Kampung Indonesia Sebagai Identitas

Facebook
RSS

Dinamika Mahasiswa : Kembali Ke Khittoh (3)

-
Arung Shad S

Bagian akhir

DINAMIKA KEMAHASISWAAN : Kembali ke Khittoh “Menjadi Manusia Gila”

…Namun sayang sekali, bukannya kita bergabung dan bersatu dengan massa/rakyat, tetapi justru membentuk kader-kader intelektual, atau kelompok-kelompok elit, yang berkerumun di kedai-kedai kopi atau club-club dan pesta-pesta, saling bicara dengan omongan muluk dan melemparkan isme-isme yang sedang laris…[1]—Dr. Ali Syari’ati

Tibalah kita pada semacam penghujung dari tepian-tepian wacana yang mengitari kita sebagai mahasiswa yang di pundaknya banyak espektasi masyarakat bertumpuk. Dan semakin bertumpuk seiring beberapa keberhasilan gerakan-gerakan patriotic mahasiswa dalam lembaran sejarahnya.

Permasalahan selanjutnya adalah, dari mana kita memulai gerakan-gerakan mahasiswa yang sadar, sistematis tidak sporadic serta tidak bersifat reaksioner semata terhadap fenomena social, dilakukan secara terkoordinir dan tentunya diamini oleh seluruh elemen mahasiswa, atau elemen gerakan yang ada dalam masyarakat. Bagaimana memulai semua itu sementara satu sisi kaki kita terjebak dalam ruang-ruang hedonisme yang sangat menggiurkan dan kapan saja bisa membuai bahkan menjerumuskan mahasiswa sehingga spirit gerakan hilang bak debu yang beterbangan ketika hujan tiba?

Kawan-kawan mahasiswa harus ingat bahwa ada dua hal besar yang mendasari keberhasilan sebuah perjuangan. Pertama, adanya kader-kader gerakan yang idiologis, tidak tergiur oleh wabah-wabah hedonisme yang kian hari kian menarik mata serta syahwat hewaniah kita, artinya timbulnya manusia kampus “yang gila” akan loyalitas pada nilai-nilai proses perjuangan. Kedua, pengetahuan yang mendalam terhadap medan gerakan kita, mengetahui kekuatan, kelemahan, kesempatan serta tantangan kita hari ini dan di masa mendatang. Pengetahuan yang tajam, kritis, analitis terhadap fenomena social akan melahirkan manusia-manusia kampus “yang gila” akan percarian ilmu pengetahuan secara terus menerus. Sehingga dalam proses gerakannya mendapatkan jalan-jalan yang tapat dalam mengemban tugasnya sebagai pembangkit dan pembangun masyarakat.

Pada tahapan selanjutnya, pertemuan seluruh manusia-manusia gila yang terobsesi dan sadar terhadap tanggung jawab sosialnya diharapakan akan melahirkan gerakan-gerakan politik oleh mahasiswa yang mengontrol segala hal yang sekiranya masih atau berpotensi mengekploitasi dan menindas masyarakat.




[1] Dalam bukunya “Tugas Cendikiawan Muslim”