Kampung Indonesia Sebagai Identitas

Facebook
RSS

Lorong Waktu Itu Bernama Nasib (1)

-
Arung Shad S

Bacaan novel ernest miller hemingway yang terkenal itu kembali tersimpan di rak tak beraturan. Mungkin tradisi eksistensial yang ada pada jiwa-jiwa eksistensial pasca menamatkan buku atau novel. sekedar sebagai tanda nyata bahwa buku tidak sekedar sebagai bantal tidur yang memiliki ketebalan dan layak pengganti bantal tidur. Dan juga tak sekedar alat penghilang pilu untuk mendatangkan setitik angin segar dengan menugaskannya sebagai kipas dadakan di siang bolong. Atau sebagai payung dari kesombongan panas mentari dalam pososnya.

Ya novel hemingway, seperi itulah nama sebagai penghormatan kepada penulis produktif ini, setidaknya kesan saya demikian setelah menamatkan novel tentang prancis. Kota yang tak pernah dia lupakan, atau kota yang tak pernah sama berapa kalipun kita berkunjung, akan selalu nuansa baru aroma romantisme makna, katanya.

Cukup mengalir, bahkan terlalu mengalir bagi saya. Tidak ada keterkejutan yang muncul di sudut-sudut penggambaran sang heming. Terkesan miskin Pesan moral pun dan banyak jejak kejekaan sang penulis yang coba terdeskripsi dari sebuah kisah pengembaraan.


Tapi aha, di balik keegoisan novel, ada secercah bungkahan pengharapan. Pelajaran sederhana menghentak pada ruang jiwa yang mencari, yang terus berproses merantau dalam rimba raya pengetahuan. Sebuah kemiskinan yang coba dihilangkan pada diri eksistensialis saya.