Selanjutnya,
Indonesia juga disuguhi teori ketergantungan. Sebuah pendekatan solutif untuk
membangun Negara berkembang. Teori ini pertama kali berkembang di Amerika
Latin. Pada tahun 1970-an pendekatan ini sangat popular. Pada dasarnya
pendekatan ini melihat, keterbelakangan pada Negara berkembang bukan terletak
pada faktor internal masyarakat berkembang. Keterbelakangan lebih karena factor
eksternal. Akar penyebab dari keterbelakangan Negara Berkembang dalam
perspektif ini adalah ketergantungan ekonomi. Ketergantungan ekonomi ada ketika
suatu masyarkat jatuh di bawah kekuasaan system masyarakat asing, dan ketika
perekonomian masyarakat mulai diatur oleh orang-arang asing sedemikian rupa
sehingga lebih menguntungkan perekonomian asing.
Ketergantungan
ekonomi berarti hubungan dominasi dan subordinasi ekonomi antara dua masyarkat
atau lebih. Meminjam Muh. Jumhur Hidayat dalam bukunya, Manifesto Kekuatan
Ketiga, bahwa pada prinsipnya jalinan interaksi ekonomi antara Negara
Berkembang dan Negara Maju tak lain adalah suatu kepastian penyedia bahan baku
dan pengelola bahan baku. Negara Berkembang hanya sebagai penyedia bahan baku
tanpa punya otoritas untuk mengelola bahan bakunya sendiri secara mandiri. Pengelola
bahan baku adalah Nagara Maju.
Sekali
lagi Negara Berkembang disuguhi sebuah wajah Kepitalisme dengan teori yang
dipermanis untuk kepentingan rakyat : untuk memajukan Negara berkembang, untuk
memakmurkan rakyat yang masih terbelakang. Negara Berkembang harus mengikuti
dan berinteraksi/belajar dengan Negara Maju, sehingga mampu layaknya Negara
maju dunia saat ini. Namun lagi-lagi dampak dari teori ini kemudian tak lain
dari sebuah penindasan serta kejahatan kepada rakyat Negara Berkembang oleh
para Kapitalisme Global
Mengharapkan
keadilan ekonomi dan sosial Negara maju secara kelembagaan dan para pemodal
secara korporasi justru berdampak pelanggengan pada sebuah penindasan, sebuah
eksploitasi suatu masyarakat pada masyarakat lain, membludaknya kemiskinan
structural di Negara-negara berkembang.
Ada sebuah
refleksi seorang tokoh sosial dan pergerakan Indonesia, Mansur Fakih :
substansi perubahan nasib kelompok-kelompok marjianal seperti kaum buruh, para
petani dan nelayan, perempuan miskin di pedesaan, maupun anak jalanan serta
masyarakat di berbagai daerah nusantara tidak akan menuju perubahan pada
kesejahteraan, kehidupan yang lebih baik serta layak sangat tidak bergantung
pada teori-teori modernisasi yang ditelorkan Negara maju untuk diterapakan oleh
Negara berkembang.
Keadilan
sosial ekonomi yang didamba oleh masyarkat manapun di dunia berkembang tidak
memunculkan batang hidungnya selama para kapitalis masih menggerogoti
lingkungan serta semua segi kehidupan. Yang
terjadi adalah sebaliknya : ketidakadilan system dominan, yaitu system
sosial kapitalisme.


