Kampung Indonesia Sebagai Identitas

Facebook
RSS

Menyibak Takdir

-
Arung Shad S


"Tanya pada ku tentang apa yang ku pikirkan. karena apa yang ku pikirkan akan melahirkan kata. kata akan menjadi tindakan. tindakan akan membentuk kebiasaan. kebiasaan akan mewujud sebagai karakter. dan karakter akan menentukan nasib mu (Margaret Tacher)"

Malas…

sebuah kata yang tiap detak waktunya menyerang tanpa belas kasihan hingga yang terbuai dengan alunan musik kemalasan pun terjatuh pada tekuk lutut penyesalan berkepanjangan. telah melupakan waktu adalah pembunuhan yang nyata dari semua rentetan hidup. Waktu adalah pedang jika tidak mempergunakan untuk membunuhnya, maka dia akan membunuhmu,kata pepatah arab!

Dalam deretan manusia kampus, juga tidak bisa lari dari dekapan virius sebuah malas; malas belajar, kuliah, baca buku, dan lagi malas hidup mungkin menjadi sesuatu yang seolah-olah alami.
Betapa malas pun menjadi hantu manusia London di masa yang telah lewat, memusingkan seorang penguasa inggris karena rakyatnya tidak mau berbuat sesuatu dengan pengharapan hidup dari majikan pendominasi yang tentunya mempersonifikasi diri sebagai tuhan yang kemudian mengganti tugas-tugas ketuhanan di dunia fana.

Broken hope adalah ketepatan kalimat bagi kaum pemalas. Ketika harapan telah dirusak pada ambang akut maksimal, pada titk klimaks puncak. Manusianya kemudian telah tiada sebelum termandikan oleh pemandian kematian jasadnya. lalu kita yang tinggal dalam dunia pesimisme melihat realita social akan terbawa pada gangguan, sebuah anomaly shok oleh percepatan mesin modern.

Tidur…

Sebuah manifestasi dari kemalasan dengan pertimbangan apapun serta dengan apologi apapun. tanpa gerak langkah, gerak hati serta gerak intelektual sungguh kita manusia kampus telah mati sebelum jasadiah termandikan. terkadang pun kita bercanda ria nan ringan akan fenomena dia, engkau, aku dan manusia kampus bahwa faktor dominan dari tidurnya kita manusia kampus akibat enggak punya logistik dan kedua, akibat over logistik. kukira kelompok kedua jauh dari kamus kehidupan kita kawan!

Espektasi…

Sangat wajar dari manusia kampus. sebuah idealisasi diri yang tentu realistis. Manusia kampus akan hidup dari realitas-realitas imajiner, manusia imajinatif; pencinta imajinatif, cerdas imajinatif, popular yang juga imajinatef (obsesi selebrity kaliee). Manusia-manusia melangit tanpa berpijak pada bumi yang realistis, karena semua imajinasi yang beku tidak mampu berdealektika dalam realitas sejarah manusia kampus takut akan sebuah realita social sesungguhnya, bahwa dirinya,diriku,diri kita manusia kampus adalah no body no body dan no body;NOTHING, Dimata teman, kawan, lawan,

Akhirnya kita terpuruk pada sebuah ralitas ketidakberdayan, kelemahan yang brengsek tak kenal kompromistis ketika kita merengek, ingin lepas dengan segala obat manufaktur proyek kapitalis, yang kemudian justru memperparah keadaan akan kelemahan; ketergantungan pada obat sialan itu.
Akhirnya, kitapun sampailah pada realita hidup yang berujung pada jauhnya espektasi semula. semua sirna, sedari awal pun harusnya langkah preventif telah kuambil sebagai obat diri, bahwa bangunan yang kubangun diatas pasir adalah sebuah kesalahAn, sebuah kesia-siaan. Begitu mudah roboh dengan gertakan ombak kehidupan.

Remang…

Remang pun setia tinggal menemani dalam konsistensi keabuannya. bahwa satu-satunya kepaastian harapan, hidup imajiner adalah ketidakpastian hidup itu sendiri. Bahwa sejauh apapun nalar bermain, bercumbu dengan tuhan, tetap buntu pada keremangan hidup yang kemudian termanifestasi dengan bahasa manusia dunia sebagai serba kemungkinan hidup, serba kerelatifan dunia dan kita sang penghuni sombong, setelah abad pertengahan mampu mendoktrin kita bahwa segalanya untuk manusia hingga nilai transenden alam pun mengalami profanisasi. so... mari ekploitasi alam atas nama kemanfaatan pada manusia.!!!

Memilih…

Apa mau dikata, semua begitu imajnatif dalam proses dialektika hidup. Begitupun adalah kubangan tak berujung namun memilih akan hidup adalah pilihan jitu terbaik dari semua kejelekan yang tersisa dari hidup, karna sebuah kata dan tindakan untuk memilih adalah sebuah manifestasi akan hidupnya kita sendiri. Bahwa jejak sebagai makhluk tuhan yang bernama manusia pun masihlah tampak dalam dan atau memilihnya kita akan hidup pada kehidupan.

Menakar diri…

Pada titik tertentu kita pun harus menakar diri pada dunia, pada manusia sekitar sebagai timbangan penilaian; apakah manusia pragmatis adalah golongan atau kelas kita, manusia idelias dengan segala pesan-pesan yang cukup melangit yang mungkin tidak mampu menyentuh realitas bumi, apakah perpaduan dari segalanya masuk pada semua, mengidentifikasi diri sebagai manusia kosmoplit yang kita anggap relevan hari ini musabab sebuah diri perpaduan dunia yang ada; idealis, pragmatis, yang berujung pada sintesis keduanya yang kita bahasakan degan idelais realistis.

Manakar diri adalah jalan awal, mungkin kita memang harus kembali pada titk nol untuk intropeksi sejauh mana kekuatan yang ada untuk mejewantahkan sebuah ataupun beribu ide yang telah terwacana. Karena apresiasi manusia ide dimungkinkan setelah impelmentasi ide itu sendiri. Pun demikian dengan peluang yang tersisa ataupun yang tercipta lewat karya kreatif kita apakah cukup kondusif untuk pribumisasi nilai-nilai yang kita perjuangkan. Apatah lagi dengan segala tantangan yang juga harus menjadi bahan pertimbagan sebagai bagian dari strategi gerakan nilai, Serta menafikan kelemahan adalah sebuah kelemahan kita sendiri dalam memulai sebuah gerakan nilai yang kemudian kita usung bersama dalam realitas dunia.
Menakar diri ada lah sebuah perhelatan, sebuah kehidupan realistis setelah melihat realitas social sekitar. Menakar diri adalah pilihan yang terpilih ketika menentukan pilihan gerakan.