Kampung Indonesia Sebagai Identitas

Facebook
RSS

Kita Sebagai Warga Dramaturgi (1)

-
Arung Shad S


 ...for yesterday is but a dream, and tomorrow only a vision;
but today, we lived.
Makes every yesterday a dream of happiness,
And every tomorrow a vision of hope.
Look well, therefore, to this day….--from the Sanskrit--

Malam ini, saya memandang diri di depan cermin. yang terlihat seseorang yang mempunyai status dalam gelombang perjalanan masyarakat. Status, sebuah pemberian disengaja ato tidak. Status itu pula yang kemudian mengikat orang dalam cermin tadi pada sebuah peran. Peran tidak lain adalah gerak dinamis status tadi, ato dengan kata laen, peran adalah apa yang diharapkan oleh masyarakat kepada kita yang mempunyai status.

Merasa sudah ”cakep”, saya keluar dari kamar. Dan menyadari sandangan status tadi bukan milikku seorang. Saya ternyata bagian kecil dari kolektivisme sebuah kelompok yang selama ini terus bergerak. Bereksistensi diri dalam sebuah organsasi yang melaju bersama masyarakat di mana dia hidup dan berkreasi. Indvidu-individu yang bersatu pada dalam derap langkah dalam satu balutan cita-cita luhur.

Pada proses selanjutnya, diri sudah melebur dalam kolempok tadi, dan setiap kata yang keluar bermetaforfosis dari diriku seorang menjadi kita dan ke-kita-an. Ketua, pengurus, dan anggota tidak lagi berdiri sendiri dalam kedirian masing-masing, namun kokoh bersama ke-kita-an. Semua dalam bingkai kekeluargaan mengusung sebuah perubahan.

Kita adalah kelompok kecil dalam masayarakat yang merasa diri punya daya untuk terus melangkah dalam cita-cita. Kita adalah kelompok-kelompok yang nota bene organik, mendesak kelompok besar untuk ikut bersama dalam nuansa ke-kita-an, sehingga tiada ada lagi kita dan mereka. Kita yang ingin merubah tatanan dan mereka yang terus berjuang mempertahankan tatanan. Tidak ada lagi kaca mata ato persepktif kita dan mereka. Kita yang terus mengajak dan memberi saran untuk sebuah perubahan yang lebih baik di masa mendatang.

Dapat dtebak, status kita adalah agen perubahan, kelompok-kelompok yang diharapkan memberi kontrol dalam masyarakat, kelompok kecil penggerak moral dan bukan sebaliknyaobyek dari gerakan moral. kelompok yang diharapkan berperan memberikan pencerahan kepada kelompok yang lebih besar, pencerahan kepada masyarakat yang lebih besar di lingkungannya. Ya, status yang dilekatkan kepada kita, sampai detik ”refeleksi” ini dituliskan memang belum punah dan terus mengikat kita samua dalam setiap jengkal perjalanan kita.