Kampung Indonesia Sebagai Identitas

Facebook
RSS

Tradisi Domeng (1)

-
Arung Shad S


Masyarakat nusantara dikenal dengan masyarakat agraris. Mempunyai kebiasaan-kebiasaan yang hari ini dapat dikatakan sebagai kekayaan budaya nusantara adalah salah satu cirinya. Ajaran-ajaran ataupun kebiasaan-kebiasaan tadi memperkaya keanekaragaman masyarakat nusantara, yang inklud dalam Negara kesatuan Indonesia. Ketika ajaran atau pun kebiasaan melembaga dalam suatu masyarakat, maka dapat dikatakan menjadi nilai-nilai yang disepakati masyarakat tersebut. Perbedaan nilai-nilai yang telah melembaga di setiap daerah menjadi sebuah kearifan local setempat.

Salah satu yang sering terlihat dalam masyarakat kita, khususnya dalam area masyarakat makassar adalah tradisi Main Domino (baca, domeng). Bahkan Kahar Muzakkar, seorang pemberontak dalam kamus pemerintah Soekarno pun dikenal dengan la domeng, yang berarti raja main domino.

Namun banyak dari kita apalagi yang bukan bagian dari masyakarat makassar bertanya apa yang menarik dari domino? Apakah hanya tradisi belaka? Apa  manfaatnya dan seterusnya dan seterusnya, masih banyak pertanyaan yang masihlah mengganjal melihat fenomena domino?

Fokus tulisan ini tidak punya kapasitas menjawab beribu pertanyaan domino di atas, namun lebih jauh mengkaji makna filosofis dan sosiologis tradisi domino.

Memang dalam perkembangannya, generasi makassar tatap melanggengkan tradisi ini, kapan dan dimana pun. Bahkan seluruh generasi sulawesi selatan yang menuntut ilmu di pulau jawa tetap setia pada tradisi ini. tapi lebih pada bagaimana sekedar mengisi waktu, bagaiama meriahkan acara pernikahan dll. Sangat disayangkan bahwa kajian nilai-nilai yang terkandung di dalamnya seakan-akan terlupakan dalam pusaran deru debu industrialisasi yang seolah-olah tak pernah tidur dengan segala aktivitas mesin pabrik. Ataupun tergusur dari benak mahasiswa yang ada di pulau jawa karena kesibukan masing-masing.

Makna yang terlupakan dari tradisi ini sangatlah dalam. Bagi penulis, domino berangkat dari nilai-nilai pembelajaran hidup oleh leluhur makassar. Sebagaimana diketahui, domino tercipta pertama kali atau dibawa dari tanah cina, namun dalam perkembangan sejarah masyarakat makassar hal ini mempunyai arti penting.

Domino kita ibaratkan sebagai kehidupan. Kemudian dari kehidupan itu kita mengenal yang namanya takdir ilahi atau nasib, dan takdir atau nasib tidak lain adalah sebuah percumbuan antara usaha dan doa “ora et labora” dari manusia itu sendiri.

Maka domino adalah miniature kehidupan yang didalamnya adanya penciptaan dan ketetapan tuhan dan ikhtiar-ikhtiar manusia yang diberikan potensi oleh sang maha pencipta. Maka katika empat orang pemain, dibagikan kartu domino yang berjumlah delapan belas dan masing-masing pemain mendapat tujuh kartu, sama halnya ketika sang pencipta menciptakan makhluknya dengan kesamaan potensi kemanusiaannya, dan sebagai ketetapan-ketetapan tuhan, manusia tidak berhak untuk melakukan protes terhadap ketetapan-ketatapan tuhan yang telah dibuat : terlahir dari rahim seorang nasrani, islam, yahudi dll. Atau protes kenapa terlahir dari rahim seorang berwarna kulit putih, coklat, hitam, dll. Atau banyak manusia protes kenapa terlahir dari rahim seorang yang miskin dari segi material.

Hal demikian adalah ketetapan tuhan. sebuah hak prerogative miliknya semata, dan bukanlah sebagai tanda-tanda ketidakadilan tuhan. dia lah yang paling berhak disembah tidak pernah pilih kasih kepada makhluk ciptaannya.