Kampung Indonesia Sebagai Identitas

Facebook
RSS

Problematika Kota Dan Modal Sosial

-
Arung Shad S


Kota malang, kota yang secara geografis administrative masuk dalam propinsi jawa timur, Surabaya. terkenal dengan kota wisata dalam kamus nusantara Indonesia. Sebagai kota wisata, memiliki sejumlah keunikan serta kelebihan dibanding dengan kota-kota lain di jawa timur adalah keahrusan. panaroma indah yang, kita kenal dengan “bandung”nya jawa timur, disertai dengan hawa sejuk seperti ketika kita menyempatkan diri menikmati kota batu. sepoi angin membwa romansa yang tak terkira nikmatnya. takkan terlupa dalam kenangan sang penikmat alam jagat kota malang.

“Varis Van Java” ala jawa timur, adalah status yang kemudian tak terelakkan melekat pada kota kelahiran sang pejuang hak asasi manusia ini,sang pemberani,munir.

mengikuti alur berpikir konsep dualitas masyarakat;modern dan tradisonal, kota malang walau sedikit perlu kehati-hatian dalam memberi kategori— sebagai masyarakat perkotaan. heterogenitas sebagai salah satu ciri utamanya.
(sebagai catatan semua pemikir social berbeda-beda dalam memberikan klassifkasi—dikotomis masyarakat ini; sebagai missal, fenrdinan tonnies membedakannya dengan gemmenschaft dan gesellschaft, hasan hanafi menamakannya tradsional dan non-tradisional, yang lain biasanya lebih sederhana secara kebahasaan masyarakat modern dan pra-modern), namun pada hakikatnya hamper sama.

Sebagaimana layaknya masyarakat perkotaan, kota dingin ini, pun memiliki dimensi-dimensi ataupun ekses perkotaan yang tidak jarang memberikan masalah tersendiri; pemukiman kumuh di pinggir kota, individualisme, runtuhnya/mulai meregang nilai-nilai kolektivisme dan masih banyak kelimut persolalan.namun, Yang paling nampak dan menonjol di dalam masyarakat adalah aktivitas ekonomi; semua orang bergerak mempunyai motivasi utama yaitu, bagaimana mendapatkan keuntungan sebanyak dan setinggi mungkin. tatanan kekeluargaan,hampir tidak mendapat ruang lagi dalam serunya perhelatan ekonomis masyarakat.

Fenomena social di kota malang, cukup memberikan gambaran, kota ini menuju masyarakat yang apatis terhadap realitas social sekitar (tanpa menafikan aktivis lingkungan yang konsern di wilayah lingkungan hidup dan persoalan kemanusiaan yang lain). Tidak heran, muncul persoalan-persoalan lain yang tidak kecil dan dengan skala luas--generasi muda, karena tidak tahan secara psikologis/cepat stress, kemudian mencari hiburan malam sebagai pelarian. Ataupun karena orang tua tidak lagi menomor satukan keluarga dan ikatan kekeluagaan sehingga anak-anak sepi dari kasih sayang orang tua dan selanjutnya mencari kesenangan di luar rumah. narkoba, sex bebas sebagai konpensasi hilangnya hal yang fundamen di butuhkan.

Langkah Preventif.

Pertanyaan mendasarnya adalah apakah kelak, dimasa mendatang, kota malang tidak ubahnya kota-kota besar di nusantara tidak mampu mengatasi masalah social yang cukup pelik sebagai konsekwensi logis masuarat kota?. kita kembali berpikir apa saja yang bisa dimaksimalkan untuk kemudian memberi tawaran social ataupun sebagai langkah-langkah preventif "kemungkinan" adanya masalah yang disebutkan diatas.

Sepertinya kita mengalami jalan buntu, sebuah stagnasi intelektual menimbah solusi yang sering kali bertebaran di sekitar. dan sepertinya kota malang bersama masyarakat perkotaannya harus rela menghadapi virus-virus sosial yang telah lama mengantri dan "mengetuk pintu" walau tanpa izin memasuki ruang lebih jauh dan dalam; ruang privasi masyarakat kota/kita?

Namun, penulis teringat, kalimat menarik: social capital. sebuah wacana dalam kacamata atau analisis modal social masyarakat. tapi, dibalik keresahan diatas, sebuah fenomena yang menarik (menambah khasanah wisata kota malang) yaitu menjamurnya warung lesehan-lesehan. membuat kita sejenak rela memberi ruang dan waktu untuk lebih dalam berpikir dan memandang fenomena ini; Hal demikian pada perkembangannya ternyata juga menjadi identitas kota malang dan secara otomatis juga menjadi daya tarik tersendir bagi pengunjung domestic.

