Kampung Indonesia Sebagai Identitas

Facebook
RSS

Ideologi Alternatif : Mengenal Wajah Kapitalisme (2)

-
Arung Shad S


Dalam bukunya, Protestan Ethic And Spirit Capitalism, seorang tokoh sosiolog, Marx Weber, menggambarkan bahwa sebenarnya capital tidak berhubungan sama sekali dengan sebuah penghisapan manusia terhadap manusia. Kapital lebih pada bagaimana manusia yang ada di rumah tempat kita berpijak mencari keuntungan dalam hidupnya. Sehingga wacana capital (mencari keuntungan) adalah  sangat naluriah, dengan catatan belum menjadi sebuah ideologi keserakahan.

Dalam konteks Indonesia, capitalism sebenarnya mencuat serta, menggerogoti bangsa ini pada era Orde Baru. Wajah pembangunanisme dengan teori yang lebih terkenal dengan lima tahapan teori pembangunan ala Rustow, Orde Baru mampu menanamkan ideologi kapialisme dalam tubuh Indonesia. Menurut Rustow, perkembangan ekonomi suatu masyarakat meliputi lima tahapan perkembangan : tahap masyarakat Tradisional, tahap pra kondisi pra tinggal landas, tahap tinggal landas, tahap kematangan, dan tahap konsumsi tingkat tinggi.

Tidak mengherankan kemudian jika pada era despotisme pemerintah soeharto kita atau rakyat sering diperdengarkan dengan posisi Indonesia yang, katanya pada perkembangan tahap yang keempat dari teori Rustow di atas, yaitu tahapan tinggal landas.

Salah satu wajah kapitalisme yang sering muncul adalah topeng modernisasi. Melalui pendekatan modernisasi para kapitalis global mempunyai pintu dan memasuki kepentingan rakyat yang beralih fungsi menjadi kepentingan mereka—walaupun dengan tetap memakai suara rakyat dunia ketiga. Modernisme : serangkaian kepercayaan, nilai, dan pola-pola sosial rasional yang menekankan penguasaan manusia atas lingkungannya demi keberlangsungan ekonomi dan teknologi.

Kita percaya modernisasi yang ditawarkan Negara-negara maju untuk Dunia Ketiga berawal dan murni untuk kepentingan rakyat?

Sangat diragukan bahwa teori modernisasi oleh Negara maju yang diterapkan di dunia ketiga berangkat dari “Nawaitu kemanusiaan” : bahwa toeri ini diterapkan karena berawal dari keprihatinan warga-warga dunia maju melihat realitas rakyat dunia ketiga, yang menurut laporan atau pandangan Negara maju masih di bawah standar layak hidup

Melihat realitas serta dampak dari modernisasi Indonesia, Negara yang selama kurang lebih tiga puluh tahun mengadopsi teori ini akhirnya sangat berakibat fatal : Indonesia di ambang kehancuran sebagai Negara bangsa, mengalami krisis multidimensi. Realitas buruk akibat penerapan teori modernisasi justru berindikasi kepentingan Negara-nagara maju secara kelembagaan dan tentunya kepentingan para kapaitalis global secara korporasi. Teori  modenisasi tidak lebih dari sebuah ekploitasi, intervensi. Meminjam bahasa Muhammad Jumhur Hidayat, rekolonisasi Negara maju terhadap Negara dunia ketiga.

Modernisasi tidak berpihak rakyat miskin. Bahkan mesin penindasan, ekploitasi terhadap rakyat Negara ketiga. Koran kompas pada akhir tahun 2005 memberitakan : dibalik kebijakan neoliberalisme yang mencabut subsidi kepada petani-petani di dunia ketiga, Kanada sebagai Negara maju justru memberikan subsidi kepada rakyatnya serta memberikan ruang seluas-luasnya untuk memudahkan mereka berproduksi massal untuk kepentingan impor ke nagara-negara berkembang.

Sebuah wajah modernisasi yang terkuak ke permukaan. Masih kah Indonesia mempraktekkan teori modernisasi? Dibutuhkan pemimpin nasionalis yang berani dan kharismatik untuk mengatakan tidak pada teori “impor” modernisasi.