Masyarakat
nusantara dikenal dengan masyarakat agraris. Mempunyai kebiasaan-kebiasaan yang hari ini dapat dikatakan sebagai
kekayaan budaya nusantara adalah salah satu cirinya. Ajaran-ajaran ataupun kebiasaan-kebiasaan tadi memperkaya keanekaragaman
masyarakat nusantara, yang inklud dalam Negara kesatuan
Indonesia. Ketika ajaran atau pun kebiasaan melembaga dalam
suatu masyarakat, maka dapat dikatakan menjadi
nilai-nilai yang disepakati masyarakat tersebut. Perbedaan
nilai-nilai yang telah melembaga di setiap daerah menjadi sebuah kearifan local
setempat.
Salah satu
yang sering terlihat dalam masyarakat kita, khususnya dalam area masyarakat
makassar adalah tradisi Main Domino (baca, domeng). Bahkan Kahar
Muzakkar, seorang pemberontak dalam kamus pemerintah Soekarno pun dikenal dengan la domeng, yang berarti raja main
domino.
Namun banyak
dari kita apalagi yang bukan bagian dari masyakarat makassar bertanya apa yang
menarik dari domino? Apakah hanya tradisi belaka? Apa manfaatnya dan seterusnya dan seterusnya,
masih banyak pertanyaan yang masihlah mengganjal melihat fenomena domino?
Fokus tulisan ini tidak punya kapasitas menjawab
beribu pertanyaan domino di atas, namun lebih jauh mengkaji makna filosofis dan
sosiologis tradisi domino.
Memang dalam
perkembangannya, generasi makassar tatap melanggengkan tradisi ini, kapan dan dimana pun. Bahkan seluruh generasi sulawesi selatan yang
menuntut ilmu di pulau jawa tetap setia pada tradisi ini. tapi lebih pada
bagaimana sekedar mengisi waktu, bagaiama meriahkan acara pernikahan dll. Sangat disayangkan bahwa kajian nilai-nilai yang terkandung di dalamnya
seakan-akan terlupakan dalam pusaran deru debu industrialisasi yang seolah-olah
tak pernah tidur dengan segala aktivitas mesin pabrik. Ataupun
tergusur dari benak mahasiswa yang ada di pulau jawa karena kesibukan
masing-masing.
Makna yang
terlupakan dari tradisi ini sangatlah dalam. Bagi penulis, domino berangkat
dari nilai-nilai pembelajaran hidup oleh leluhur makassar. Sebagaimana diketahui, domino tercipta pertama kali atau dibawa dari
tanah cina, namun dalam perkembangan sejarah masyarakat makassar hal ini
mempunyai arti penting.
Domino kita
ibaratkan sebagai kehidupan. Kemudian dari kehidupan itu kita mengenal yang
namanya takdir ilahi atau nasib, dan takdir atau nasib tidak lain adalah sebuah
percumbuan antara usaha dan doa “ora et labora” dari manusia itu sendiri.
Maka domino
adalah miniature kehidupan yang didalamnya adanya penciptaan dan ketetapan
tuhan dan ikhtiar-ikhtiar manusia yang diberikan potensi oleh sang maha
pencipta. Maka katika empat orang pemain, dibagikan kartu domino yang berjumlah
delapan belas dan masing-masing pemain mendapat tujuh kartu, sama halnya ketika
sang pencipta menciptakan makhluknya dengan kesamaan potensi kemanusiaannya,
dan sebagai ketetapan-ketetapan tuhan, manusia tidak berhak untuk melakukan
protes terhadap ketetapan-ketatapan tuhan yang telah dibuat : terlahir dari rahim seorang nasrani, islam, yahudi dll. Atau protes kenapa terlahir dari rahim seorang berwarna kulit putih,
coklat, hitam, dll. Atau banyak manusia protes kenapa terlahir dari rahim
seorang yang miskin dari segi material.
Hal demikian
adalah ketetapan tuhan. sebuah hak prerogative miliknya semata, dan bukanlah sebagai
tanda-tanda ketidakadilan tuhan. dia lah yang paling berhak disembah tidak
pernah pilih kasih kepada makhluk ciptaannya.


