Kampung Indonesia Sebagai Identitas

Facebook
RSS

Ideologi Islam : Interaksi Dinamis Ideologi Dunia

-
Arung Shad S


Demokrasi, sebuah tempat persinggahan terakhir
Bagi pemerintahan yang buruk
Jika didalamnya di isi
Oleh orang-orang yang tidak bermutu……Bernard Shaw[1]

Ideologi adalah sebuah kata luar biasa yang menciptakan pemikiran dan semangat hidup di antara manusia. Terutama di antara kaum muda. Khususny, para cendikiawan dan intelektual di kalangan masyarakat. Tidak jarang kata ideologi mengundang semangat pengorbanan diri dan kelompok. Dengan kedahsyatan efek kata/konsep ini, diperlukan serangkaian pengertian dan pemahaman dari kalangan intelektual tentang ideologi. Ideologi, bagaimana pun sering dihubungkan dengan kalangan intektual dan ”mungkin” memang keduanya saling memerlukan.

Istilah atau konsep ideologi terdiri dari kata ”ideo” yang berarti pemikiran, gagasan, konsep, keyakinan dan lain-lain yang searah dengan istilah tersebut, sedangkan kata ”logi” yang berarti logika, ilmu, ataupun pengetahuan—sehingga dapat didefenisikan sebagai ilmu tentang keyakinan dan cita seseorang atau kelompok bahkan negara.[2] Menurut pengertian ini, seorang ideolog adalah seorang pembela suatu ideologi atau keyakinan tertentu. Dalam kaitan ini ideologi terdiri dari berbagai keyakinan dan cita-cita yang dipeluk oleh suatu kelompok tertentu, suatu kelas tertentu, atau suatu bangsa, atau suatu ras. Dengan pengertian ini, kita mendapatkan pemahaman akan perbedaan yang jelas antara ideologi dan ilmu pengetahuan yang memang dekat hubungannya.

Dalam tulisan ini tidak lebih sebagai pembuka wacana awal kita; islam dipandang sebagai sebuah ideologi yang berinteraksi di alam global.[3] Sebuah sistem nilai yang coba dipraksis sosialkan dan menjiwai setiap gerakan umat islam. Perlu dipahami bersama bahwa banyak pendefenisian dan teori tentang ideologi yang mungkin terlihat bertolak belakang. John B. Thomson[4] mencoba mengelompokkan teori-teori ideologi kedalam tiga kelompok besar; 

Pertama ideologi sebagai sistem kepercyaan, sebagaimana pendefenisian diatas. Kedua, ideologi sebagai proyeksi rasional. Ketiga, ideologi sebagai relasi sosial (ketika islam dibicarakan dalam konteks berdemokrasi dalam tubuh indonesia, maka pengertian ideologi ini yang banyak dipakai dalam penulisan ini).

Pengkajian tentang hal ini; Islam sebagai sistem pandangan dunia dan ideologi oleh banyak kalangan telah dimulai sejak dahulu, namun tidak berarti berjalan dengan mulus. Banyak pula kalangan yang tidak sepakat dengan konsep ini. Sebagai sebuah sistem, islam tidak harus dijadikan sebagai sebuah ideologi, karena justru mengkerdilkan islam itu sendiri, menurut pandangan yang lain.[5] Islam yang selama ini dianggap berlaku secara universal; berlaku pada jaman kapanpun, bisa diterapkan kepada siapapun, dan tidak akan ketinggalan oleh perkembangan zaman yang bagaimanapun—banyak kalangan menilai, itulah keunggulan islam sebagai agama, ketika disandingkan dengan agama-agama samawi yang lain. tanpa perlu meng-ideologikan Islam, yang mungkin justru melahirkan pengkerdilan nilai-nilai universal tadi.



[1] MANUSIA ADIMANUSIA sebuah komedi dan sebuah filsafat, Bentang Budaya,Jogjakarta 2003, hal. pada pengantar bukunya
[2] Ali Syariati, Tugas Cendikiawan Muslim, Raja Wali Press, Jakarta, 1982, hal. 192
[3] Ali syariaty, Islam: Mazhab Pemikiran Dan Aksi, Mizan, Bandung, 1995,  hal.
[4]John B. Thomson, analisis ideology: kritik wacana ideology-ideologi dunia, Yogyakarta, IRCISOD, 2007, Hal.
[5] Ahmad Wahib, Pergolakan Pemikiran Islam: Catatan Harian Ahmad Wahib, LP3ES, Jakarta, 1982, hal.