Kota
malang, kota yang secara geografis administrative masuk dalam propinsi jawa
timur, Surabaya. terkenal dengan kota wisata dalam kamus nusantara Indonesia.
Sebagai kota wisata, memiliki sejumlah keunikan serta kelebihan dibanding
dengan kota-kota lain di jawa timur adalah keahrusan. panaroma indah yang, kita
kenal dengan “bandung”nya jawa timur, disertai dengan hawa sejuk seperti ketika
kita menyempatkan diri menikmati kota batu. sepoi angin membwa romansa yang tak
terkira nikmatnya. takkan terlupa dalam kenangan sang penikmat alam jagat kota
malang.
“Varis
Van Java” ala jawa timur, adalah status yang kemudian tak terelakkan melekat
pada kota kelahiran sang pejuang hak asasi manusia ini,sang pemberani,munir.
mengikuti
alur berpikir konsep dualitas masyarakat;modern dan tradisonal, kota malang
walau sedikit perlu kehati-hatian dalam memberi kategori— sebagai masyarakat
perkotaan. heterogenitas sebagai salah satu ciri utamanya.
(sebagai
catatan semua pemikir social berbeda-beda dalam memberikan
klassifkasi—dikotomis masyarakat ini; sebagai missal, fenrdinan tonnies
membedakannya dengan gemmenschaft dan gesellschaft, hasan hanafi menamakannya
tradsional dan non-tradisional, yang lain biasanya lebih sederhana secara
kebahasaan masyarakat modern dan pra-modern), namun pada hakikatnya hamper
sama.
Sebagaimana
layaknya masyarakat perkotaan, kota dingin ini, pun memiliki dimensi-dimensi
ataupun ekses perkotaan yang tidak jarang memberikan masalah tersendiri;
pemukiman kumuh di pinggir kota, individualisme, runtuhnya/mulai meregang
nilai-nilai kolektivisme dan masih banyak kelimut persolalan.namun, Yang paling
nampak dan menonjol di dalam masyarakat adalah aktivitas ekonomi; semua orang
bergerak mempunyai motivasi utama yaitu, bagaimana mendapatkan keuntungan
sebanyak dan setinggi mungkin. tatanan kekeluargaan,hampir tidak mendapat ruang
lagi dalam serunya perhelatan ekonomis masyarakat.
Fenomena
social di kota malang, cukup memberikan gambaran, kota ini menuju masyarakat
yang apatis terhadap realitas social sekitar (tanpa menafikan aktivis
lingkungan yang konsern di wilayah lingkungan hidup dan persoalan kemanusiaan
yang lain). Tidak heran, muncul persoalan-persoalan lain yang tidak kecil dan
dengan skala luas--generasi muda, karena tidak tahan secara psikologis/cepat
stress, kemudian mencari hiburan malam sebagai pelarian. Ataupun karena orang
tua tidak lagi menomor satukan keluarga dan ikatan kekeluagaan sehingga
anak-anak sepi dari kasih sayang orang tua dan selanjutnya mencari kesenangan
di luar rumah. narkoba, sex bebas sebagai konpensasi hilangnya hal yang
fundamen di butuhkan.
Langkah Preventif.
Pertanyaan
mendasarnya adalah apakah kelak, dimasa mendatang, kota malang tidak ubahnya
kota-kota besar di nusantara tidak mampu mengatasi masalah social yang cukup
pelik sebagai konsekwensi logis masuarat kota?. kita kembali berpikir apa saja
yang bisa dimaksimalkan untuk kemudian memberi tawaran social ataupun sebagai
langkah-langkah preventif "kemungkinan" adanya masalah yang
disebutkan diatas.
Sepertinya
kita mengalami jalan buntu, sebuah stagnasi intelektual menimbah solusi yang
sering kali bertebaran di sekitar. dan sepertinya kota malang bersama
masyarakat perkotaannya harus rela menghadapi virus-virus sosial yang telah
lama mengantri dan "mengetuk pintu" walau tanpa izin memasuki ruang
lebih jauh dan dalam; ruang privasi masyarakat kota/kita?
Namun,
penulis teringat, kalimat menarik: social capital. sebuah wacana dalam kacamata
atau analisis modal social masyarakat. tapi, dibalik keresahan diatas, sebuah
fenomena yang menarik (menambah khasanah wisata kota malang) yaitu menjamurnya
warung lesehan-lesehan. membuat kita sejenak rela memberi ruang dan waktu untuk
lebih dalam berpikir dan memandang fenomena ini; Hal demikian pada
perkembangannya ternyata juga menjadi identitas kota malang dan secara otomatis
juga menjadi daya tarik tersendir bagi pengunjung domestic.
