Akhirnya ku hadapi dengan
senyum. Sedikit terpaksa mungkin.
Setelah semua begitu samar
dalam ketidakjelasan sejarah.
Semakin jua tersadar dari
buaian dunia ilusi ku. Mentari menyadarkan itu.
Pudarlah kini harapan
melambung : pengen itu pengen ini.
Tertinggal pahitnya fakta
hidup : sekarang gini sekarang gitu.
Namun tetap dengan senyum.
Masih sedikit terpaksa.
Mungkin terlahir untuk
senyum. Sekarang sadar karena keadaan.
Pada nasib yang sedari dulu
menertawai. Dan masih menertawai.
Harus senyum setelah semua
menindas. Lebih tepatnya semua tidak terkabul.
Setelah sekian lama tertekan
realitas kedirian-nonkedirian. Sibuk berpikir tanpa tindakan.
Harus senyum walau dalam
pahitku. Mungkin nasib.
Hilangnya harapan : jadi ini
jadi itu.
Tapi di depanku masihlah ku
dapat cita. Pada suasana desa yang sepi nan sejuk
Bertabur anak-anak penuh
ceria. Berharap embrio revolusi ku.
Manis dengan lesung pipinya.
Dia ikut bapak dan ibunya.
Kerudung putihnya. Pasti
diajarkan ibunya.
Mata bulatnya. Juga ikut
ibunya.
Jangan bersedih Brek,
mungkin...dia mencoba bernasehat
Ya, mungkin nantinya dia pun
berbisik demikian
Karena kedekatan emosi yang
ada
Saling menasehati sebagai
manifestasi ikatan
Ikatan sang maha karya. Dia
lah karya terbesar ku kelak.
Kepada yang pencipta karya
Berbentuk si manis kerudung
Memberi nasehat pada brek
Sang pembuat karya
Mungkin lima tahun sebelum
percakapan berlangsung. Dia berumur lima tahun ketika kami bercakap santai.
Merenungkam semuanya. Tlogo
alkautsar 06/10/2006


