Kampung Indonesia Sebagai Identitas

Facebook
RSS

Jejak Langkah : Menemukan Tabir Legowo

-
Arung Shad S


Pada jejak langkah yang tertinggal, waktu menjadi sebuah saksi bagaimana peraduan yang kita cari ternyata tak berujung. Kamu, dia dan aku kiranya sedari awal tahu. Tahu konsekwensi pilhan itu : pilihan mu, pilihan dia dan pilihan ku.

Mungkin tertera pada tiap diary masing akan sebuah espektasi, akan sebuah masa yang tiada lagi perjuangan tak berujung seperti hari ini. Di mana diskusi pada jenjang waktunya tiada hentinya kita kobarkan berharap ada efek maksimal pada diri masing-masing dan lingkungan.

Kita hari ini, menjelang semua sirna pada titik nol keabadian cita, yang mungkin tak mencapai puncak implementasi. Bukan lah kita yang kemudian menikmati serta melihat implementasi ide revolusi itu, namun generasi berikut yang lebih agresif, lebih normal, lebih cerdas yang sebelumnya telah menggantikan. Di tangan mereka letak perubahan karena kita tidak mungkin lagi bersemayam setelah sekian lama terjerumus dan terjebak pada sanubari masing-masing. Sadar atau tidak, kita telah berwajah autis di tengah arus pergerakan yang sedemikian kencang.

Akhir jejak kritisme kita,
semoga tidak terjebak pada tradisi, pada kebiasaan-kebiasaan pendahulu. Sehingga kreasi, inovasi dari kita adalah tapak sejarah yang kita buat sesuai dengan konteks jaman kita. Jejak langkah hari ini adalah representasi pada masa lalu, masa depan sejarah.

So… kritisisme dari kawan-kawan harus menjadi senjata pada tiap langkah sejarah.
Menjaga konsistensi sebagai langkah awal tuk contoh,
Contoh bagi regenarasi depan yang lebih agresif lebih normal lebih cerdas…
Kita hari ini dalam pencarian, semoga generasi kita memahami proses
Kita hari ini memilih, semoga generasi kita tahu harus berbuat apa!
Kita hari ini menulis, semoga generasi kita membaca dan bertindak
Kita hari ini...membaca, menulis, bertindak, dan hidup miskin
Kita hari ini ada... untuk generasi mendatang!