Kampung Indonesia Sebagai Identitas

Facebook
RSS

Wajah Demokratisasi Indonesia (2)

-
Arung Shad S


Wajah Demokrasi Indonesia masih sangat suram. Permasalahan-permasalahan social, hukum dan politik lebih disikapi dengan jiwa legalisme. Artinya, tidak menyentuh substansi permasalahan rasa keadilan bagi masyarakat luas, tapi dengan alasan undang-undang, bapak president seolah-olah lepas tangan dari masalah itu, yang kemungkinan besar berpotensi menjadi krisis legitimasi. Sebagai contoh sikap diam beliau menghadapi masalah bangsa “Cicak Versus Buaya”.

Di samping itu, pemandangan yang dipertontonkan Cabinet Indonesia Bersatu Jilid Dua, adalah wilayah-wilayah seremonial semata. Meminjam analisa pakar politik, Samsuddin Haris, di Koran Kompas beberapa waktu yang lalu, bahwa president dan kabinetnya sebenarnya sedang memainkan sandiwara nasional. Dan parahnya lagi, tidak memberikan pendidikan dan kesadaran politik pada khalayak. Sebaliknya, terjadi pembodohan terstruktur secara sengaja. Sebagai missal, cabinet memperdengarkan kebanggaan kepada rakyat bahwa Indonesia orde ini terbebas dari utang IMF, tapi tidak memberikan penjelasan kenapa Indonesia di pihak lain, justru mempunyai utang yang lebih banyak di Bank Asia.

Maka, meneropong Indonesia lima tahun mendatang pada cermin sejarah, tidak lebih dari sebuha negara bangsa awal kemerdekaan, yang seolah sibuk mencari bentuk. Lima tahun mendatang masih akan kita dapati kesenjangan besar anatara demokrasi yang di bangun dan kesejahteraan rakyat. Masih menjadi perjuangan panjang; menghilangkan gap antara kelancaran suksesi kepempinan nasional dan perut masyarakat yang semakin keroncong. Langkah Rakyat sebagai pemilik sah Negara ini untuk mendapatkan hak-haknya dalam bentuk pelayanan public yang maksimal, akan terus bergulir searah dengan perjalanan sejarah bangsa ini.