Industri rumah sakit di belahan dunia ketiga
sangat berkembang. Sebagai industri, mencari keuntungan adalah prioritas. Sebaliknya,
sebagai pelayanan publik, unsuru sosial tidak boleh dinafikan. Hal inilah yang
tidak jarang melahirkan dilema-dileman. Tulisan ini fokus pada rumah sakit
Saiful Anwar di Kota Malang, Jawa Timur.
Fenomena Banyak pasien
yang tidak mendapat perhatian penuh, baik dari dokter ataupun dari para staff rumah sakit sering terjadi. Di samping itu, terlihat jelas
pengunjung pasien kelas dua juga bernasib kurang mendapat perhatian : mereka berbaring, teridur pada bagian luar ruangan pasien membawa
peralatan tidur sendiri. Tidak ada perhatian penuh dari pihak rumah sakit. Kehadiran Mereke seakan
tidak diharapkan oleh pihak rumah sakit.
Keadaan para pasien dan pengunjungnya
yang telantar mengindikasikan atau representasi dari rakyat ekonomi menengah ke
bawah. Ya, maklum kelas dua. Selama kurang lebih dua jam mengamati rumah sakit Saiful
Anwar Kota Malang, pemandangan seolah
bagai rumah kumuh, alih alih tempat penyembuhan malah tempat berjamurnya
penyakit-penyakit sosial.
Sangat kontras ketika
melihat dan mengunjungi ruangan VIP rumah sakit. Seluruh fasilitas bagi
kalangan atas seolah mengambarkan kondisi perpaduan antara mall dan rumah pribadi : ruang ber-AC,
privasi terjaga dan berbagai kemanjaan bagi pasien. Pemandangan yang jauh
berbeda ini adalah sebuah perhelatan sosial “lumrah” yang selalu muncul di
dunia berkembang (baca, dunia ketiga).
Rumah sakit Saiful Anwar adalah alat pelayanan Pemerintah Kota Malang pada rakyat malang, ahirnya terjebak dalam permainan murni industri. Pilihan
dilema industri profit dan kewajiban sosial tidak terlihat. Sebagai rumah sakit negri, yang dibangun atau berdiri di atas keringat rakyat, sangat disayangkan Saiful Anwar tidak mementingkan
masyarakat kelas dua di Kota Malang. Rumah yang mendapatkan masukan atau
suntikan dana dari pajak-pajak yang dibayarkan rakyat selama ini sebagai pelayan publik untuk kesehatan, bukan
sebaliknya : tempat pamer kelas antar si miskin dan si kaya, yang melahirkan wabah penyakit sosial.


