Kampung Indonesia Sebagai Identitas

Facebook
RSS

Keberadaan Dan Kehilangan

-
Arung Shad S


Entah dari mana bermula, tersiar kabar dan sampai pada indra dengarku, bahwa engkau kembali kehilngan sesuatu yang "penting", sesuatu yang sangat dibutuhkan dalam proses menjadi sebagai manusia seutuhnya. Memang persoalan kehilangan manusia pada hal-hal yang dicintainya sering menyertai dalam hidupnya, hal lumrah. Yang perlu dibicarakan dengan datangnya suratku padamu adalah bagaimana/apa reaksimu ketika hal itu terjadi? sama halnya terhadap issue ato kejadian ini, bukan lagi apa issue kejadian yang ditanyakan tapi lebih pada bagaimana/apa reaksi kita semua ketika issue-issue menghampiri ruang kita.

Teks-teks tuhan lewat utusan kepercayaannya pun sedari awal menegaskan, bahwa manusia mempunyai sifat dasar serakah, kikir, dan tentunya sifat lupa yang tidak jarang mengakibatkan kehilangan. Persoalannya, sebagai manusia kita tidak menyadari kalau hal itu semua adalah bagian takdir atau kadar kemanusiaan manusia..

Surat sederhana ini, terlepas bagaimana cara sampai ruang kerjamu, sekali lagi cuma ingin menegaskan bahwa ternyata kadar kemanusiaan dan juga indikasi kesuksesan anak manusia dapat di lihat dari sebuah reaksi awal menghadapi realitas yang sampai pada ruang dengarnya.

My bro...Brek Muhammad,

Teringat kembali, menerawang kembali pada saat menuliskan surat tentang kehilangan ini, kepada seorang ulama hatim al-asih, beliau memberikan empat landasan tawakkalnya. Alkisah dalam satu forum seseorang bertanya kepada beliau; apa landasannya dalam membangun tawakkalnya?

Beliau menjawab, karena aku tahu bahwa pekerjaanku (kewajibanku) tidak mungkin dikerjakan oleh orang lain maka aku akan selalu sibuk mengerjakannya sendiri. kedua, karena aku tahu bahwa rezeki tidak mungkin dimakan oleh selainku, maka dari itu jiwaku selalu tentram.

Pada titik ini, (sebelum kita lanjut pada landasan tawakkal beliau yang ketiga dan keempat), saya melihat bahwa pemaknaan akan "kehilangan" dan "keberadaan" sangat dalam dari beliau. sangat inspiratif dalam konteks hari ini dan tentu sangat bijak pula bila kutipkan kepadamu, brek muhammad yang lagi "berduka" karena musibah kehilangan itu (itupun kalau kau sepakat bahwa setiap kehilangan berarti musibah).
Pemaknaan yang dalam dan sangat mencerahkan tentunya berangkat dari kedalaman pemahaman beliau tentang manusia dan kadar kemanusiaannya yang cukup terbatas, oleh tuhan memang sedari awal dari lauhun mahfuds telah ditetapkan.

Kedalaman pemahaman tentang manusia dan dimensi takdir ikhtiarnya, akan mampu melampui tipuan palsu materialisme duniawai fana. saya berharap, engkau brek muhammad, sahabat yang lagi berjuang dengan segala usaha dan harap mampu mendapatkan sesuap rezeki yang layak dan halal, pun mampu mencapai titik pemaknaan puncak dengan landasan tawakkal tadi.

Keuntungan yang bisa didapat sangat jelas : ada harapan dan tidak stress. Memang benar, bahwa salah satu fungsi sosial agama ialah memberi harapan/espektasi ketika dalam kalkulasi manusia tidak ada lagi harapan.