Kampung Indonesia Sebagai Identitas

Facebook
RSS

Lorong Waktu itu Bernama Nasib (2)

-
Arung Shad S

Rahasia proses penulisan semua karya sastra fiksiku tak lebih dari “memulai dari ungkapan kata sederhana yang tepat”, dari sanalah tangan ini terus menggores tak terhentikan oleh diri sendiri, seolah berjalan dalam iramanya sendiri, katanya. Seolah tak terbatas oleh ruang dan melampaui batas luas waktu, lanjutnya lagi.

Ingatan saya kemudian tertumpu pada nasehat kiai kanjeng, yang lebih di kenal dalam bumi persada sebagai seorang seniman religius, ulama intelektual, Can Nun. Semua ilmu berangkat dari rumusan pengetahuan sederhana : memahami. Paham, paham dan paham adalah kuncinya. Mungkin searah dengan manusia paling bervisi yang pernah ditemukan alam, muhammad—yang menegaskan bahwa akan hancur setiap kepingan ikhitiar ketika tidak diberikan pada ahlinya.

Proses pencarian selanjutnya mengingatkan ku pada sosok Margaret Tacher (karisma kata-kata perempuan ini paling ku ingat setelah sang ibu di Sulawesi Tengah), katanya, “tanyakan pada tentang apa yang ku pikirkan. Karena apa yang dipikirkan akan mewujud sebagai kata. Kata akan merubah sebagai tindakan. Tindakan bermetaforfosis sebagai kebiasaan. Kebiasaan akan menjadi karakter seseorang, dan karakter akan menentukan nasib mu ”.

Inilah lorong waktu. Maka lorong waktu itu pun adalah nasib ku kelak.