Kampung Indonesia Sebagai Identitas

Facebook
RSS

Budaya Lokal "Hanyut" Arus Globalisai

-
Arung Shad S


 Dalam era globalisasi saat ini, lompatan perubahan sedemikian dahsyat, terjadii dalam hitungan detik. Hal ini dipotret oleh seorang pakar sosial dan politik, Anthony Giddens, bahwa dunia kita saat ini bagai truk besar yang menggelinding tanpa bisa dikendalikan. Fenomena ini memaksa kelompok-kelompok Gerakan Resistensi yang memaknai globalisasi sebagai wadah atau bentuk lain dari Koloniliasasi---sebuah bentuk  Imperalialisme baru pasca penjajahan secara fisik.

Adapun  salah satu ciri dari globalisasi adalah sebuah penyeragaman atau universalitas dari segala bentuk. Ini pula yang diamini oleh rezim Orde Baru dengan menerapkan model kebijakan pembangunannya secara seragam (comformity).

Dan, disadari atau tidak, paradigma demikian telah menafikan entitas budaya setempat atau kearifan lokal. Pengamat yang kritis dan ideologis melihat,bahwa modernisme di dunia ketiga ala Rustow, tak lain adalah sebuah tragedy persatean bangsa-bangsa nusantara yang sangat majemuk. Padahal, keanekaragaman budaya ini merupakan potensi positif konsruktif dari negara manapun di dunia.

Pernyataan menarik dari seorang Baharuddin Lopa yang mengatakan, budaya Bugis-Makassar telah mengenal sebuah budaya yang kompatibel dengan sebuah sistem politik global saat ini—yakni sistem  demokrasi.

Pada saat itu, seorang raja memberikan keluasan atau wadah  bagi rakyat Sulawesi yang tidak sepakat dengan kebijakan-kebijakannya. Rakyat akan berkumpul di tanah lapang untuk berdialog secara langsung dengan raja dan staf-stafnya. Pun demikian, dengan budaya siri’. Meski banyak interpretasi, tetapi kita bisa melihat segi-segi positif dari sebuah budaya siri’ seperti ungkapan siri’ emmi rionrowang ri-lino, dalam ungkapan itu siri’ sebagai hal yang memberi identitas sosial dan martabat kepada seseorang pada khususnya, dan masyarakat Bugis-Makassar pada umumnya. Hanya kalau ada martabat itulah maka hidup itu ada artinya.     

Hal di atas merupakan penggalan dari sekian banyak Kearifan-kearifan local yang belum kita gali di bumi pertiwi ini. Bukan sebaliknya, keragaman budaya lokal akan menimbulkan sebuah persepsi seolah-olah mempertegas identitas suatu komunitas tertentu akan memicu benturan budaya, benturan kepentingan yang akhirnya mengancam integarasi kebangsaan nusantara.
Dengan menggali kearifan-keariafan lokal, maka kekuatan dan karakter bangsa bisa dijadikan sebagai amunisi untuk mempertegas perpaduan identitas lokal.

Bukankah seharusnya, kita membangun indonesia sebagai negara dengan latar historis demikian?

Semoga elit pemegang kuasa di negeri ini, sadar akan potensi lokal kita..
Ya, semoga kesadaran berbudaya itu ada di benak mereka.