Melihat dan juga berlandaskan teori fenomena
perubahan, bahwa ada key person yang bisa menjadi pioner perbuhan secara cepat.
Maka gerakan pro hospitality inipun tidak lepas atau menafikan beberapa elemen
kunci untuk memaraptkan barisan di kalangan seluruh manusia kampus.
Pertama. Yang
diharapkan merapatkan barisan gerakan ini adalah seluruh manusia kampus yang
berasala dari sulawesi, disamping mereka mempunyai akses ke beberapa organisasi
mahasisiswa di kampus, juga menjadi kunci atau pintu gerbagn untuk mengajak
seluruh mahasiswa yang bersal dari bagian Indonesia timur.
Kedua. Element
kunci kedua tentunya para petinggi oragnisasi mahasiswa yang ada di kampus.
Bagaimanapun kita semua sepakat bahwa perubahan dengan dari atas dalam bentuk
struktur masihlah dibutuhkan sampai hari ini, sehingga harapannya mereka yang
mempunyai basis massa mampu membuat perubahan yang signifikan dengan ketokohan
mereka di organisasi masing-masing.
Ketiga. Elemen
yang tidak kalah penting adalah seluruh element birokrat kampus, dimana
masifikasi sosialisasi dan dukungan mereka dalam bentuk memberikan ruang-ruang
kreasi, ruang untuk mahasiswa yang tergabung dalam gerakan ini untuk mengaktualisasi diri, menjadi salah
satu factor penentu. Disini birokrat kampus sebagai partner gerakan. Berhasil
tidaknya sebuah gerakan yang dilakukan oleh manusia kampus dapat dilihat dari,
siapa partnernya dalam garakannya, sebagai missal, keberhasilan manusia kampus
yang terkenal sebagai angkatan 66 tidak bisa dilepaskan karena keberadaan
tentara nasional Indonesia sebagai partner politik mahasiswa, yang mempunyai
kepentingan bersama untuk melakukan serangkain perubahan dalam tata kelola
pemerintahan.
Demikianlah
sebuah deskripsi gerakan pro hospitaliniasme, sebuah gerakan yang terinspirasi
dari fenomena yang ada di Negara-negara eropa barat, tapi penulis melihat
adanya relevansi untuk nusantara, melihat banyaknya perbedaan yang ada dalam
tubuh masyarakat nuantara itu sendiri. Dan sebenarnya, bentuk-bentuk gerakan
yang dikemukakan diatas sudah lama dilakukan oleh banyak manusia kmpaus,
khususnya manusia kampus universitas muhammadiyah malang, namun belum focus
pada bagaimana menyikapi persoalan-persoalan yang terjadi antara pendatang baru
dan masyarakat setempat.
Adanya
harmonisasi antara sesame warga Negara, dianggap mendesak saat ini, melihat
fenomena pasca reformasi, dimana pembunuhan serta pembantaian serta pengusiran
sesame warga Negara banyak terjadi atas nama perbadaan suku, golongan, ras dan
agama disingkat “SARA”. Ketika
stabilitas social politik intern masyarakat indoensia terjadi, diharapkan
mereka juga mampu masuk dalam kampung-kampung global. Bukankah masyarakat
nusantara sejak dahulu terkenal sebagai masyarakat yang ramah terhadap
pendatang. Penulis melihat optimis, dengan potensi-potensi keramahan yang ada
di nuantara sehingga mampu pro aktif dalam interaksi masyarakat global yang
hari ini menjadi tantangan besar semua element negara bangsa di dunia,
semoga!...
DAFTAR PUSTAKA
- Amin Maaluof,2004,
The End Of Identity,resist book,
jogjakarta
- Jacques Derrida,
2005,Kosmopalitanisme Dan
Forgiveness, alenia press, jogjakarta
- Idi Subandy
Ibrahim, 2004, Dari Nalar Keterasingan Menuju Nalar
Pencerahan,jalasutra, yogyakarta
- Sularto, 2003, Niccolo Machvialli “Penguasa Arsitek Masyarakat”,Kompas press,
Jakarta


