Bagian dua
![]() |
| Ahmad Wahib |
Justru,
mahasiswa, yang kadang kita sebut berkesadaran magij atau tahap kesadaran naïf
sangat kritis serta bersegera dalam tatanan praksis.
Serta
sangat ironi, ketika kaum-kaum aktivis dan sebangsanya dengan lugas mengakui
diri, bahwa mereka memang kurang dalam praksis sosial, tertinggal dalam
penyikapan-penyikapan realitas yang menindas pada masyarakat.
Dalam
konteks inilah refleksi dalam kelompok-kelompok kritis, sangat dibutuhkan,
untuk menyegarakan kembali kaum-kaum yang mengklaim diri wacanais tanpa
tanding, singa-singa forum.
Realitas-realitas
diatas, membuat kawan-kawan mahasiswa sumpek,muak bahkan phobi terhadapa
organisasi. juga tidak lepas dari hal itu semua, disadari atau tidak, split
personality sangat berpengaruhi.
Jika
sedikit kemabali jaman 60-an, ada yang menarik dari kelompok kritis ini.
sebagai misal kepada HMI, jendral sudirman pernah mengatakan bahwa HMI adalah
harapan masyarakat Indonesia. seorang pengamat waktu itu, mengatakan kenapa HMI
sangat ditakuti oleh lawan politiknya seperti PKI serta sangat berperan dalam
pengambilan kebijakan politik adalah dikeranakan himpunan bisa secara cepat
memasiffkan anggotanya dalam bergerak menyikapi realitas-realitas kebangsaan.
Lalu
ada apa dengan realitas mahasiswa gerakan hari ini?. lamban, tidak loyal kepada
perjuangan, bermain ditataran elit tanpa memahami maksud gerss root, adalah
ciri-ciri mereka. apa yang kelompok kritis mampu lakukan sebagai sebagai
manifestasi keberpihakannya serta sumbangsinya kepada masyarakat, kepada
kaum-kaum mustadafin ? mampukah kita menyingkirkan ruang-ruang stigma negative
dari pihak eksternal? kemudian, mengembalikan pandangan yang obyektif bahkan
harapan atau ekspektasi masyarakat kembali bergejolak pada kita? Mampukah
menyingkirikan stigma dan keluar dari lorong-lorong gelap kelambanan serta
tidak pekanya terhadap realitas kebangsaan ?
Bersamaan
dengan terpilihnya kader cabang bandung menahkodai himpunan ini dalam kongres
ke 24 di makassar kemarin, maka akan terjadi ekspektasi-ekspektasi dari kader
secara internal dan tentunya kalangan-kalangan eksternal punya ekspektasi pada
organisasi mahasiswa terbesar serta tertua ini. Dan pertanyaan diatas menjadi
bagian kecil dari sekian banyak tumpukan tugas yang diemban pengurus besar dua
tahun kedepan.
Akhirnya
penulis sebagai kader pun hanya mampu membantu berupa doa kepada kawan-kawan PB
semoga Himpunan keluar dari segala lorong-lorong yang menjebak menuju sebuah
stagnasi multi dimensi pada setiap jejak langkahnya.


