Entah
dari mana bermula, tersiar kabar dan sampai pada indra dengarku, bahwa engkau kembali
kehilngan sesuatu yang "penting", sesuatu yang sangat dibutuhkan
dalam proses menjadi sebagai manusia seutuhnya. Memang persoalan kehilangan
manusia pada hal-hal yang dicintainya sering menyertai dalam hidupnya, hal
lumrah. Yang perlu dibicarakan dengan datangnya suratku padamu adalah
bagaimana/apa reaksimu ketika hal itu terjadi? sama halnya terhadap issue ato
kejadian ini, bukan lagi apa issue kejadian yang ditanyakan tapi lebih pada
bagaimana/apa reaksi kita semua ketika issue-issue menghampiri ruang kita.
Teks-teks
tuhan lewat utusan kepercayaannya pun sedari awal menegaskan, bahwa manusia
mempunyai sifat dasar serakah, kikir, dan tentunya sifat lupa yang tidak jarang
mengakibatkan kehilangan. Persoalannya, sebagai manusia kita tidak menyadari
kalau hal itu semua adalah bagian takdir atau kadar kemanusiaan manusia..
Surat
sederhana ini, terlepas bagaimana cara sampai ruang kerjamu, sekali lagi cuma
ingin menegaskan bahwa ternyata kadar kemanusiaan dan juga indikasi kesuksesan
anak manusia dapat di lihat dari sebuah reaksi awal menghadapi realitas yang
sampai pada ruang dengarnya.
My bro...Brek
Muhammad,
Teringat
kembali, menerawang kembali pada saat menuliskan surat tentang kehilangan ini,
kepada seorang ulama hatim al-asih, beliau memberikan empat landasan
tawakkalnya. Alkisah dalam satu forum seseorang bertanya kepada beliau; apa landasannya
dalam membangun tawakkalnya?
Beliau
menjawab, karena aku tahu bahwa pekerjaanku (kewajibanku) tidak mungkin
dikerjakan oleh orang lain maka aku akan selalu sibuk mengerjakannya sendiri.
kedua, karena aku tahu bahwa rezeki tidak mungkin dimakan oleh selainku, maka
dari itu jiwaku selalu tentram.
Pada
titik ini, (sebelum kita lanjut pada landasan tawakkal beliau yang ketiga dan
keempat), saya melihat bahwa pemaknaan akan "kehilangan" dan
"keberadaan" sangat dalam dari beliau. sangat inspiratif dalam
konteks hari ini dan tentu sangat bijak pula bila kutipkan kepadamu, brek
muhammad yang lagi "berduka" karena musibah kehilangan itu (itupun kalau
kau sepakat bahwa setiap kehilangan berarti musibah).
Pemaknaan
yang dalam dan sangat mencerahkan tentunya berangkat dari kedalaman pemahaman
beliau tentang manusia dan kadar kemanusiaannya yang cukup terbatas, oleh tuhan
memang sedari awal dari lauhun mahfuds telah ditetapkan.
Kedalaman
pemahaman tentang manusia dan dimensi takdir ikhtiarnya, akan mampu melampui
tipuan palsu materialisme duniawai fana. saya berharap, engkau brek muhammad,
sahabat yang lagi berjuang dengan segala usaha dan harap mampu mendapatkan
sesuap rezeki yang layak dan halal, pun mampu mencapai titik pemaknaan puncak
dengan landasan tawakkal tadi.
Keuntungan
yang bisa didapat sangat jelas : ada harapan dan tidak stress. Memang benar,
bahwa salah satu fungsi sosial agama ialah memberi harapan/espektasi ketika
dalam kalkulasi manusia tidak ada lagi harapan.


