Segaimana
persoalan-persoal regulasi yang dihadapi Indonesia sampai detik ini sebagai
Negara bangsa kepulauan, wacana dan gerakan hospitalianisme sedikit banyak akan
mengalami hambatan yang luar biasa dalam persoalan sosialisasi ini. Sehingga
perlu adanya pendangan pemikiran yang bersifat efektif efisien sebagai langkah
preventif sebelum melangkah lebih jauh. Sehingga pertanyaan yang paling relevan
yang pertama adalah bagimana memasyarakatkan gerakan ini pada seluruh element
anak bangsa yang diharapkan menjadi pilar-pilar dan penggerak gerakan ini?.
Pertama. Masyarakat kampus sebagai kelompok menengah harus menjadi sasaran awal
ini, mahasiswa yang berstatus agen perubahan dan control social yang mempu
merubah paradigma menuju kesadaran akan peran dan fungsinya yang sangat fital
untuk sebuah perubahandan tentunya fungsi-fungsi sosialisasi kepada masyarakat
secara luas, kepada khalayak. Kemudian, kita mengetahui bahwa di dalam tubuh
manusia kampus, sebagai contoh manusia kampus universitas muhammadiyah malang, terdapat
keanekaragaman asal, seperti jawa sendiri, sulawesi, Kalimantan dan papua.
Khususnya mahasiswa-mahasiswa dari indonosia timur, mayoritas membentuk sebuah
oraganisasi paguyuban atas nama meningkatkan kekeluargaan sesame manusia
rantau, sehingga keadaan demikian menguntungkan gerakan ini di hari mendatang,
dengan harapan bahwa lewat organisasi paguyuban masing-masing manusia kampus
yang ada, gerakan ini disosialisasikan secara massif dan holistic.
Selanjutnya,
adalah sosialisasi kepada semua manusia-manusia kampus yang ada dalam area
geografis kota/kabupaten malang raya. Juga hal ini bermula dari intensitas
komunikasi dengan memanfaatkan salah satu budaya-budaya manusia kampus yang ada
di malang raya, yaitu budaya cangkroan di warung kopi. Sehingga lewat budaya
demikian pulalah sosialisasi urgennya gerakan ini dalam Negara kesatuan
republic Indonesia. Walau bagaimana pun tidak sedikit manusia kampus yang
selama ini telah melakukan komunikasi interkampus dengan memanfaatkan warung
kopi ebagai saran yang cukup efektif, tidak salah kemudian muncul bahasa di
dalam wacana manusia kampus tentang adanya “demokrasi warung kopi”. Artinya
selama ini, telah banyak hal-hal yang menyangkut persoalan-persoalan manusia
kampus yang dapat diselesaikan di warung kopi.
Sederhana dan
konkretnya wacana dan gerakan hospitalinisme ini, kemudian adalah dalam bentuk
forum-forum diskusi dengan menggunakan sarana warung kapi tadi. Farum ini
mengundang seluruh elemen manusia kampus, terlepas dari latar belakang budaya,
agama kepercayaan ataupun organisasi mahasiswa yang ada. Sehingga farum ini
menjadi landasan awal, dimana tidak ada pihak-pihak yang mendominasi, tidak ada
senioritas serta tidak ada diskrimasi karena perbedaan etnis budaya. Forum ini
diharapkan menjadi ajang implementasi ruang-ruang demokratis, bebas intimadasi
sebagaimana yang di harapkan oleh salah satu pemikit mazhab Frankfurt yaitu
jurgen habermas.


