Dalam era globalisasi saat ini, lompatan perubahan
sedemikian dahsyat, terjadii dalam hitungan detik. Hal ini dipotret oleh
seorang pakar sosial dan politik, Anthony Giddens, bahwa dunia kita saat ini
bagai truk besar yang menggelinding tanpa bisa dikendalikan. Fenomena ini
memaksa kelompok-kelompok Gerakan Resistensi yang memaknai globalisasi sebagai
wadah atau bentuk lain dari Koloniliasasi---sebuah bentuk Imperalialisme baru pasca penjajahan secara
fisik.
Adapun salah satu
ciri dari globalisasi adalah sebuah penyeragaman atau universalitas dari segala
bentuk. Ini pula yang diamini oleh rezim Orde Baru dengan menerapkan model
kebijakan pembangunannya secara seragam (comformity).
Dan, disadari atau tidak, paradigma demikian telah menafikan
entitas budaya setempat atau kearifan lokal. Pengamat yang kritis dan ideologis
melihat,bahwa modernisme di dunia ketiga ala Rustow, tak lain adalah sebuah
tragedy persatean bangsa-bangsa
nusantara yang sangat majemuk. Padahal, keanekaragaman budaya ini merupakan potensi
positif konsruktif dari negara manapun di dunia.
Pernyataan menarik dari seorang Baharuddin Lopa yang
mengatakan, budaya Bugis-Makassar telah mengenal sebuah budaya yang kompatibel
dengan sebuah sistem politik global saat ini—yakni sistem demokrasi.
Pada saat itu, seorang raja memberikan keluasan atau
wadah bagi rakyat Sulawesi yang tidak
sepakat dengan kebijakan-kebijakannya. Rakyat akan berkumpul di tanah lapang
untuk berdialog secara langsung dengan raja dan staf-stafnya. Pun demikian,
dengan budaya siri’. Meski banyak interpretasi, tetapi kita bisa melihat
segi-segi positif dari sebuah budaya siri’ seperti ungkapan siri’ emmi
rionrowang ri-lino, dalam ungkapan itu siri’ sebagai hal yang memberi
identitas sosial dan martabat kepada seseorang pada khususnya, dan masyarakat
Bugis-Makassar pada umumnya. Hanya kalau ada martabat itulah maka hidup itu ada
artinya.
Hal di atas merupakan penggalan dari sekian banyak
Kearifan-kearifan local yang belum kita gali di bumi pertiwi ini. Bukan
sebaliknya, keragaman budaya lokal akan menimbulkan sebuah persepsi seolah-olah
mempertegas identitas suatu komunitas tertentu akan memicu benturan budaya,
benturan kepentingan yang akhirnya mengancam integarasi kebangsaan nusantara.
Dengan menggali kearifan-keariafan lokal, maka kekuatan
dan karakter bangsa bisa dijadikan sebagai amunisi untuk mempertegas perpaduan
identitas lokal.
Bukankah seharusnya, kita membangun indonesia sebagai
negara dengan latar historis demikian?
Semoga elit pemegang kuasa di negeri ini, sadar akan
potensi lokal kita..
Ya, semoga kesadaran berbudaya itu ada di benak mereka.


