Rahasia proses penulisan semua karya sastra fiksiku
tak lebih dari “memulai dari ungkapan kata sederhana yang tepat”, dari sanalah
tangan ini terus menggores tak terhentikan oleh diri sendiri, seolah berjalan
dalam iramanya sendiri, katanya. Seolah tak terbatas oleh ruang dan melampaui
batas luas waktu, lanjutnya lagi.
Ingatan saya kemudian tertumpu pada nasehat kiai
kanjeng, yang lebih di kenal dalam bumi persada sebagai seorang seniman
religius, ulama intelektual, Can Nun. Semua ilmu berangkat dari rumusan
pengetahuan sederhana : memahami. Paham, paham dan paham adalah kuncinya.
Mungkin searah dengan manusia paling bervisi yang pernah ditemukan alam,
muhammad—yang menegaskan bahwa akan hancur setiap kepingan ikhitiar ketika
tidak diberikan pada ahlinya.
Proses pencarian selanjutnya
mengingatkan ku pada sosok Margaret Tacher (karisma kata-kata perempuan ini
paling ku ingat setelah sang ibu di Sulawesi Tengah), katanya, “tanyakan pada
tentang apa yang ku pikirkan. Karena apa yang dipikirkan akan mewujud sebagai
kata. Kata akan merubah sebagai tindakan. Tindakan bermetaforfosis sebagai kebiasaan.
Kebiasaan akan menjadi karakter seseorang, dan karakter akan menentukan nasib
mu ”.
Inilah lorong waktu. Maka lorong waktu itu
pun adalah nasib ku kelak.


