"Tanya pada ku tentang apa yang ku pikirkan. karena apa yang ku pikirkan akan melahirkan kata. kata akan menjadi tindakan. tindakan akan membentuk kebiasaan. kebiasaan akan mewujud sebagai karakter. dan karakter akan menentukan nasib mu (Margaret Tacher)"
Malas…
sebuah
kata yang tiap detak waktunya menyerang tanpa belas kasihan hingga yang terbuai
dengan alunan musik kemalasan pun terjatuh pada tekuk lutut penyesalan
berkepanjangan. telah melupakan waktu adalah pembunuhan yang nyata dari semua
rentetan hidup. Waktu adalah pedang jika tidak mempergunakan untuk membunuhnya,
maka dia akan membunuhmu,kata pepatah arab!
Dalam
deretan manusia kampus, juga tidak bisa lari dari dekapan virius sebuah malas;
malas belajar, kuliah, baca buku, dan lagi malas hidup mungkin menjadi sesuatu
yang seolah-olah alami.
Betapa
malas pun menjadi hantu manusia London di masa yang telah lewat, memusingkan
seorang penguasa inggris karena rakyatnya tidak mau berbuat sesuatu dengan
pengharapan hidup dari majikan pendominasi yang tentunya mempersonifikasi diri
sebagai tuhan yang kemudian mengganti tugas-tugas ketuhanan di dunia fana.
Broken
hope adalah ketepatan kalimat bagi kaum pemalas. Ketika harapan telah dirusak
pada ambang akut maksimal, pada titk klimaks puncak. Manusianya kemudian telah
tiada sebelum termandikan oleh pemandian kematian jasadnya. lalu kita yang
tinggal dalam dunia pesimisme melihat realita social akan terbawa pada
gangguan, sebuah anomaly shok oleh percepatan mesin modern.
Tidur…
Sebuah
manifestasi dari kemalasan dengan pertimbangan apapun serta dengan apologi
apapun. tanpa gerak langkah, gerak hati serta gerak intelektual sungguh kita
manusia kampus telah mati sebelum jasadiah termandikan. terkadang pun kita
bercanda ria nan ringan akan fenomena dia, engkau, aku dan manusia kampus bahwa
faktor dominan dari tidurnya kita manusia kampus akibat enggak punya logistik
dan kedua, akibat over logistik. kukira kelompok kedua jauh dari kamus
kehidupan kita kawan!
Espektasi…
Sangat
wajar dari manusia kampus. sebuah idealisasi diri yang tentu realistis. Manusia
kampus akan hidup dari realitas-realitas imajiner, manusia imajinatif; pencinta
imajinatif, cerdas imajinatif, popular yang juga imajinatef (obsesi selebrity
kaliee). Manusia-manusia melangit tanpa berpijak pada bumi yang realistis,
karena semua imajinasi yang beku tidak mampu berdealektika dalam realitas
sejarah manusia kampus takut akan sebuah realita social sesungguhnya, bahwa
dirinya,diriku,diri kita manusia kampus adalah no body no body dan no
body;NOTHING, Dimata teman, kawan, lawan,
Akhirnya
kita terpuruk pada sebuah ralitas ketidakberdayan, kelemahan yang brengsek tak
kenal kompromistis ketika kita merengek, ingin lepas dengan segala obat
manufaktur proyek kapitalis, yang kemudian justru memperparah keadaan akan
kelemahan; ketergantungan pada obat sialan itu.
Akhirnya,
kitapun sampailah pada realita hidup yang berujung pada jauhnya espektasi
semula. semua sirna, sedari awal pun harusnya langkah preventif telah kuambil
sebagai obat diri, bahwa bangunan yang kubangun diatas pasir adalah sebuah
kesalahAn, sebuah kesia-siaan. Begitu mudah roboh dengan gertakan ombak
kehidupan.
Remang…
Remang
pun setia tinggal menemani dalam konsistensi keabuannya. bahwa satu-satunya
kepaastian harapan, hidup imajiner adalah ketidakpastian hidup itu sendiri.
Bahwa sejauh apapun nalar bermain, bercumbu dengan tuhan, tetap buntu pada
keremangan hidup yang kemudian termanifestasi dengan bahasa manusia dunia
sebagai serba kemungkinan hidup, serba kerelatifan dunia dan kita sang penghuni
sombong, setelah abad pertengahan mampu mendoktrin kita bahwa segalanya untuk
manusia hingga nilai transenden alam pun mengalami profanisasi. so... mari
ekploitasi alam atas nama kemanfaatan pada manusia.!!!
Memilih…
Apa
mau dikata, semua begitu imajnatif dalam proses dialektika hidup. Begitupun
adalah kubangan tak berujung namun memilih akan hidup adalah pilihan jitu
terbaik dari semua kejelekan yang tersisa dari hidup, karna sebuah kata dan
tindakan untuk memilih adalah sebuah manifestasi akan hidupnya kita sendiri.
Bahwa jejak sebagai makhluk tuhan yang bernama manusia pun masihlah tampak
dalam dan atau memilihnya kita akan hidup pada kehidupan.
Menakar
diri…
Pada
titik tertentu kita pun harus menakar diri pada dunia, pada manusia sekitar
sebagai timbangan penilaian; apakah manusia pragmatis adalah golongan atau
kelas kita, manusia idelias dengan segala pesan-pesan yang cukup melangit yang
mungkin tidak mampu menyentuh realitas bumi, apakah perpaduan dari segalanya
masuk pada semua, mengidentifikasi diri sebagai manusia kosmoplit yang kita
anggap relevan hari ini musabab sebuah diri perpaduan dunia yang ada; idealis,
pragmatis, yang berujung pada sintesis keduanya yang kita bahasakan degan
idelais realistis.
Manakar
diri adalah jalan awal, mungkin kita memang harus kembali pada titk nol untuk
intropeksi sejauh mana kekuatan yang ada untuk mejewantahkan sebuah ataupun
beribu ide yang telah terwacana. Karena apresiasi manusia ide dimungkinkan
setelah impelmentasi ide itu sendiri. Pun demikian dengan peluang yang tersisa
ataupun yang tercipta lewat karya kreatif kita apakah cukup kondusif untuk
pribumisasi nilai-nilai yang kita perjuangkan. Apatah lagi dengan segala
tantangan yang juga harus menjadi bahan pertimbagan sebagai bagian dari
strategi gerakan nilai, Serta menafikan kelemahan adalah sebuah kelemahan kita
sendiri dalam memulai sebuah gerakan nilai yang kemudian kita usung bersama
dalam realitas dunia.
Menakar
diri ada lah sebuah perhelatan, sebuah kehidupan realistis setelah melihat
realitas social sekitar. Menakar diri adalah pilihan yang terpilih ketika
menentukan pilihan gerakan.


