Kampung Indonesia Sebagai Identitas

Facebook
RSS

Pro Hospitalianisme : Kelompok Soft Radikal (4)

-
Arung Shad S

Bagian akhir

Melihat dan juga berlandaskan teori fenomena perubahan, bahwa ada key person yang bisa menjadi pioner perbuhan secara cepat. Maka gerakan pro hospitality inipun tidak lepas atau menafikan beberapa elemen kunci untuk memaraptkan barisan di kalangan seluruh manusia kampus.

Pertama. Yang diharapkan merapatkan barisan gerakan ini adalah seluruh manusia kampus yang berasala dari sulawesi, disamping mereka mempunyai akses ke beberapa organisasi mahasisiswa di kampus, juga menjadi kunci atau pintu gerbagn untuk mengajak seluruh mahasiswa yang bersal dari bagian Indonesia timur.

Kedua. Element kunci kedua tentunya para petinggi oragnisasi mahasiswa yang ada di kampus. Bagaimanapun kita semua sepakat bahwa perubahan dengan dari atas dalam bentuk struktur masihlah dibutuhkan sampai hari ini, sehingga harapannya mereka yang mempunyai basis massa mampu membuat perubahan yang signifikan dengan ketokohan mereka di organisasi masing-masing.

Ketiga. Elemen yang tidak kalah penting adalah seluruh element birokrat kampus, dimana masifikasi sosialisasi dan dukungan mereka dalam bentuk memberikan ruang-ruang kreasi, ruang untuk mahasiswa yang tergabung dalam gerakan  ini untuk mengaktualisasi diri, menjadi salah satu factor penentu. Disini birokrat kampus sebagai partner gerakan. Berhasil tidaknya sebuah gerakan yang dilakukan oleh manusia kampus dapat dilihat dari, siapa partnernya dalam garakannya, sebagai missal, keberhasilan manusia kampus yang terkenal sebagai angkatan 66 tidak bisa dilepaskan karena keberadaan tentara nasional Indonesia sebagai partner politik mahasiswa, yang mempunyai kepentingan bersama untuk melakukan serangkain perubahan dalam tata kelola pemerintahan.

Demikianlah sebuah deskripsi gerakan pro hospitaliniasme, sebuah gerakan yang terinspirasi dari fenomena yang ada di Negara-negara eropa barat, tapi penulis melihat adanya relevansi untuk nusantara, melihat banyaknya perbedaan yang ada dalam tubuh masyarakat nuantara itu sendiri. Dan sebenarnya, bentuk-bentuk gerakan yang dikemukakan diatas sudah lama dilakukan oleh banyak manusia kmpaus, khususnya manusia kampus universitas muhammadiyah malang, namun belum focus pada bagaimana menyikapi persoalan-persoalan yang terjadi antara pendatang baru dan masyarakat setempat.

Adanya harmonisasi antara sesame warga Negara, dianggap mendesak saat ini, melihat fenomena pasca reformasi, dimana pembunuhan serta pembantaian serta pengusiran sesame warga Negara banyak terjadi atas nama perbadaan suku, golongan, ras dan agama disingkat “SARA”. Ketika stabilitas social politik intern masyarakat indoensia terjadi, diharapkan mereka juga mampu masuk dalam kampung-kampung global. Bukankah masyarakat nusantara sejak dahulu terkenal sebagai masyarakat yang ramah terhadap pendatang. Penulis melihat optimis, dengan potensi-potensi keramahan yang ada di nuantara sehingga mampu pro aktif dalam interaksi masyarakat global yang hari ini menjadi tantangan besar semua element negara bangsa di dunia, semoga!...

DAFTAR PUSTAKA

  1. Amin Maaluof,2004, The End Of Identity,resist book, jogjakarta
  2. Jacques Derrida, 2005,Kosmopalitanisme Dan Forgiveness, alenia press, jogjakarta
  3. Idi Subandy Ibrahim, 2004, Dari Nalar Keterasingan Menuju Nalar Pencerahan,jalasutra, yogyakarta
  4. Sularto, 2003, Niccolo Machvialli “Penguasa Arsitek Masyarakat”,Kompas press, Jakarta