Kampung Indonesia Sebagai Identitas

Facebook
RSS

Ideologi Alternatif : Lebih Dekat Sosialisme Marxian (3)

-
Arung Shad S


Banyak kalangan berpandangan akan kedekatan antara sosialisme dengan Islam sebagai ajaran ramatan lilalamin, revolusi iran tahun 1979 sebagai contoh, dikatakan adalah sebuah keberhasilan sosialisme Marxian. Namun kemunculan idiologi ini sebagai reaksi terhadap revolusi industri dan akibat-akibatnya yang menurut kalangan ini sangat tidak memenusiakan manusia, adanya penindasan serta penghisapan manusia terhadap manusia yang lain atau yang lebih kita kenal dengan eksploitasi oleh kaum pemilik modal kepada kelas proletar atau yang tidak bermodal. Musabab teori marxis muncul sebagai kritik pada system kapitalisme maka kabanyakan bahkan seluruh pandangan marx kemudian tidak lepas dari sebuah kritik terhadap realitas sosial masyarakat karena dampak system kapitalis itu sendiri.

Pada dasarnya teori ini tidak berbicara akan realitas kemudian berdiam diri sebagai kalangan lemah atau seperti propaganda kalangan agamawan waktu itu bahwa nasib penderitaan rakyat adalah sebuah -keniscayaan, bahwa penderitaan rakyat adalah takdir yang sudah ditetapkan oleh tuhan, rakyat yang tabah kemudian dalam segala cobaan dunia akan mendapat ganjaran disisi tuhan pada kehidupan selanjutnay atau kehidupan sesudah mati. Jadi teori ini berbicara bagaimana merubah sebuah tatanan sosial, bagaimana merubah nasib-nasib kaum proletar yang menjadi obyek penindasan oleh kaum pemilik modal.

Dalam perdebatan teori-teori sosial, tepatnya dalam konsep teori ilmu sosiologi pemikiran marx masuk dalam kategori perspektif konflik. Yang kemudian harus dilihat konteks yang mendasari perspektif ini lahir. Sebagaimana yang sedikit telah disinggung bahwa pemikiran karl marx sangat dipengaruhi oleh munculnya industrialisasi abad ke-19 yang melahirkan ranah-ranah sosial yang sangat kontras yaitu kehidupan kaum buruh yang hidup menderita serta sangat sengsara disatu pihak dan pemilik alat-alat produksi yang menikmati surplus yang disumbangkan oleh keringat dan tenaga yang dikeluarkan leh kaum buruh di pihak lain.dari latar belakang sejarah itu kemudian dapat ditelusuri benang merah yang menggambarkan munculnya kondisi-kondisi yang mempengaruhi aliran marxis awal, pertama, munculnya tekanan structural yang kuat terhadap individu. Kedua, kondisi industri yang memperburuk hubungan sosial yang kemudian membawa kedalam elienasi kaum buruh, bukan saja alienasi individual melainkan alienasi missal sejalan dengan persebaran mode of production yang tentunya dikendalikan oleh industri

Pada zamannya walaupun menjadi jalan keluar bagi kaum buruh, namun dalam konteks hari ini kajian pemikiran marx perlu dikaji ulang untuk kemudian menjadi tawaran atau sebuah konsepsi untuk rakyat dunia. Salah satunya pandangan marx tentang agama, bahwa agama kemudian sudah usang dalam sebuah pergolakan sosial menuju perubahan nasib kaum buruh, bahkan kaum agamawan berselingkuh dengan kaum pemodal serta turut andil dalam parade penindasan, kaum agamawan dengan legitisimasi ketuhanan turut dalam pasar malam ekploitasi kaum buruh oleh pemodal. Sehingga sangat wajar jika dalam perkembangan sejarah awalnya perspektif ini reprsentasi teori anti tuhan atau atheis. Agama adalah candu bagi masyarkat adalah kalimat yang sering dilontarkan oleh kalangan Marxian.

Lalu bagaimana mungkin sebuah tata nilai yang sangat bersebrangan dapat diidentikkan atau bahkan disamakan,seperti dugaan beberapa kalangan yang sisebutkan diatas, antara islam yang menganut ajaran monoteisme mutlak bertuhan pada satu kebenaran mutlak disatu pihak dan marxisme dipihak lain. Sebagai contoh konsepsi Marxian akan sebuah revolusi, bahwa revolusi mutlak terjadi oleh persatuan kelas buruh di seantero dunia, dan hanya kelas inilah yang akan menggalakkan revolusi kelas lain tidak, sedengkam konsepsi islam tentang sebuah revolusi bahwa tata nilai islam mengajarkan sebuah revolusi menuju perubahan nasib kaum-kaum terindas atau mustadaifin namun tidak harus dan an sich digalakkan oleh kaum tertindas itu sendiri namun juga mampu digelorakan oleh kaum-kaum luar, bahkan kelas pemilik modalpun mampu jika berorintasi pada keberpihakan kebenaran.