Kampung Indonesia Sebagai Identitas

Facebook
RSS

Ideologi Alternatif : Mengenal Sistem Islam (5 akhir)

-
Arung Shad S


Menyinggung Islam sebagai konsepsi keadlian sosial ekonomi, selalu mengharuskan kita untuk menengok ke belakang : realitas Umat Islam di masa kejayaannya. Ya, sejarah terbentuknya tatanan Negara madinah, yang secara sederhana melahirkan konsepsi liberty dan equality. Prinsip rahmatan lilalamin membawa islam mampu mengglobal dan dapat diterima oleh dan untuk semua kalangan, baik dari segi ekonomi (miskin-kaya), dari segi sosial (kelas atas-menengah-kelas bawah), dan dari segi kepercayaan (yahudi-nasrani-dan kepercayaan lain).

Negara madinah memberi bukti  dan fakta, bahwa Islam mengayomi masyarakat heterogen dengan membuat kesepakatan-kesepakatan untuk kepentingan bersama. Artinya, ketika Islam menjadi ideologi dominan, praktek kekerasan, penindasan manusia atas manusia, ekploitasi kelompok atas kelompok tidak terjadi.

Muhammad sebagai pembawa risalah Tuhan yang terakhir, memperlihatkan penghormatan besar pada martabat manusia tanpa melihat status sosial. Keinginannya untuk membentuk masyarakat tanpa konsep hirarki sosial kala itu adalah sebuah lompatan revolusioner. Menurut  Ashgar Ali Angineer, bukan tanpa sebab Muhammad mengangkat seorang budak hitam sebagai muazzin (tukang adzan)—sebuah posisi yang diingini banyak sahabat nabi waktu itu, namun merupakan sebuah manifestasi kesetaraan Islam. Semua warga negara mempunyai kesempatan sama. Sabda Muhammad yang sangat popular, “jika Fatimah (putri Muhammad sendiri) mencuri maka aku tidak segan-segan memotong tangannya.”

Di samping revolusioner secara sosial dan hukum, Islam pun mempunyai pandangan pemeraatan ekonomi yang bervisi : konsepsi riba (praktek eksploitatif dan apapun yang kemudia menguntungkan para kapitalis) harus segera dienyahkan dalam sebuah masyarakat. Masyarakat Muslim mempunyai pra-syarat utama, yaitu tidak ada penindasan serta eksploitasi manusia atas manusia, terbebasnya satu kelompok dari penjajahan dari kelompok yang lain.

Fenomena  hampir semua Negara muslim diperintah oleh Raja, Syeikh, Diktator Militer, yang jauh dari konsepi demokrasi : Liberty dan Equality, adalah tanda tanya besar. Seorang Pemikir Islam, Ashgar Ali mempunyai kesimpulan sendiri : tidak lain pergolakan politik kekuasaan dan kepentingan ekonomi dalam tubuh umat Islam yang memberangus tatanan demokrasi yang berlaku dan dipraktekkan Muhammad.

Zaman peralihan demokrasi ke feodal-otoriter diprakarsai Muawaiyah. Sebelum turun singgasana, dia menunjuk anaknya secara sepihak sebagai pewaris. Zaman edan ini, oleh seorang pemikir islam kontemporer, Almaududi, disebutnya zaman peralihan dari khilafah ke mulukiyat atau kerajaan. Bencana demi bencana kemudian mengiringi setiap jejak sejarah umat islam, serta prinsip-prinsip islam banyak yang ditinggalkan. Komitmen nabi terhadap masyarakat adil sosial ekonomi lenyap diterpa badai pemerintah despotis Yazid Bin Muawiyah.

Lantas, khalifah hanya menjadi sebuah symbol yang jauh dari makna sebenarnya. Penguasa muslim memakai baju khalifah namun tidak memliki prinsip pemilihan sama sekali. Islam rusak karena kepentingan kekuasaan dan ekonomi para penguasa berbaju muslim.

Artinya, tata nilai ideaL Islam masih sangat relevan untuk saat ini dengan reinterpretasi kontekstual. konsepsi keadilan sosial ekonomi yang sudah dipraktekkan pun kembali bisa kita gali sebagai ideologi alterternatif—karena kegagalan demi kegagalan ideologi kapitalisme maupun sosialis Marxian dalam konsep serta praktek keadilan sosial ekonomi.

Daftar Pustaka

1. Ali Angineer, Ashgar, Islam Dan Teologi Pembebasan, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, cet.iii  2003
2.____, Liberalisasi Teologi Islam Membangun Teologi Damai Dalam Islam, Alenia,Yogyakarta, 2004
3. Zainuddin Maliki, Narasi Agung Tiga Teori Sosial Hegemonic,Lpam,Surabaya,2004
4. Muh.Jumhur Hidayat, Manifesto Kekuatan Ketiga,Gaspermindo,Jakarta Timur,2002
5. Maududi, A, Khilafah Dan Kerajaan, Mizan,Bandung, 1984
6. Harun Nasution, Teologi Islam, Ui Press, Jakarta, 1986
7. Yasraf A. Piliang, Posrealitas Realitas Kebudayaan Dalam Era Posmetafisika,jalasutra, bandung, 2004
8. Syarur,Muhammad, Tirani Islam Geneologi Masyarkat Dan Negara, Lkis, Yogyakarta, 2003
9. Abad Badruzaman, Kiri Islam Hasan Hanafi,Menggugat Kemapanan Agama Dan Politik, Tiara Wacana, Yogyakarta, 2005
10. El Fadl, Khaled Abou, Islam Dan Tantangan Demokrasi, Ufuk, Jakarta Selatan, 2004
11. kanderson, k sthepen, makro sosisologi,
12. shimogaki, kazoo, kiri islam antara modernisme dan posmodernisme, lkis, yogyakarta, 1988
13. Muthahhari, Murtadha, Falsafah Pergerakan Islam, Mizan, Bandung,1993
14._____, Falsafah Kenabian, Pustaka Hidayah, Jakarta Pusat, 1991
15. Mansour, fakih, Runtuhnya Teori Pembangunan dan Globalisasi,