Mengapa
hal ini menjadi menarik untuk kita teliti secara sederhana dalam analisis modal
social dan apakah ada kaitannya dalam permasalahan social masyarakat kota
malang?
Sepintas
dan sederhana, modal social dipahami sebagai serangkaian aturan atau
norma-norma yang tidak tertulis/inkonstitusional, yang berlaku dan mengikat
dalam sebuah masyarakat. penafsiran tentang modal social mencakup atau
menmpunyai indicator-indokator yang tentunya bersifat social pula; banyaknya
teman, jaringan, prilaku baik/buruk pada tetangga dll.
Nah,
warung kopi lesehan, yang meretas dibawah kolong langit kota malang memiliki
dampak social yang tidak kecil. signifikansinya jelas menapak garis permukaan
dalam memaknai nilai-nilai social persahabatan yang digeluti oleh masyarakat
kampus, khususnya manusia kampus universitas muhammadiyah malang.
Layaknya
sebuah pasar, warung kopi, tempat interaksi antara penjual dan pembeli, dia
kemudian terkenal dengan nama tempat cangkroan. juga menjadi tempat dimana
interaksi sesama manusia kampus dengan berbeda fakultas, jurusan, kelamin
(walaupun sampai detik ini masih di dominasi oleh kaum adam), berasal dari suku
etnis berbeda, bahkan segala ragam strata social dapat dapat duduk/bergumul
dalam lingkaran harmonis. akan terjadi interaksi sosial sesama pelanggan, dan
tidak mustahil terjalin "sebuah ikatan", ikatan emosional sesama
mahasiswa pelanggan. sebagian manusia kampus, yang berpikir jauh melampui ruang
kekinian dan kedisinian, menindak lanjuti dengan serangkain pertemuan-pertemuan
berikutnya.
Bukankah
salah satu hal yang paling penting dan menjadi nilai plus manusia kampus adalah
jaringan social yang nantinya sedikit banyak akan mempermudah pada tercapainya
sebuah tujuan indivdu/kelompok tersebut?.
dalam
kacamata social, Pemandangan ruang-waktu diatas memberikan harapan positif.
dengan harapan, kedepannya menjadi tradisi yang jika pada kemudian hari
melembaga (tidak tertulis) dalam sebuah masyarakat, akan melahirkan nilai-nilai
social walaupun pada hukum positifnya tidak tertulis dalam undang-undang
Negara. menjadi perekat, bahkan tempat yang lebih "layak" bagi tidak
sedikit anak muda yang mengalami kesunyian kasih sayang dari orang terdekat
mereka.
Berangkat
dari kebiasaan, menjadi tradisi dalam perjalanannya, membudaya dalam komunitas
masyarakat dan seterusnya menjadi ciri khas tersendiri pada manusia kampus kota
malang, akan membentuk sebuah identitas. Jika sudah pada tahapan identitas,
maka dapatlah dikatakan sebagai modal social manusia kampus atau sebuah
kearifal local kota malang, yang tentunya harus dipertahankan sebagai kekayaaan
dalam bingkai keanekaragaman masyarakat nusantara.
Penutup
Tulisan
ini, sebagai wacana pembuka, pada hakikatnya sebagai sebuah unek-unek
keresahan. berharap menjadi bahan renungan,refleksi dan pertimbangan oleh
pemerintah dalam kebijakan dimasa mendatang.
menikmati
panorama paris van java jawa timur, memang sebuah keindahan penyatuan diri dan
alam. tapi ketika mengitari masyarakat kota malang dan kemudian menyingkap
permasalahan sosial sebagai bagian dari dimensi masyarakat perkotaan, adalah
sebuah jalan penghayatan batin untuk berdamai dengan realitas.
tersimpul
sebuah ide, bahwa pembentukan tradisi-tradisi yang lebih konstruktif di era
industri; bahwa tidak semua tradisi lampau adalah tidak baik; tapi bagaimana
kita mengambil dan mempertahankan yang baik dari tradisi lama dan mengambil dan
serta mencipta tradisi kebudayaan yang baik pula di era industri.
Bagaimana
kita memberikan tawaran konsep kepada pembuat kebijakan untuk kemudian
memberikan wadah, khususnya kepada generasi muda yang rentan terhadap
dorongan-dorongan dari luar untuk berbuat sesuatu yang keluar dari yang
seharusya di idealkan sebagai seorang generasi muda, generasi yang bertanggung
jawab membawa amanah-- bagaimana menciptakan masyarakat perkotaan yang
ramah/memegang teguh terhadap nilai-nilai kemanusiaan.


