Kampung Indonesia Sebagai Identitas

Facebook
RSS

Ideologi Islam : Interaksi Dinamis Ideologi Dunia (2)

-
Arung Shad S


Interaksi dinamis ideologi dunia tidak jarang melahirkan persinggungan ”keras”. ketika berbicara antara pergumulan islam sebagai sebuah ideologi dan ideologi "sekuler", yang juga memberi tawaran konsep tata dunia atas nama kemanusiaan, memungkinkan lahir sintesis keras dan lunak. Tata pemerintahan Islam, yang diklaim sebagai yang paling ideal dalam sejarah bergumul dengan demokrasi sebagai konsep sekuler. 

Benturan itu keras dan klasik. Keras karena memakan kurban tidak sedikit dan klasik karena wacana ini sejak awal islam berinteraksi. walaupun belum ada satupun Negara yang mengimplemnetasikan islam ataupun demokrasi sesuai dengan harapan atau sesungguhnya seperti pada tataran teori kedua konsepsi nilai ideologi tersebut.
 
Dalam pada itu, ideologi yakin pada tiga pentahapan fungsionalnya : tahap pertama adalah cara kita melihat dan menangkap alam semesta, eksistensi, dan manusia. Tahap kedua terdiri dari cara khusus kita memahami dan menilai semua benda dan gagasan atau ide-ide yang membentuk lingkungan sosial dan mental kita. Tahap ketika mencakup usulan-usulan, metode-metode, berbagai pendekatan dan keinginan-keinginan yang kita manfaatkan untuk mengubah tatanan lama yang sekiranya kita tidak sepakat dan terlihat sudah tidak searah dengan semangat zaman.

Menurut ali syariati, pada tahap inilah[2] suatu ideologi, dalam hal ini islam seharusnya mulai menjalankan misinya dengan memberikan kepada para pengikut dan pendukungnya pengarahan, tujuan dan cita-cita serta rencan prkatis sebagai dasar perubahan dan kemajuan kondisi sosial yang diharapkan. Dengan demikian, dimasa mendatang kita menlihat dialektika yang konstruktis antara islam sebagai sebuah ideologi dan demokrasi sebagai tatanan ”ideologi” global yang disepakati oleh hampir semua masyarakat dunia.

Memposisikan islam sebagais sebuah ideologi akan terlihat gamblang ketika ada semacam studi komprasi yang memungkin kita melihat ideologi islam di tengah konstelasi ideologi-ideologi dunia seperti kapitalisme, sosialisme dan teori-teori sosial lainnya yang memungkin untuk menjadi sebuah ideologi. Mungkin termasuk disini adalah demokrasi itu sendiri. wacana difocuskan pada demokratisasi—islamisasi di nusantara, Indonesia. Melihat sikap islam adalah menarik ketika menyikapi Bagaimanapun tatanan yang ideal ”demokrasi” telah menjadi pilihan semua masyarakat global yang berwawasan kemajuan.[3]

Jika secara normatif islam sangat dikagumi, berbeda halnya ketika islam dan umatnya dalam realitas sosial. Pun demikian demokrasi, menjadi aksiomatik bahwa mencari ataupun membangun demokrasi dalam system yang tidak demokratis adalah sebuah kepalsuan demokrasi itu sendiri, kita selama ini bermain di dunia seolah-olah, seolah-olah demokratis yang pada substansinya tidak demikian. Demokrasi yang negatif pada tataran sosial ternyata dikarenakan ideologi membawa demokrasi, atau ideologi yang inheren dalam demokrasi yang tidak manusiawi, terlalu didominasi oleh watak-watak kapitalisme.

maka sebenarnya yang terjadi adalah demokrasi ala Negara Maju. Sebuah Demokarsi dalam Anti Demokrasi, ataupun pengambil alihan sebuah tatanan Demokrasi oleh para pemilik modal. akhirnya kita berkesimpulan telah tejadi sebuah Pseudo Demokrasi seperti yang digambarkan Yasraf A. Piliang dalam bukunya Posrealitas.[4]

Hal itu terjadi karena kepentingan kelompok, golongan, serta ideologi kita  sebagai aparatur demokrasi telah mengelabui mata untuk mempraktekkan demokrasi yang sesungguhnya. Kepentingan golongan kecil dalam sekala nasional, hingga kelompok yang bersifat internasional, telah menghambat untuk mempraktekkan ide-ide cemerlang nilai-nilai ataupun konsep inheren Demokrasi—sehingga  menjebak kita menjadi manusia ide an sich, dengan nol besar dalam praktek. “manusia ide hanya dapat diapresiasi jika telah mampu dimplematasikan dalam tataran praksisnya.”[5] karena demokrasi menjadi pilihan kita bersama, dan parahnya di ambil alih secara diam-diam oleh politk kepentingan segelintir orang, maka dibutuhkan aksi-aksi real dan menyentuh substansi permasalahan dari kaum intelektual untuk mengembalikan demokrasi kepada rel yang seharusnya kita junjung bersama, sebuah tawaran nilai kesejahteraan.[6]


[1] David Borchier dan Vedi R. Hadis, Pemikiran Social Dan Politik Indonesia Periode 1965-1999, Jakarta : Grafiti Dan Freedom Institute, 2006, hal. 1015
[2] Ali Syariati, Tugas Cendikiawan Muslim, Raja Wali Press, Jakarta, 1982, hal. 195-196
[3] Tim LP3ES, Politik Editorial Media Indonesia: Analisis Tajuk Rencana  1998-2001, LP3ES, Jakarta, 2002, hal.
[4] Yasraf A. Piliang, Posrealitas:  Realitas Kebudayaan Dalam Era Posmetafisika, Jalasutra, Bandung, 2004, hal.
[5] lebih lanjut lihat Martin Jay, SEJARAH MAZHAB FRANKFRUT : Imajinasi Dialiktis Dalam Perkembangan Teori Kritis, Kreasi Wacana,Yogyakarta 2005, hal. Dalam sebuah pengantar
[6] tim redaksi LP3ES, Politik Editorial Media Indonesia: Analisis Tajuk Rencana 1998-2001