Demokrasi, sebuah tempat
persinggahan terakhir
Bagi pemerintahan yang buruk
Jika didalamnya di isi
Oleh orang-orang yang tidak
bermutu……Bernard Shaw[1]
Ideologi adalah sebuah kata luar biasa yang
menciptakan pemikiran dan semangat hidup di antara manusia. Terutama di antara kaum muda. Khususny, para cendikiawan dan intelektual
di kalangan masyarakat. Tidak jarang kata ideologi mengundang semangat pengorbanan diri dan kelompok. Dengan kedahsyatan efek kata/konsep ini, diperlukan serangkaian pengertian dan
pemahaman dari kalangan intelektual tentang ideologi. Ideologi, bagaimana pun sering dihubungkan dengan kalangan intektual dan ”mungkin” memang
keduanya saling memerlukan.
Istilah atau konsep ideologi terdiri dari kata ”ideo” yang berarti
pemikiran, gagasan, konsep, keyakinan dan lain-lain yang searah dengan istilah
tersebut, sedangkan kata ”logi” yang berarti logika, ilmu, ataupun pengetahuan—sehingga
dapat didefenisikan sebagai ilmu tentang keyakinan dan cita seseorang atau
kelompok bahkan negara.[2]
Menurut pengertian ini, seorang ideolog adalah seorang pembela suatu ideologi
atau keyakinan tertentu. Dalam kaitan ini ideologi terdiri dari berbagai
keyakinan dan cita-cita yang dipeluk oleh suatu kelompok tertentu, suatu kelas
tertentu, atau suatu bangsa, atau suatu ras. Dengan pengertian ini, kita
mendapatkan pemahaman akan perbedaan yang jelas antara ideologi dan ilmu
pengetahuan yang memang dekat hubungannya.
Dalam tulisan ini tidak lebih sebagai pembuka wacana awal kita; islam
dipandang sebagai sebuah ideologi yang berinteraksi di alam global.[3]
Sebuah sistem nilai yang coba dipraksis sosialkan dan menjiwai setiap gerakan
umat islam. Perlu dipahami bersama bahwa banyak pendefenisian dan teori tentang
ideologi yang mungkin terlihat bertolak belakang. John B. Thomson[4]
mencoba mengelompokkan teori-teori ideologi kedalam tiga kelompok besar;
Pertama ideologi sebagai sistem kepercyaan, sebagaimana pendefenisian diatas.
Kedua, ideologi sebagai proyeksi rasional. Ketiga, ideologi sebagai relasi
sosial (ketika islam dibicarakan dalam konteks berdemokrasi dalam tubuh
indonesia, maka pengertian ideologi ini yang banyak dipakai dalam penulisan
ini).
Pengkajian tentang hal ini; Islam sebagai sistem pandangan dunia dan ideologi
oleh banyak kalangan telah dimulai sejak dahulu, namun tidak berarti berjalan
dengan mulus. Banyak pula kalangan yang tidak sepakat dengan konsep ini.
Sebagai sebuah sistem, islam tidak harus dijadikan sebagai sebuah ideologi,
karena justru mengkerdilkan islam itu sendiri, menurut pandangan yang lain.[5]
Islam yang selama ini dianggap berlaku secara universal; berlaku pada jaman kapanpun,
bisa diterapkan kepada siapapun, dan tidak akan ketinggalan oleh perkembangan
zaman yang bagaimanapun—banyak kalangan menilai, itulah keunggulan islam
sebagai agama, ketika disandingkan dengan agama-agama samawi yang lain. tanpa perlu meng-ideologikan Islam, yang mungkin justru melahirkan pengkerdilan nilai-nilai universal tadi.
[1] MANUSIA ADIMANUSIA sebuah
komedi dan sebuah filsafat, Bentang Budaya,Jogjakarta 2003, hal. pada pengantar bukunya
[3] Ali syariaty, Islam: Mazhab Pemikiran Dan Aksi, Mizan, Bandung, 1995, hal.
[4]John B. Thomson, analisis ideology: kritik wacana ideology-ideologi dunia,
Yogyakarta, IRCISOD, 2007, Hal.
[5] Ahmad Wahib, Pergolakan Pemikiran Islam: Catatan Harian Ahmad Wahib, LP3ES,
Jakarta, 1982, hal.


