Salah
satu hal yang menandai perkembangan manusia abad ini adalah pesatnya laju
teknologi, sehingga tidak sedikit pemikir social hari ini berucap bahwa
peradaban sekarang tidak lain hanyalah sebuah abad teknologisasi oleh manusia.
Perkembangan
teknologi yang kemudian menyempitkan dunia melahirkan tatanan masyarakat yang
lebih terbuka dari segala kebudayaan-kebudayaan lain kepada kebudayaan
masyarakat yang lain. Dengan sangat optimis memandang manusia, amin maoluf
dalam bukunya in the name of identity, mengimajikan bahwa dimasa mendatang akan
ada atau terbentuk kampong-kampung global yang di dalamnya segala latar
belakang budaya, etnis, agama, bangsa dan warna kulit dan seterusnya dari
belahan bumi bersatu dalam irama kampong terbuka dan pluralistic.
Terlepas
benar tidaknya sebuah prediksi amin maulof diatas, ternyata benturan-benturan
ide, konsep, tentang masyarakat sangat kental mengiringi perjalanan masyarakat
di dunia globalisasi hari ini.
Khususnya,
benturan peradaban yang ditengarai oleh dua kebudayaan besar yang mempunyai
pandangan dunia yang berlawanan; kadang kita sebuat sebagai
peradaban/kebudayaan timur, dan disisi lain ada peradaban/kebudayaan yang
sedang menikmati masa kejayaannya hari ini, peradaban barat.
Interaksi
dua peradaban ini, tidak pararel dengan optimisme sebagian pemikir social. Di
barat salah satu pemikir yang paling banyak berpengaruh adalah karl max, salah
seorang pemikir social jerman dan menghabiskan masa hidup dan perjuangannya di
ingris. Sedemikian berpengaruh dan menghebohkannya di daratan eropa sehingga
kemudian memuncak ketika pemikiran dan teorinya dilembagakan menjadi sebuah
Negara komunis uni soiviet pada tahun 1919. toerinya terus berlanjut dan
dijadikan doktrin dan dogma Negara yang tidak bias dikritisi pasca revolusi
bolsevik stalin hingga keruntuhan pemerintahan.
Memang
karl max mempunyai serangkaian pandangan dunia, filsafat, dan konsepsinya
tentang masyarakat (materialisme historis). Sepanjang abad ini, pemikiran max
sangat berpengaruh ke segala penjuru bumi dan tidak sedikit Negara bangsa yang
nota bene bermasyarakat religius turut serta menyebarkan karena mempercayai
bahwa hal demikian adalah suatu yang benar.
Ketika
karl max dan pengikutnyan dengan bersenjatakan materialisme histories mulai
merambah ke dunia jazirah arab, khususnya iran, tidak sedikit pemikir setempat
yang menganutnya (menjadikan idiologi dan sebagai analisa fenomena sosial) tapi
masih banyak juga yang menantang keras dan mempertanyakan landasan ilmiah
materialisme histories max.
Diantara
pemikir social keagamaan yang konsisten membantah semua landasan materialisme
histories adalah murtadha mutahhari dan pengikutnya. Mereka melihat kerapuhan
pandangan dunia, filsafat dan pandangan tentang masyarakat oleh karl max,
kemudian berpolemik dalam media-media cetak dan tidak jarang bentrok pisik
diantara pengikutnya kedua tokoh ini.
Konflik-konflik
yang tajam pun tidak bias di elakkan dan terlihat tidak berujung karena kedua
golongan mempertahankan keyainan masing-masing dan terus mempejuangkan untuk
merebut simpati masyarakat.
Indonesia
dengan masyarakat yang majemuk juga mempunyai pengalaman yang tidak sedikit
bagaimana benturan pandangan-pandangan antara yang mengikuti jejak karl max dan
murtadha. Kemajumukan masyarakat Indonesia memang memberikan ruang yang cukup
luas dalam pembumian pandangan-pandangan kedua tokoh ini sampai detik ini.


