Pada
jejak langkah yang tertinggal, waktu menjadi sebuah saksi bagaimana peraduan
yang kita cari ternyata tak berujung. Kamu, dia dan aku kiranya sedari awal
tahu. Tahu konsekwensi pilhan itu : pilihan mu, pilihan dia dan pilihan ku.
Mungkin
tertera pada tiap diary masing akan sebuah espektasi, akan sebuah masa yang
tiada lagi perjuangan tak berujung seperti hari ini. Di mana diskusi pada
jenjang waktunya tiada hentinya kita kobarkan berharap ada efek maksimal pada
diri masing-masing dan lingkungan.
Kita
hari ini, menjelang semua sirna pada titik nol keabadian cita, yang mungkin tak
mencapai puncak implementasi. Bukan lah kita yang kemudian menikmati serta
melihat implementasi ide revolusi itu, namun generasi berikut yang lebih
agresif, lebih normal, lebih cerdas yang sebelumnya telah menggantikan. Di
tangan mereka letak perubahan karena kita tidak mungkin lagi bersemayam setelah
sekian lama terjerumus dan terjebak pada sanubari masing-masing. Sadar atau
tidak, kita telah berwajah autis di tengah arus pergerakan yang sedemikian
kencang.
Akhir
jejak kritisme kita,
semoga
tidak terjebak pada tradisi, pada kebiasaan-kebiasaan pendahulu. Sehingga
kreasi, inovasi dari kita adalah tapak sejarah yang kita buat sesuai dengan
konteks jaman kita. Jejak langkah hari ini adalah representasi pada masa lalu,
masa depan sejarah.
So…
kritisisme dari kawan-kawan harus menjadi senjata pada tiap langkah sejarah.
Menjaga
konsistensi sebagai langkah awal tuk contoh,
Contoh
bagi regenarasi depan yang lebih agresif lebih normal lebih cerdas…
Kita
hari ini dalam pencarian, semoga generasi kita memahami proses
Kita
hari ini memilih, semoga generasi kita tahu harus berbuat apa!
Kita
hari ini menulis, semoga generasi kita membaca dan bertindak
Kita
hari ini...membaca, menulis, bertindak, dan hidup miskin
Kita
hari ini ada... untuk generasi mendatang!


