Kampung Indonesia Sebagai Identitas

Facebook
RSS

Perjuangan Gie : Realitas Aktivis Kini (2)

-
Arung Shad S


Bagian dua

Ahmad Wahib 
Minat massa malah kepada kalangan kampus,yang kita sebut sebagai mahasiswa utun, mahasiswa berwatak kelas. Naïf memang, ketika individu/kelompok yang mengklaim diri sebagai kaum-kaum yang berkesadaran kritis, sangat tertinggal dalam implementasi ide-ide atau materialisasi wacana yang berkembang. naïf dalam pergerkan menuju sebuah perubahan, menuju tatanan ideal, baik pada lingkungan sekitar kos-kosan,lingkungan masyarakat kampus serta masyarkat yang lebih besar yaitu sebuah negara bangsa.
Justru, mahasiswa, yang kadang kita sebut berkesadaran magij atau tahap kesadaran naïf sangat kritis serta bersegera dalam tatanan praksis.

Serta sangat ironi, ketika kaum-kaum aktivis dan sebangsanya dengan lugas mengakui diri, bahwa mereka memang kurang dalam praksis sosial, tertinggal dalam penyikapan-penyikapan realitas yang menindas pada masyarakat.

Dalam konteks inilah refleksi dalam kelompok-kelompok kritis, sangat dibutuhkan, untuk menyegarakan kembali kaum-kaum yang mengklaim diri wacanais tanpa tanding, singa-singa forum.
Realitas-realitas diatas, membuat kawan-kawan mahasiswa sumpek,muak bahkan phobi terhadapa organisasi. juga tidak lepas dari hal itu semua, disadari atau tidak, split personality sangat berpengaruhi.

Jika sedikit kemabali jaman 60-an, ada yang menarik dari kelompok kritis ini. sebagai misal kepada HMI, jendral sudirman pernah mengatakan bahwa HMI adalah harapan masyarakat Indonesia. seorang pengamat waktu itu, mengatakan kenapa HMI sangat ditakuti oleh lawan politiknya seperti PKI serta sangat berperan dalam pengambilan kebijakan politik adalah dikeranakan himpunan bisa secara cepat memasiffkan anggotanya dalam bergerak menyikapi realitas-realitas kebangsaan.

Lalu ada apa dengan realitas mahasiswa gerakan hari ini?. lamban, tidak loyal kepada perjuangan, bermain ditataran elit tanpa memahami maksud gerss root, adalah ciri-ciri mereka. apa yang kelompok kritis mampu lakukan sebagai sebagai manifestasi keberpihakannya serta sumbangsinya kepada masyarakat, kepada kaum-kaum mustadafin ? mampukah kita menyingkirkan ruang-ruang stigma negative dari pihak eksternal? kemudian, mengembalikan pandangan yang obyektif bahkan harapan atau ekspektasi masyarakat kembali bergejolak pada kita? Mampukah menyingkirikan stigma dan keluar dari lorong-lorong gelap kelambanan serta tidak pekanya terhadap realitas kebangsaan ?

Bersamaan dengan terpilihnya kader cabang bandung menahkodai himpunan ini dalam kongres ke 24 di makassar kemarin, maka akan terjadi ekspektasi-ekspektasi dari kader secara internal dan tentunya kalangan-kalangan eksternal punya ekspektasi pada organisasi mahasiswa terbesar serta tertua ini. Dan pertanyaan diatas menjadi bagian kecil dari sekian banyak tumpukan tugas yang diemban pengurus besar dua tahun kedepan.
Akhirnya penulis sebagai kader pun hanya mampu membantu berupa doa kepada kawan-kawan PB semoga Himpunan keluar dari segala lorong-lorong yang menjebak menuju sebuah stagnasi multi dimensi pada setiap jejak langkahnya.