Mengapa hal ini menjadi menarik untuk kita teliti secara sederhana dalam analisis modal social dan apakah ada kaitannya dalam permasalahan social masyarakat kota malang?

Sepintas dan sederhana, modal social dipahami sebagai serangkaian aturan atau norma-norma yang tidak tertulis/inkonstitusional, yang berlaku dan mengikat dalam sebuah masyarakat. penafsiran tentang modal social mencakup atau menmpunyai indicator-indokator yang tentunya bersifat social pula; banyaknya teman, jaringan, prilaku baik/buruk pada tetangga dll.
Nah, warung kopi lesehan, yang meretas dibawah kolong langit kota malang memiliki dampak social yang tidak kecil. signifikansinya jelas menapak garis permukaan dalam memaknai nilai-nilai social persahabatan yang digeluti oleh masyarakat kampus, khususnya manusia kampus universitas muhammadiyah malang.

Layaknya sebuah pasar, warung kopi, tempat interaksi antara penjual dan pembeli, dia kemudian terkenal dengan nama tempat cangkroan. juga menjadi tempat dimana interaksi sesama manusia kampus dengan berbeda fakultas, jurusan, kelamin (walaupun sampai detik ini masih di dominasi oleh kaum adam), berasal dari suku etnis berbeda, bahkan segala ragam strata social dapat dapat duduk/bergumul dalam lingkaran harmonis. akan terjadi interaksi sosial sesama pelanggan, dan tidak mustahil terjalin "sebuah ikatan", ikatan emosional sesama mahasiswa pelanggan. sebagian manusia kampus, yang berpikir jauh melampui ruang kekinian dan kedisinian, menindak lanjuti dengan serangkain pertemuan-pertemuan berikutnya.

Bukankah salah satu hal yang paling penting dan menjadi nilai plus manusia kampus adalah jaringan social yang nantinya sedikit banyak akan mempermudah pada tercapainya sebuah tujuan indivdu/kelompok tersebut?.

dalam kacamata social, Pemandangan ruang-waktu diatas memberikan harapan positif. dengan harapan, kedepannya menjadi tradisi yang jika pada kemudian hari melembaga (tidak tertulis) dalam sebuah masyarakat, akan melahirkan nilai-nilai social walaupun pada hukum positifnya tidak tertulis dalam undang-undang Negara. menjadi perekat, bahkan tempat yang lebih "layak" bagi tidak sedikit anak muda yang mengalami kesunyian kasih sayang dari orang terdekat mereka.

Berangkat dari kebiasaan, menjadi tradisi dalam perjalanannya, membudaya dalam komunitas masyarakat dan seterusnya menjadi ciri khas tersendiri pada manusia kampus kota malang, akan membentuk sebuah identitas. Jika sudah pada tahapan identitas, maka dapatlah dikatakan sebagai modal social manusia kampus atau sebuah kearifal local kota malang, yang tentunya harus dipertahankan sebagai kekayaaan dalam bingkai keanekaragaman masyarakat nusantara.


Penutup

Tulisan ini, sebagai wacana pembuka, pada hakikatnya sebagai sebuah unek-unek keresahan. berharap menjadi bahan renungan,refleksi dan pertimbangan oleh pemerintah dalam kebijakan dimasa mendatang.
menikmati panorama paris van java jawa timur, memang sebuah keindahan penyatuan diri dan alam. tapi ketika mengitari masyarakat kota malang dan kemudian menyingkap permasalahan sosial sebagai bagian dari dimensi masyarakat perkotaan, adalah sebuah jalan penghayatan batin untuk berdamai dengan realitas.

tersimpul sebuah ide, bahwa pembentukan tradisi-tradisi yang lebih konstruktif di era industri; bahwa tidak semua tradisi lampau adalah tidak baik; tapi bagaimana kita mengambil dan mempertahankan yang baik dari tradisi lama dan mengambil dan serta mencipta tradisi kebudayaan yang baik pula di era industri.
Bagaimana kita memberikan tawaran konsep kepada pembuat kebijakan untuk kemudian memberikan wadah, khususnya kepada generasi muda yang rentan terhadap dorongan-dorongan dari luar untuk berbuat sesuatu yang keluar dari yang seharusya di idealkan sebagai seorang generasi muda, generasi yang bertanggung jawab membawa amanah-- bagaimana menciptakan masyarakat perkotaan yang ramah/memegang teguh terhadap nilai-nilai kemanusiaan.