Kampung Indonesia Sebagai Identitas

Facebook
RSS

Industri Rumah Sakit : RS. Saiful Anwar (1)

-
Arung Shad S


Industri rumah sakit di belahan dunia ketiga sangat berkembang. Sebagai industri, mencari keuntungan adalah prioritas. Sebaliknya, sebagai pelayanan publik, unsuru sosial tidak boleh dinafikan. Hal inilah yang tidak jarang melahirkan dilema-dileman. Tulisan ini fokus pada rumah sakit Saiful Anwar di Kota Malang, Jawa Timur.

Fenomena Banyak pasien yang tidak mendapat perhatian penuh, baik dari dokter ataupun dari para staff rumah sakit sering terjadi. Di samping itu, terlihat jelas pengunjung pasien kelas dua juga bernasib kurang mendapat perhatian : mereka berbaring, teridur pada bagian luar ruangan pasien membawa peralatan tidur sendiri. Tidak ada perhatian penuh dari pihak rumah sakit. Kehadiran Mereke seakan tidak diharapkan oleh pihak rumah sakit.

Keadaan  para pasien dan pengunjungnya yang telantar mengindikasikan atau representasi dari rakyat ekonomi menengah ke bawah. Ya, maklum kelas dua. Selama  kurang lebih dua jam mengamati rumah sakit Saiful Anwar Kota Malang, pemandangan seolah bagai rumah kumuh, alih alih tempat penyembuhan malah tempat berjamurnya penyakit-penyakit sosial.

Sangat kontras ketika melihat dan mengunjungi ruangan VIP rumah sakit. Seluruh fasilitas bagi kalangan atas seolah mengambarkan kondisi perpaduan antara mall dan rumah pribadi : ruang ber-AC, privasi terjaga dan berbagai kemanjaan bagi pasien. Pemandangan yang jauh berbeda ini adalah sebuah perhelatan sosial “lumrah” yang selalu muncul di dunia berkembang (baca, dunia ketiga).  

Rumah  sakit Saiful Anwar adalah alat pelayanan Pemerintah Kota Malang pada rakyat malang, ahirnya terjebak dalam permainan murni industri. Pilihan dilema industri profit dan kewajiban sosial tidak terlihat. Sebagai rumah sakit negri, yang dibangun atau berdiri di atas keringat rakyat, sangat disayangkan Saiful Anwar tidak mementingkan masyarakat kelas dua di Kota Malang. Rumah yang mendapatkan masukan atau suntikan dana dari pajak-pajak yang dibayarkan rakyat selama ini sebagai pelayan publik untuk kesehatan, bukan sebaliknya : tempat pamer kelas antar si miskin dan si kaya, yang melahirkan wabah penyakit sosial.