-kontrol social, tidak berarti bahwa hal demikian menjamin keutuhan
gerakan di jaman sekarang.
Bahkan
banyak opni yang berkembang, menggambarkan pemuda hari ini: menjadi obyek-obyek
gerakan moral karena sudah bermetaforfisis menjadi agen-agen agama baru
“hedonisme” yang berimplikasi buruk pada generasi selanjutnya. Seorang nur
kholis madjid pernah menegaskan hal demikian, bahwa “pemuda/mahasiswa simpang
jalan ini, tidak lagi menjadi penggerak serta pengawal moralitas bangsa, namun
menjadi obyek dari gerakan moral itu sendiri”.
Akhirnya,
entah karena kesadaran kita yang telah menurun jauh;kesadaran peran vital, sejarah,
dll. Atau memang, ombak-ombak hedonisme telah “mampu” menutup mata pemuda untuk
melek realits hari ini. Sejarah pergerakan pemuda-pemuda Indonesia yang mampu
menunjukkan pada dunia bagaimana mengubah sejarh, mengukir nama dengan harum
lewat perjuangan terhadap pembelaan kaum-kaum mustadhifin, dan akhirnya tetap
komit tidak lagi memberi inspirasi untuk bangkit.
Artinya
aspek histories dalam tubuh pemuda tidak lagi menyadarkan pemuda akan peran dan
fungsinya secara maksimal dan penuh tanggung jawab. gerakan mereka kemudian
dibingkai dalam bingkisan "in memoriam" dan "romantisme"
yang tersimpan dalam "mesium memori" masing-masing.


