Kampung Indonesia Sebagai Identitas

Facebook
RSS

Ideologi Alternatif : Wajah Kapitalisme Lanjutan

-
Arung Shad S


 Selanjutnya, Indonesia juga disuguhi teori ketergantungan. Sebuah pendekatan solutif untuk membangun Negara berkembang. Teori ini pertama kali berkembang di Amerika Latin. Pada tahun 1970-an pendekatan ini sangat popular. Pada dasarnya pendekatan ini melihat, keterbelakangan pada Negara berkembang bukan terletak pada faktor internal masyarakat berkembang. Keterbelakangan lebih karena factor eksternal. Akar penyebab dari keterbelakangan Negara Berkembang dalam perspektif ini adalah ketergantungan ekonomi. Ketergantungan ekonomi ada ketika suatu masyarkat jatuh di bawah kekuasaan system masyarakat asing, dan ketika perekonomian masyarakat mulai diatur oleh orang-arang asing sedemikian rupa sehingga lebih menguntungkan perekonomian asing.

Ketergantungan ekonomi berarti hubungan dominasi dan subordinasi ekonomi antara dua masyarkat atau lebih. Meminjam Muh. Jumhur Hidayat dalam bukunya, Manifesto Kekuatan Ketiga, bahwa pada prinsipnya jalinan interaksi ekonomi antara Negara Berkembang dan Negara Maju tak lain adalah suatu kepastian penyedia bahan baku dan pengelola bahan baku. Negara Berkembang hanya sebagai penyedia bahan baku tanpa punya otoritas untuk mengelola bahan bakunya sendiri secara mandiri. Pengelola bahan baku adalah Nagara Maju.

Sekali lagi Negara Berkembang disuguhi sebuah wajah Kepitalisme dengan teori yang dipermanis untuk kepentingan rakyat : untuk memajukan Negara berkembang, untuk memakmurkan rakyat yang masih terbelakang. Negara Berkembang harus mengikuti dan berinteraksi/belajar dengan Negara Maju, sehingga mampu layaknya Negara maju dunia saat ini. Namun lagi-lagi dampak dari teori ini kemudian tak lain dari sebuah penindasan serta kejahatan kepada rakyat Negara Berkembang oleh para Kapitalisme Global

Mengharapkan keadilan ekonomi dan sosial Negara maju secara kelembagaan dan para pemodal secara korporasi justru berdampak pelanggengan pada sebuah penindasan, sebuah eksploitasi suatu masyarakat pada masyarakat lain, membludaknya kemiskinan structural di Negara-negara berkembang.

Ada sebuah refleksi seorang tokoh sosial dan pergerakan Indonesia, Mansur Fakih : substansi perubahan nasib kelompok-kelompok marjianal seperti kaum buruh, para petani dan nelayan, perempuan miskin di pedesaan, maupun anak jalanan serta masyarakat di berbagai daerah nusantara tidak akan menuju perubahan pada kesejahteraan, kehidupan yang lebih baik serta layak sangat tidak bergantung pada teori-teori modernisasi yang ditelorkan Negara maju untuk diterapakan oleh Negara berkembang.

Keadilan sosial ekonomi yang didamba oleh masyarkat manapun di dunia berkembang tidak memunculkan batang hidungnya selama para kapitalis masih menggerogoti lingkungan serta semua segi kehidupan. Yang  terjadi adalah sebaliknya : ketidakadilan system dominan, yaitu system sosial kapitalisme.