Kampung Indonesia Sebagai Identitas

Facebook
RSS

Dramaturgi Kerakyatan

-
Arung Shad S


Dalam suatu forum kecil bersama teman-teman di Kota Malang, forum Rumah Baca Cerdas Malik Fajar, kita mengundang pengamat politik muda yang cerdas dan humoris, Bang Alfan Alfian, dia banyak mengemukakan perlihal belakang layar para politikus yang tidak termuat oleh media.

Ya, permainan dramturgi akan selalu menarik untuk diungkap dan dibincangkan. Bahwa polarisasi wajah belakang layar dan depan layar (baca, ruang publik dan ruang privat) politikus, semua orang tahu. Tapi gambaran detilnya hanya kalangan tertentu yang paham dan mungkin “beruntung” bisa membaca konstalasi lebih komprehensip.

Diskusi lepas tentang partai yang sedang bertarung dalam perebutan kekuasaan legislatif dan exekutif, tidak terelakkan. Adapun tentang valid dan tidaknya, diserahkan kepada audiens—namanya juga berita di balik berita. Percaya dan tidak sangat bergantung pada keyakinan masing-masing (baca, kritisme individu).

Nah, walaupun pada waktu itu saya banyak diam, tapi mampu mendapatkan sedikit gambaran tentang politik kita di Indonesia; tentang bayangan politik kultur/budaya terus mengiringi perjalanan politik Indonesia. Dan, sampai sekarang menjadi budaya/kultur politik. Sebuah momok untuk bangunan demokrasi masa depan Indonesia

Sehingga tidak aneh (bahkan, suatu keharusan dalam kalkulasi politikus elit) golongan-golongan budaya besar di negeri ini mau tidak mau harus terwakili dalam format capres-cawapres serta susunan kabinet jika telah terpilih. Sistem politik kita masih berwajah lama, tidak ada perubahan berarti; para pemimpin nusantara yang kaya ini, dengan landasan politik budaya tidak bisa lepas dari militer-sipil, jawa-non jawa dan seterusnya yang sekiranya di pandang mewakili suku etnis agama kepercayaan di nusantara.

Terlepas apakah kelak mampu menggaransi kesejahteraan rakyat, hal itu nomor kesekian dalam kalkulasi/prioritas para politikus. sedari jauh hari, Bung Hatta, bapak bangsa dan proklamator mengingatkan partai-partai yang bersaing pada pemilu pertama tahun 1955 untuk mengedepankan politik kesejahteraan. yang, sampai sekarang masih sangat jauh dari harapan. Pun inti dari demokrasi kita; dari rakyat, untuk rakyat, dan bersama rakyat (vox populis vox dei), tereduksi dalam kalimat “bersama kita bisa”.


Kita bisa apa? Terpuruk bersama-sama?
Kalimat bersama kita bisa seolah menina bobokkan kita sebagai bangsa yang mempunyai cita kesejahteraan.

Bukankah demokrasi sangat berkaitan erat dengan sumber daya manusia? namun hal ini sering terabaikan dalam ranah politik kita. Sehingga janji-janji politik hanya janji/espektasi masyarakat ketika kampanye tanpa realisasi konkret di lapangan.

Hari ini, kita harus berani berkata dan mengambil sebuah ijtihad politik; bahwa siapapun yang akan terpilih nanti dalam pemilu juli 2009 harus rela melepaskan baju budaya etnis, baju partai dan menjadi negarawan sesungguhnya.