Kampung Indonesia Sebagai Identitas

Facebook
RSS

Masyarakat Humanis Dua Peradaban

-
Arung Shad S

Perkembangan masyarakat yang terus melaju bagai kereta yang tidak seorang pun mampu mengendalikannya sebagaimana yang di ungkapkan antonie giddens dalam bukunya the third way membawa dampak yang tidak sedikit pada manusia dan kebudayaannya. Perubahan demi perubahan terus menghampiri umat manusia sebagai tanda “kemajuan zaman” atau lebih tepatnya perkembangan peradaban yang coba menjelma dihadapan pembuatnya, yang mungkin pembuanya pun tidak mampu mengimajinasikan sebelumnya.

Salah satu hal yang menandai perkembangan manusia abad ini adalah pesatnya laju teknologi, sehingga tidak sedikit pemikir social hari ini berucap bahwa peradaban sekarang tidak lain hanyalah sebuah abad teknologisasi oleh manusia.

Perkembangan teknologi yang kemudian menyempitkan dunia melahirkan tatanan masyarakat yang lebih terbuka dari segala kebudayaan-kebudayaan lain kepada kebudayaan masyarakat yang lain. Dengan sangat optimis memandang manusia, amin maoluf dalam bukunya in the name of identity, mengimajikan bahwa dimasa mendatang akan ada atau terbentuk kampong-kampung global yang di dalamnya segala latar belakang budaya, etnis, agama, bangsa dan warna kulit dan seterusnya dari belahan bumi bersatu dalam irama kampong terbuka dan pluralistic.

Terlepas benar tidaknya sebuah prediksi amin maulof diatas, ternyata benturan-benturan ide, konsep, tentang masyarakat sangat kental mengiringi perjalanan masyarakat di dunia globalisasi hari ini.
Khususnya, benturan peradaban yang ditengarai oleh dua kebudayaan besar yang mempunyai pandangan dunia yang berlawanan; kadang kita sebuat sebagai peradaban/kebudayaan timur, dan disisi lain ada peradaban/kebudayaan yang sedang menikmati masa kejayaannya hari ini, peradaban barat.

Interaksi dua peradaban ini, tidak pararel dengan optimisme sebagian pemikir social. Di barat salah satu pemikir yang paling banyak berpengaruh adalah karl max, salah seorang pemikir social jerman dan menghabiskan masa hidup dan perjuangannya di ingris. Sedemikian berpengaruh dan menghebohkannya di daratan eropa sehingga kemudian memuncak ketika pemikiran dan teorinya dilembagakan menjadi sebuah Negara komunis uni soiviet pada tahun 1919. toerinya terus berlanjut dan dijadikan doktrin dan dogma Negara yang tidak bias dikritisi pasca revolusi bolsevik stalin hingga keruntuhan pemerintahan.

Memang karl max mempunyai serangkaian pandangan dunia, filsafat, dan konsepsinya tentang masyarakat (materialisme historis). Sepanjang abad ini, pemikiran max sangat berpengaruh ke segala penjuru bumi dan tidak sedikit Negara bangsa yang nota bene bermasyarakat religius turut serta menyebarkan karena mempercayai bahwa hal demikian adalah suatu yang benar.

Ketika karl max dan pengikutnyan dengan bersenjatakan materialisme histories mulai merambah ke dunia jazirah arab, khususnya iran, tidak sedikit pemikir setempat yang menganutnya (menjadikan idiologi dan sebagai analisa fenomena sosial) tapi masih banyak juga yang menantang keras dan mempertanyakan landasan ilmiah materialisme histories max.
Diantara pemikir social keagamaan yang konsisten membantah semua landasan materialisme histories adalah murtadha mutahhari dan pengikutnya. Mereka melihat kerapuhan pandangan dunia, filsafat dan pandangan tentang masyarakat oleh karl max, kemudian berpolemik dalam media-media cetak dan tidak jarang bentrok pisik diantara pengikutnya kedua tokoh ini.
Konflik-konflik yang tajam pun tidak bias di elakkan dan terlihat tidak berujung karena kedua golongan mempertahankan keyainan masing-masing dan terus mempejuangkan untuk merebut simpati masyarakat.

Indonesia dengan masyarakat yang majemuk juga mempunyai pengalaman yang tidak sedikit bagaimana benturan pandangan-pandangan antara yang mengikuti jejak karl max dan murtadha. Kemajumukan masyarakat Indonesia memang memberikan ruang yang cukup luas dalam pembumian pandangan-pandangan kedua tokoh ini sampai detik ini.