Kampung Indonesia Sebagai Identitas

Facebook
RSS

Bercermin Di Ruang Absurditas

-
Arung Shad S

Dalam konteks kekinian, bertebaran sekelumit pertanyaan tentang peran dan fungsi pemuda. Sebagai kalangan yang tidak terpisahkan dalam perjalanan sejarah suatu bangsa, pemuda yang diharapkan dan idealnya mengawal sebuah perubahan menuju arah gerak bangsa menggapai cita. kedaulatan, kemerdekaan sehingga melahirkan keadilan serta kesejahteraan untuk rakyat/ khalayak. Wajar, hampir seluruh persoalan bangsa tidak bisa dilepaskan dari gerakan-gerakan pemuda. kreatif minority yang sering menjadi "tumbal" dari kesewangan rezim despotis karena berjuang, ataupun ikut andil besar dalam memperjuangkan hak-hak rakyat. Pemenuhan hak-hak rakyat oleh pemerintah yang masih sebatas mimpi diharapkan mampu teralisasi ditangan-tangan kelompok kecil ini.

Namun, dalam perjalanan sepak terjang pemuda, ideologi hedonisme menghegemoni seluruh lapisan masyarakat. Dan virus itu langsung ke jantung para pembaharu ini. sehingga banyak kalangan menilai bahwa pemuda jaman edan ini, ikut terbawa arus ke-edanan jaman hedonisme yang materialistik. mereka menjadi kaum-kaum borjois kecil, kelas menengah yang mengambil posisi "perantara" kaum proletar dan para kalangan elit, yang banyak mengambil keuntungan pribadi.

Tidak sedikit pemuda diharapkan menjadi penghubung sinergisitas antara dua kelompok besar ini justru justru berjatuhan di medan juang suci dan kemudian memainkan peran-peran picik dengan buaian hedonisme; sebuah kesenangan sesaat bersifat materialistic. ujung-ujungnya, mereka melupakan peran dan fungsi sebagai pengubah arah gerak sejarah. metaforfosis dari perwakilan orang-orang yang selama ini dibungkam oleh kekuasaan negara menjadi kaki tangan kelompok elit kapitalis, membuat mereka lumpuh. gerakan-gerakan yang dimainkan, berubah arah geraknya: dari pembela rakyat menjadi pemburuh kehidupan yang menjajikan hidup mewah, bergelimang harta tahta dan perempuan untuk dicumbu dan dinikmati.

Pemuda kemudian mengidap penyakit baru, yaitu "amnesia" terhadap derita khalayak. alih-alih tetap mengambil posisi siaga dan curiga kepada lawan abadi "kelompok status qua", tidak sedikit dari mereka,justru berteman dan secara berjamaah membodohi rakyaat. dan, di pojok sejarah, kita melihat, perslingkuhan pemuda-pengusa membuat rakyat tidak lain sebagai komoditas politik semata.

Walaupun dimasa lalu, pemuda punya peran sangat signifikan dalam perwujudan keadilan dan kesejahteraan masyarakat, sebagai agen gerakan moral, agen terhadap control-kontrol social, tidak berarti bahwa hal demikian menjamin keutuhan gerakan di jaman sekarang.
Bahkan banyak opni yang berkembang, menggambarkan pemuda hari ini: menjadi obyek-obyek gerakan moral karena sudah bermetaforfisis menjadi agen-agen agama baru “hedonisme” yang berimplikasi buruk pada generasi selanjutnya. Seorang nur kholis madjid pernah menegaskan hal demikian, bahwa “pemuda/mahasiswa simpang jalan ini, tidak lagi menjadi penggerak serta pengawal moralitas bangsa, namun menjadi obyek dari gerakan moral itu sendiri”.

Akhirnya, entah karena kesadaran kita yang telah menurun jauh;kesadaran peran vital, sejarah, dll. Atau memang, ombak-ombak hedonisme telah “mampu” menutup mata pemuda untuk melek realits hari ini. Sejarah pergerakan pemuda-pemuda Indonesia yang mampu menunjukkan pada dunia bagaimana mengubah sejarh, mengukir nama dengan harum lewat perjuangan terhadap pembelaan kaum-kaum mustadhifin, dan akhirnya tetap komit tidak lagi memberi inspirasi untuk bangkit.

Artinya aspek histories dalam tubuh pemuda tidak lagi menyadarkan pemuda akan peran dan fungsinya secara maksimal dan penuh tanggung jawab. gerakan mereka kemudian dibingkai dalam bingkisan "in memoriam" dan "romantisme" yang tersimpan dalam "mesium memori" masing-masing.