Dalam
bukunya, Protestan Ethic And Spirit
Capitalism, seorang tokoh sosiolog, Marx Weber, menggambarkan bahwa
sebenarnya capital tidak berhubungan sama sekali dengan sebuah penghisapan manusia
terhadap manusia. Kapital lebih pada bagaimana manusia yang ada di rumah tempat
kita berpijak mencari keuntungan dalam hidupnya. Sehingga wacana capital (mencari
keuntungan) adalah sangat naluriah,
dengan catatan belum menjadi sebuah ideologi keserakahan.
Dalam
konteks Indonesia, capitalism
sebenarnya mencuat serta, menggerogoti bangsa ini pada era Orde Baru. Wajah
pembangunanisme dengan teori yang lebih terkenal dengan lima tahapan teori
pembangunan ala Rustow, Orde Baru mampu menanamkan ideologi kapialisme dalam
tubuh Indonesia. Menurut Rustow, perkembangan ekonomi suatu masyarakat meliputi
lima tahapan perkembangan : tahap masyarakat Tradisional, tahap pra kondisi pra
tinggal landas, tahap tinggal landas, tahap kematangan, dan tahap konsumsi
tingkat tinggi.
Tidak
mengherankan kemudian jika pada era despotisme pemerintah soeharto kita atau
rakyat sering diperdengarkan dengan posisi Indonesia yang, katanya pada
perkembangan tahap yang keempat dari teori Rustow di atas, yaitu tahapan
tinggal landas.
Salah
satu wajah kapitalisme yang sering muncul adalah topeng modernisasi. Melalui pendekatan
modernisasi para kapitalis global mempunyai pintu dan memasuki kepentingan
rakyat yang beralih fungsi menjadi kepentingan mereka—walaupun dengan tetap
memakai suara rakyat dunia ketiga. Modernisme : serangkaian kepercayaan, nilai,
dan pola-pola sosial rasional yang menekankan penguasaan manusia atas
lingkungannya demi keberlangsungan ekonomi dan teknologi.
Kita
percaya modernisasi yang ditawarkan Negara-negara maju untuk Dunia Ketiga
berawal dan murni untuk kepentingan rakyat?
Sangat
diragukan bahwa teori modernisasi oleh Negara maju yang diterapkan di dunia
ketiga berangkat dari “Nawaitu kemanusiaan” : bahwa toeri ini diterapkan karena
berawal dari keprihatinan warga-warga dunia maju melihat realitas rakyat dunia
ketiga, yang menurut laporan atau pandangan Negara maju masih di bawah standar
layak hidup
Melihat
realitas serta dampak dari modernisasi Indonesia, Negara yang selama kurang
lebih tiga puluh tahun mengadopsi teori ini akhirnya sangat berakibat fatal :
Indonesia di ambang kehancuran sebagai Negara bangsa, mengalami krisis multidimensi.
Realitas buruk akibat penerapan teori modernisasi justru berindikasi
kepentingan Negara-nagara maju secara kelembagaan dan tentunya kepentingan para
kapaitalis global secara korporasi. Teori modenisasi tidak lebih dari sebuah ekploitasi,
intervensi. Meminjam bahasa Muhammad Jumhur Hidayat, rekolonisasi Negara maju
terhadap Negara dunia ketiga.
Modernisasi
tidak berpihak rakyat miskin. Bahkan mesin penindasan, ekploitasi terhadap
rakyat Negara ketiga. Koran kompas pada akhir tahun 2005 memberitakan : dibalik
kebijakan neoliberalisme yang mencabut subsidi kepada petani-petani di dunia
ketiga, Kanada sebagai Negara maju justru memberikan subsidi kepada rakyatnya
serta memberikan ruang seluas-luasnya untuk memudahkan mereka berproduksi massal
untuk kepentingan impor ke nagara-negara berkembang.
Sebuah
wajah modernisasi yang terkuak ke permukaan. Masih kah Indonesia mempraktekkan
teori modernisasi? Dibutuhkan pemimpin nasionalis yang berani dan kharismatik untuk
mengatakan tidak pada teori “impor” modernisasi.


