Bagian satu
Mahasiswa, Potret Manusia-
Manusia Shok Budaya Baru
Mahasiswa,
sebuah kata “wah” bagian masyarakat kita,
Semoga
tidak melakukan suatu simplikasi dari kompleksitas serta keunikan mahasiswa,
ketika penulis mengatakan bahwa mahasiswa hari ini tidak lebih dari
korban-korban kebudayaan. Korban kemudayaan baru yang sebenarnya pada awalnya
asing bagi mereka, jeratan-jeratan Mesin Idiologi Kapitalis dengan bentuk
style-style kemudian sangat kuat menjerat mahasiswa sebagai element pemuda.
Sadar atau tidak, mahasiswa hari ini menjadi “Silent Mayority “mayoritas yang
diam atau didiamkan dengan buain-buaian mesin maha dahsyat tadi.
Dalam
keramian kampus, kita bisa melihat dengan kacamata kritis betapa manusia kampus
(baca, mahasiswa) adalah gambar dan potret-potret manusia yang sedang sakit,
mengalami shok budaya. Mereka mengalami jiwa inferioritas dalam memandang
budayanya, dan melihat budaya yang sebenarnya mendominasi dan menjajahnya
sebagai budaya yang patut di tiru dalam setiap lekuk langkahnya. Maka ketika
melihat mahasiswa sama dengan pemandangan potret manusia-manusia yang shok
budaya baru, manusia yang teralienasi dengan nilai-nilai leluhur dan
lingkungannya. Manusia yang berada dalam persimpangan jalan Era Pertarungan
Global; semua kelompok/golongan saling memperebutkan dominasi dan pengaruhnya.
disebut Persimpangan jalan karena satu
sisi, mahasiswa ingin meninggalkan budaya lamanya, sementara sisi lain manusia
kampus belum mendapatkan nilai-nilai baru sebagai pijakan.
Dengan
dominasi budaya barat yang sangat gencar, bahkan bersifat revolusioner lewat
media-media, terutama media elektronik. Bahkan penindasan/dominasi budaya
terhadap budaya kita akan lebih vulgar oleh kita yang kritis melihat fenomena
social mahasiswa. Imperialisme dengan metode hegemoni lewat mode style,
pakaian, busana perempuan, kosmetik dll, menuju suatu muara penyamaan homogenitas
dengan bahasa universalitas.
Maka
dalam benak mahasiswa kemudian sibuk dengan konstruk-konstruk budaya yang
ditebarkan oleh para pemodal/kapitalis. Sebagai misal, konstruk pikiran kita
akan melihat bahwa manusia/mahasiswa modern adalah yang memakai celana
“botol-botol”, baju ketat, warna mencolok, memirang rambut, kelompok ini
sebagai representasi mahasiswa modern yang layak hidup dan dicontoh dalam
peradaban manusia kampus. Sebaliknya sebagai representasi tradisionalisme,
mahasiswa yang berpakaian jaman dulu, memakai kerudung besar, memakai kebaya,
atau yang sering disebut katrok, dan tidak layak hidup dalam perdaban manusia
kampus. Sadar atau tidak konstruk social seperti ini, adalah permainan para
pemodal sedemikian rupa sehingga terbentuk kelas-kelas social dalam masyarakat
kampus.

