Bacaan novel ernest miller hemingway yang terkenal itu
kembali tersimpan di rak tak beraturan. Mungkin tradisi eksistensial yang ada
pada jiwa-jiwa eksistensial pasca menamatkan buku atau novel. sekedar sebagai tanda
nyata bahwa buku tidak sekedar sebagai bantal tidur yang memiliki ketebalan
dan layak pengganti bantal tidur. Dan juga tak sekedar alat penghilang pilu untuk
mendatangkan setitik angin segar dengan menugaskannya sebagai kipas dadakan di
siang bolong. Atau sebagai payung dari kesombongan panas mentari dalam pososnya.
Ya novel hemingway, seperi itulah nama sebagai
penghormatan kepada penulis produktif ini, setidaknya kesan saya demikian
setelah menamatkan novel tentang prancis. Kota yang tak pernah dia lupakan,
atau kota yang tak pernah sama berapa kalipun kita berkunjung, akan selalu
nuansa baru aroma romantisme makna, katanya.
Cukup mengalir, bahkan terlalu mengalir bagi saya.
Tidak ada keterkejutan yang muncul di sudut-sudut penggambaran sang heming.
Terkesan miskin Pesan moral pun dan banyak jejak kejekaan sang penulis yang
coba terdeskripsi dari sebuah kisah pengembaraan.
Tapi aha, di balik keegoisan novel, ada secercah
bungkahan pengharapan. Pelajaran sederhana menghentak pada ruang jiwa yang
mencari, yang terus berproses merantau dalam rimba raya pengetahuan. Sebuah
kemiskinan yang coba dihilangkan pada diri eksistensialis saya.


