Kampung Indonesia Sebagai Identitas

Facebook
RSS

Pro Hospitalianisme : Memasyarakatkan Gerakan Pro Hospitality (3)

-
Arung Shad S

Bagian tiga

Segaimana persoalan-persoal regulasi yang dihadapi Indonesia sampai detik ini sebagai Negara bangsa kepulauan, wacana dan gerakan hospitalianisme sedikit banyak akan mengalami hambatan yang luar biasa dalam persoalan sosialisasi ini. Sehingga perlu adanya pendangan pemikiran yang bersifat efektif efisien sebagai langkah preventif sebelum melangkah lebih jauh. Sehingga pertanyaan yang paling relevan yang pertama adalah bagimana memasyarakatkan gerakan ini pada seluruh element anak bangsa yang diharapkan menjadi pilar-pilar dan penggerak gerakan ini?. Pertama. Masyarakat kampus sebagai kelompok menengah harus menjadi sasaran awal ini, mahasiswa yang berstatus agen perubahan dan control social yang mempu merubah paradigma menuju kesadaran akan peran dan fungsinya yang sangat fital untuk sebuah perubahandan tentunya fungsi-fungsi sosialisasi kepada masyarakat secara luas, kepada khalayak. Kemudian, kita mengetahui bahwa di dalam tubuh manusia kampus, sebagai contoh manusia kampus universitas muhammadiyah malang, terdapat keanekaragaman asal, seperti jawa sendiri, sulawesi, Kalimantan dan papua. Khususnya mahasiswa-mahasiswa dari indonosia timur, mayoritas membentuk sebuah oraganisasi paguyuban atas nama meningkatkan kekeluargaan sesame manusia rantau, sehingga keadaan demikian menguntungkan gerakan ini di hari mendatang, dengan harapan bahwa lewat organisasi paguyuban masing-masing manusia kampus yang ada, gerakan ini disosialisasikan secara massif dan holistic.

Selanjutnya, adalah sosialisasi kepada semua manusia-manusia kampus yang ada dalam area geografis kota/kabupaten malang raya. Juga hal ini bermula dari intensitas komunikasi dengan memanfaatkan salah satu budaya-budaya manusia kampus yang ada di malang raya, yaitu budaya cangkroan di warung kopi. Sehingga lewat budaya demikian pulalah sosialisasi urgennya gerakan ini dalam Negara kesatuan republic Indonesia. Walau bagaimana pun tidak sedikit manusia kampus yang selama ini telah melakukan komunikasi interkampus dengan memanfaatkan warung kopi ebagai saran yang cukup efektif, tidak salah kemudian muncul bahasa di dalam wacana manusia kampus tentang adanya “demokrasi warung kopi”. Artinya selama ini, telah banyak hal-hal yang menyangkut persoalan-persoalan manusia kampus yang dapat diselesaikan di warung kopi.

Sederhana dan konkretnya wacana dan gerakan hospitalinisme ini, kemudian adalah dalam bentuk forum-forum diskusi dengan menggunakan sarana warung kapi tadi. Farum ini mengundang seluruh elemen manusia kampus, terlepas dari latar belakang budaya, agama kepercayaan ataupun organisasi mahasiswa yang ada. Sehingga farum ini menjadi landasan awal, dimana tidak ada pihak-pihak yang mendominasi, tidak ada senioritas serta tidak ada diskrimasi karena perbedaan etnis budaya. Forum ini diharapkan menjadi ajang implementasi ruang-ruang demokratis, bebas intimadasi sebagaimana yang di harapkan oleh salah satu pemikit mazhab Frankfurt yaitu jurgen habermas.