Kampung Indonesia Sebagai Identitas

Facebook
RSS

Dinamika Mahasiswa : Efek Kejut Budaya (1)

-
Arung Shad S

Bagian satu

Mahasiswa, Potret Manusia- Manusia  Shok Budaya Baru

Mahasiswa, sebuah kata “wah” bagian masyarakat kita, Indonesia, sebagian pemuda melihat hanya sebatas angan yang menggantung di tingginya langit biru untuk ikut mengecap indahnya menjadi manusia kampus. Dan masih banyak orang tua negeri ini hanya bisa mengusap dada karena merasa bersalah karena tidak mampu menjadikan anaknya masuk dalam golongan kaum menengah (kuliah). Pertanyaannya sekarang, apakah benar mahasiswa menjadi sesuatu yang “wah”, factor-faktor apa yang membuat mahasiswa sebagai “barang” atau dunia mewah? Dan kemudian banyak pemuda di negeri nusantara ini yang kemudian menginginkan sandang namanya sebagai mahasiswa, serta mengapa orang tua sedikit banyak merasa “bersalah” musabab ketidakmampuan financial menyekolahkan anaknya di perguruan tinggi?. Dari serangkaian semacam prolog diatas, mengindikasikan ada sesuatu tersirat yang maha dahsyat di balik sandanrgan kata mahasiswa!

Semoga tidak melakukan suatu simplikasi dari kompleksitas serta keunikan mahasiswa, ketika penulis mengatakan bahwa mahasiswa hari ini tidak lebih dari korban-korban kebudayaan. Korban kemudayaan baru yang sebenarnya pada awalnya asing bagi mereka, jeratan-jeratan Mesin Idiologi Kapitalis dengan bentuk style-style kemudian sangat kuat menjerat mahasiswa sebagai element pemuda. Sadar atau tidak, mahasiswa hari ini menjadi “Silent Mayority “mayoritas yang diam atau didiamkan dengan buain-buaian mesin maha dahsyat tadi.

Dalam keramian kampus, kita bisa melihat dengan kacamata kritis betapa manusia kampus (baca, mahasiswa) adalah gambar dan potret-potret manusia yang sedang sakit, mengalami shok budaya. Mereka mengalami jiwa inferioritas dalam memandang budayanya, dan melihat budaya yang sebenarnya mendominasi dan menjajahnya sebagai budaya yang patut di tiru dalam setiap lekuk langkahnya. Maka ketika melihat mahasiswa sama dengan pemandangan potret manusia-manusia yang shok budaya baru, manusia yang teralienasi dengan nilai-nilai leluhur dan lingkungannya. Manusia yang berada dalam persimpangan jalan Era Pertarungan Global; semua kelompok/golongan saling memperebutkan dominasi dan pengaruhnya. disebut Persimpangan jalan karena satu sisi, mahasiswa ingin meninggalkan budaya lamanya, sementara sisi lain manusia kampus belum mendapatkan nilai-nilai baru sebagai pijakan.

Dengan dominasi budaya barat yang sangat gencar, bahkan bersifat revolusioner lewat media-media, terutama media elektronik. Bahkan penindasan/dominasi budaya terhadap budaya kita akan lebih vulgar oleh kita yang kritis melihat fenomena social mahasiswa. Imperialisme dengan metode hegemoni lewat mode style, pakaian, busana perempuan, kosmetik dll, menuju suatu muara penyamaan homogenitas dengan bahasa universalitas.

Maka dalam benak mahasiswa kemudian sibuk dengan konstruk-konstruk budaya yang ditebarkan oleh para pemodal/kapitalis. Sebagai misal, konstruk pikiran kita akan melihat bahwa manusia/mahasiswa modern adalah yang memakai celana “botol-botol”, baju ketat, warna mencolok, memirang rambut, kelompok ini sebagai representasi mahasiswa modern yang layak hidup dan dicontoh dalam peradaban manusia kampus. Sebaliknya sebagai representasi tradisionalisme, mahasiswa yang berpakaian jaman dulu, memakai kerudung besar, memakai kebaya, atau yang sering disebut katrok, dan tidak layak hidup dalam perdaban manusia kampus. Sadar atau tidak konstruk social seperti ini, adalah permainan para pemodal sedemikian rupa sehingga terbentuk kelas-kelas social dalam masyarakat kampus.