Jika kita percaya
dengan analisis perkembangan sejarah ibnu khaldun, yang lebih dikenal dengan
teori siklus sejarah, bahwa bagaimanapun dinasti, Negara termasuk sebuah
pergerkan akan mengalami empat tahapan, tahap pertama, masa pertumbuhan, pada
tahap atau masa ini sebua dinasti, Negara, serta sebuah pergerakan masih dalam
mengumpulkan anggota sera meraba-raba sejauh mana kekuatan yang dimilikinya.
Tahap kedua, tahap atau masa perkemabngan, pada masa ini sebua pergerakan sudah
dalam tahap pelebaran sayap, mengalami perkemabangan jaringan yang tentunya
memperkuat sebuah gerakan. Tahap ketiga, tahap kejayaan atau masa keemasan,
pada tahap ini klimaks atau orgasme sebuah gerakan yang selama ini
didengungkan, yang selama ii mengalami hambatan sana-sini sudah mencapai cita
yang didamba, artinya perjuangaan nilai, perjuangan menju puncak kekuasaan
telah menuai hasil didepan mata para pioneer-pionernya.
Dan tahap keempat
adalah masa kehancuran, pada masa ini puncak kejayaan yang telah dinikmati
harus relah dilepaskan lagi karena telah menuai hambatan dari kekuatan-kekuatan
baru yang lebih kuat, sehingga dikatakan masa kehancuran atau masa keruntuhan
sebuah dinasti, Negara ataupun sebuah sebuah pergerakan.
Bagaimana kabar
tentang Mahasiswa Indonesia? Masih terhimpunkah oleh sebuah nilai-nilai
yang selama ini diperjuangkan? Masihkah ada kader-kader yang menghimpun diri
dengan kesadaran ideologis? Masih nyaring kah jargon-jargon kerakyatan mahasisiwa : berbangsa satu, bangsa tanpa penindasan. berbahasa satu, bahasa keadilan/kebenaran. bertanah air satu, tanah air sejahtera.
Setumpuk serta sekelumit sentilan dan gurauan (jika memang di anggap
bergurau) menjadi sebuah pekerjaaan rumah dalam proses regenerasi mahasiswa Indonesia. Artinya, pilihan gerakan sosial as ai solusi membawa perubahan dalam tubuh masyarakat harus sejalan dengan perkembangan saman. juga, keberhasilan gerakan sosial harus diwujudkan dalam program-program konkret mulai dari
tingkat akar rumput di pelosok negeri ini hingga elit di Jakarta.
Masuknya elit-elit mahasiswa dalam sistem tentu membawa agenda-agenda politik, namun tidak harus membuang nilai-nilai idealisme. masuk sistem adalah bagian strategi gerakan bukan sebaliknya : menjual diri atas nama gerakan sosial.


