Kampung Indonesia Sebagai Identitas

Facebook
RSS

Senyum Adalah Hidup

-
Arung Shad S


Akhirnya ku hadapi dengan senyum. Sedikit terpaksa mungkin.
Setelah semua begitu samar dalam ketidakjelasan sejarah.
Semakin jua tersadar dari buaian dunia ilusi ku. Mentari menyadarkan itu.
Pudarlah kini harapan melambung : pengen itu pengen ini.

Tertinggal pahitnya fakta hidup : sekarang gini sekarang gitu.
Namun tetap dengan senyum. Masih sedikit terpaksa.
Mungkin terlahir untuk senyum. Sekarang sadar karena keadaan.
Pada nasib yang sedari dulu menertawai. Dan masih menertawai.
Harus senyum setelah semua menindas. Lebih tepatnya semua tidak terkabul.
Setelah sekian lama tertekan realitas kedirian-nonkedirian. Sibuk berpikir tanpa tindakan.

Harus senyum walau dalam pahitku. Mungkin nasib.
Hilangnya harapan : jadi ini jadi itu.

Tapi di depanku masihlah ku dapat cita. Pada suasana desa yang sepi nan sejuk
Bertabur anak-anak penuh ceria. Berharap embrio revolusi ku.
Manis dengan lesung pipinya. Dia ikut bapak dan ibunya.
Kerudung putihnya. Pasti diajarkan ibunya.
Mata bulatnya. Juga ikut ibunya.

Jangan bersedih Brek, mungkin...dia mencoba bernasehat
Ya, mungkin nantinya dia pun berbisik demikian
Karena kedekatan emosi yang ada
Saling menasehati sebagai manifestasi ikatan

Ikatan sang maha karya. Dia lah  karya terbesar ku kelak.
Kepada yang pencipta karya
Berbentuk si manis kerudung
Memberi nasehat pada brek
Sang pembuat karya
Mungkin lima tahun sebelum percakapan berlangsung. Dia berumur lima tahun ketika kami bercakap santai.

Merenungkam semuanya. Tlogo alkautsar 06/10/2006