Bagian akhir
DINAMIKA KEMAHASISWAAN : Kembali ke Khittoh “Menjadi Manusia Gila”
…Namun sayang sekali, bukannya
kita bergabung dan bersatu dengan massa/rakyat, tetapi justru membentuk
kader-kader intelektual, atau kelompok-kelompok elit, yang berkerumun di
kedai-kedai kopi atau club-club dan pesta-pesta, saling bicara dengan omongan
muluk dan melemparkan isme-isme yang sedang laris…[1]—Dr.
Ali Syari’ati
Tibalah
kita pada semacam penghujung dari tepian-tepian wacana yang mengitari kita
sebagai mahasiswa yang di pundaknya banyak espektasi masyarakat bertumpuk. Dan
semakin bertumpuk seiring beberapa keberhasilan gerakan-gerakan patriotic
mahasiswa dalam lembaran sejarahnya.
Permasalahan
selanjutnya adalah, dari mana kita memulai gerakan-gerakan mahasiswa yang
sadar, sistematis tidak sporadic serta tidak bersifat reaksioner semata
terhadap fenomena social, dilakukan secara terkoordinir dan tentunya diamini
oleh seluruh elemen mahasiswa, atau elemen gerakan yang ada dalam masyarakat.
Bagaimana memulai semua itu sementara satu sisi kaki kita terjebak dalam
ruang-ruang hedonisme yang sangat menggiurkan dan kapan saja bisa membuai
bahkan menjerumuskan mahasiswa sehingga spirit gerakan hilang bak debu yang
beterbangan ketika hujan tiba?
Kawan-kawan
mahasiswa harus ingat bahwa ada dua hal besar yang mendasari keberhasilan
sebuah perjuangan. Pertama, adanya kader-kader gerakan yang idiologis, tidak
tergiur oleh wabah-wabah hedonisme yang kian hari kian menarik mata serta syahwat
hewaniah kita, artinya timbulnya manusia kampus “yang gila” akan loyalitas pada
nilai-nilai proses perjuangan. Kedua, pengetahuan yang mendalam terhadap medan gerakan kita,
mengetahui kekuatan, kelemahan, kesempatan serta tantangan kita hari ini dan di
masa mendatang. Pengetahuan yang tajam, kritis, analitis terhadap fenomena
social akan melahirkan manusia-manusia kampus “yang gila” akan percarian ilmu
pengetahuan secara terus menerus. Sehingga dalam proses gerakannya mendapatkan
jalan-jalan yang tapat dalam mengemban tugasnya sebagai pembangkit dan
pembangun masyarakat.
Pada
tahapan selanjutnya, pertemuan seluruh manusia-manusia gila yang terobsesi dan
sadar terhadap tanggung jawab sosialnya diharapakan akan melahirkan
gerakan-gerakan politik oleh mahasiswa yang mengontrol segala hal yang
sekiranya masih atau berpotensi mengekploitasi dan menindas masyarakat.

