Dalam
konteks Indonesia, pasca gerakan mahasiswa yang menggulingkan sang Despotis Soeharto,Wacana gerakan social memang sangat ramai dan hangat diperbincangkan. Perbincangan hangat
oleh banyak kalangan akademisi mempupolerkan wacana ini di tengah arus masyarakat.
Sebenarnya gerakan tidak lepas dari sebuah perubahan, hal niscaya dalam perjalanan masyarakat manusia. Namun seperti yang digambarkan di atas : selalu ada momentum besar yang mendahului. Gerakan dan perubahan sangat pesat pada era pasca agraria menuju masyarakat industrialisasi. Dari sanalah pula terjadi embrio ideologi-ideologi dunia yang kemudian masih sangat berdampak hingga kehidupan saat ini.
Namun sebelum menginjak dan membahas lebih jauh, terlebih dahulu kita akan mendefenisikan apa yang disebut dengan gerakan atau pergerakan serta apa pula yang disebut dengan perubahan sosial?
Sebenarnya gerakan tidak lepas dari sebuah perubahan, hal niscaya dalam perjalanan masyarakat manusia. Namun seperti yang digambarkan di atas : selalu ada momentum besar yang mendahului. Gerakan dan perubahan sangat pesat pada era pasca agraria menuju masyarakat industrialisasi. Dari sanalah pula terjadi embrio ideologi-ideologi dunia yang kemudian masih sangat berdampak hingga kehidupan saat ini.
Namun sebelum menginjak dan membahas lebih jauh, terlebih dahulu kita akan mendefenisikan apa yang disebut dengan gerakan atau pergerakan serta apa pula yang disebut dengan perubahan sosial?
Disini penulis memetakan atau mendefinisikan gerakan sosial secara teoritis dan gerakan social secara praktis. Secara teoritis, menurut Robert Mirsel dalam bukunya Teori Pergerakan Social adalah gerakan ( kemasyarakatan biasanya didefenisikan sebagai seperangkat keyakinan dan tindakan yang tak terlembaga (noninstitusional ) yang dilakukan oleh sekelompok orang untuk memajukan atau menghalangi perubahan di dalam sebuah masyarakat. Robert Mirsel mengakui bahwa defenisi yang dipaparkan tak luput dari kontroversi, namun bisa menjadi kerangka acuan dalam menganalisa sebuah pergerakan kemasyarakatan. Sedangkan secara praktis seperti yang dipaparkan oleh Timur Mahardika dalam bukunya Gerakan Massa, adalah proses penyusunan kekuatan dari pihak-pihak yang menghendaki perubahan, dan secara bertahap menggelar tindakan-tindakan (aksi ) sedemikian rupa sehingga perubahan bergulir. sama dengan defenisi gerakan sosial teoritis, oleh Timur Mahardika, diakui definisi ini tidaklah baku namun dinamis. Dalam artian dapat direkontruksi untuk kemudian mendapatkan definisi yang dianggap lebih representative melihat sebuah gerakan praktis.
Fokus tulisan ini adalah tipe-tipe gerakan, karakter gerakan, serta
perjalanan sejarah sebuah gerakan : kapan sebuah gerakan mengalami perkembangan
pesat dan kapan sebuah gerakan mengalami kemandekan atau surut? Sebuah gerakan selalu mempunyai dua sisi : kadang pada suatu momen sangat populer, dan sebaliknya, sangat tidak popular dan akhirnya tidak di pakai dalam
pergerakan masyarakat. Penting untuk diperhatikan serta
dikritisi adalah mengapa dan siapa actor yang melatar belakangi sebuah gerakan
hancur atau mengalami kemerosotan.
Secara garis besar ada dua tipe gerakan, yaitu pertama, gerakan ledakan atau spontanitas terjadi secara tidak terorganisir tapi hanya merespon dengan cepat apa yang terjadi pada saat itu. Sebagaimana yang digambarkan oleh seorang pemikir muslim dan juga salah satu aktor di belakang terjadinya Revolusi Iran pada tahun 1978/1979, Murtadah Mutahhari, bahwa tipe pertama ini adalah revolusi ledakan.
Kedua, gerakan yang sudah terorganisir di mana semua perangkat aksi gerakan sudah dipersiapakan secara matang sebelum mengambil langkah-langkah untuk mengusung sebuah perubahan. Murtadha Mutahahari mengkategorikan gerakan ini dengan revolusi secara kesadaran penuh.
Sedangkan gerakan sosial dari sisi karakter gerakan, pun sangat beragam. Gerakan mempunyai aspek-aspek khusus yang kita sebut karakter gerakan di atas : ada gerakan yang memang berkarakter “anarkhis”. Artinya setiap aksi yang dijalakan kebanyakan dengan settingan chaos. Kita juga menjumpai aksi-aksi yang sebaliknya, yaitu gerakan dengan karakter lemah atau cinta damai, sehingga dalam settingan aksinya pun dengan jalan damai, tanpa harus berlawanan dengan pentungan-pentungan polisi, berpanas-panas matahari hingga kepanasan jenggot mendengar teriakan serta makian anti demonstran.


