Kampung Arung

Kampung Indonesia Sebagai Identitas

Facebook
RSS

Tradisi Domeng (2)


Makna filosofis domino dapat pula  dilihat sebagai berikut : Pembagian kartu secara merata kepada empat pemain,  masing-masing berjumlah tujuh kartu secara merata dan adil. Layaknya hidup kalah menang bergantung ikhtiar manusia. Akhir hidup manusia, bahagia atau sebaliknya, sangat bergantung pada ikhtiar masing-masing indivudi tadi. maka setiap kartu yang kita turunkan adalah ikhtiar kita dan tentunya masing-masing mempunyai resikonya. Kita meyakini bahwa dalam alam raya ini, tidak ada sesuatu yang terjadi karena kebetulan, semuanya mempunyai hukum kausalitas, ada sebab ada akibat.

Selanjutnya makna sosilogis, bahwa pada dasarnya dalam suatu masyarakat terdapat individu-individu yang membentuk dan mempangaruhi/dipengaruhi masyarakatnya. Dan kerjasama dalam kelompok masyarakat tadi lebih mempercapat arah gerak sejarah masyarakt kearah peradaban yang manusiawi,bahwa kita lebih bermanfaat untuk kemanusiaan jika jalinan kerjasama terjadi secara dialogis dan bukan karena tepaksa.

Dalam permainan domino, kita mengenal partner. Sehingga terjadi semacam permainan ganda : masing-masing mempunyai teman dan harus bekerja sama untuk mencapai sebuah kemenangan. Untuk mencapai kemenangan dibutuhkan sebuah saling pengertian dan pemahaman karakter atau cara bermain teman/partner disamping tentunya kecerdasan masing-masing membaca kartu.

Semoga penulisan ini, hanya awal dari sebuah penggalian dan pencarian makna-makna dari nilai-nilai leluhur para pendahulu nusantara kita, bukankah maju tidak sebuah bangsa juga sangat ditentukan oleh identitasnya. bahkan jepang, sebuah Negara maju, yang sempat terpuruk karena bom atom amerika pada tahun 1945, mampu dan cepat mengejar ketertinggalan karena tetap menggali nilai-nilai budayanya dan akhirnya mempunyai identitas di tengah gempuran budaya barat yang dominan.
[ Read More ]

Tradisi Domeng (1)


Masyarakat nusantara dikenal dengan masyarakat agraris. Mempunyai kebiasaan-kebiasaan yang hari ini dapat dikatakan sebagai kekayaan budaya nusantara adalah salah satu cirinya. Ajaran-ajaran ataupun kebiasaan-kebiasaan tadi memperkaya keanekaragaman masyarakat nusantara, yang inklud dalam Negara kesatuan Indonesia. Ketika ajaran atau pun kebiasaan melembaga dalam suatu masyarakat, maka dapat dikatakan menjadi nilai-nilai yang disepakati masyarakat tersebut. Perbedaan nilai-nilai yang telah melembaga di setiap daerah menjadi sebuah kearifan local setempat.

Salah satu yang sering terlihat dalam masyarakat kita, khususnya dalam area masyarakat makassar adalah tradisi Main Domino (baca, domeng). Bahkan Kahar Muzakkar, seorang pemberontak dalam kamus pemerintah Soekarno pun dikenal dengan la domeng, yang berarti raja main domino.

Namun banyak dari kita apalagi yang bukan bagian dari masyakarat makassar bertanya apa yang menarik dari domino? Apakah hanya tradisi belaka? Apa  manfaatnya dan seterusnya dan seterusnya, masih banyak pertanyaan yang masihlah mengganjal melihat fenomena domino?

Fokus tulisan ini tidak punya kapasitas menjawab beribu pertanyaan domino di atas, namun lebih jauh mengkaji makna filosofis dan sosiologis tradisi domino.

Memang dalam perkembangannya, generasi makassar tatap melanggengkan tradisi ini, kapan dan dimana pun. Bahkan seluruh generasi sulawesi selatan yang menuntut ilmu di pulau jawa tetap setia pada tradisi ini. tapi lebih pada bagaimana sekedar mengisi waktu, bagaiama meriahkan acara pernikahan dll. Sangat disayangkan bahwa kajian nilai-nilai yang terkandung di dalamnya seakan-akan terlupakan dalam pusaran deru debu industrialisasi yang seolah-olah tak pernah tidur dengan segala aktivitas mesin pabrik. Ataupun tergusur dari benak mahasiswa yang ada di pulau jawa karena kesibukan masing-masing.

Makna yang terlupakan dari tradisi ini sangatlah dalam. Bagi penulis, domino berangkat dari nilai-nilai pembelajaran hidup oleh leluhur makassar. Sebagaimana diketahui, domino tercipta pertama kali atau dibawa dari tanah cina, namun dalam perkembangan sejarah masyarakat makassar hal ini mempunyai arti penting.

Domino kita ibaratkan sebagai kehidupan. Kemudian dari kehidupan itu kita mengenal yang namanya takdir ilahi atau nasib, dan takdir atau nasib tidak lain adalah sebuah percumbuan antara usaha dan doa “ora et labora” dari manusia itu sendiri.

Maka domino adalah miniature kehidupan yang didalamnya adanya penciptaan dan ketetapan tuhan dan ikhtiar-ikhtiar manusia yang diberikan potensi oleh sang maha pencipta. Maka katika empat orang pemain, dibagikan kartu domino yang berjumlah delapan belas dan masing-masing pemain mendapat tujuh kartu, sama halnya ketika sang pencipta menciptakan makhluknya dengan kesamaan potensi kemanusiaannya, dan sebagai ketetapan-ketetapan tuhan, manusia tidak berhak untuk melakukan protes terhadap ketetapan-ketatapan tuhan yang telah dibuat : terlahir dari rahim seorang nasrani, islam, yahudi dll. Atau protes kenapa terlahir dari rahim seorang berwarna kulit putih, coklat, hitam, dll. Atau banyak manusia protes kenapa terlahir dari rahim seorang yang miskin dari segi material.

Hal demikian adalah ketetapan tuhan. sebuah hak prerogative miliknya semata, dan bukanlah sebagai tanda-tanda ketidakadilan tuhan. dia lah yang paling berhak disembah tidak pernah pilih kasih kepada makhluk ciptaannya.
[ Read More ]

Wajah Demokratisasi Indonesia (2)


Wajah Demokrasi Indonesia masih sangat suram. Permasalahan-permasalahan social, hukum dan politik lebih disikapi dengan jiwa legalisme. Artinya, tidak menyentuh substansi permasalahan rasa keadilan bagi masyarakat luas, tapi dengan alasan undang-undang, bapak president seolah-olah lepas tangan dari masalah itu, yang kemungkinan besar berpotensi menjadi krisis legitimasi. Sebagai contoh sikap diam beliau menghadapi masalah bangsa “Cicak Versus Buaya”.

Di samping itu, pemandangan yang dipertontonkan Cabinet Indonesia Bersatu Jilid Dua, adalah wilayah-wilayah seremonial semata. Meminjam analisa pakar politik, Samsuddin Haris, di Koran Kompas beberapa waktu yang lalu, bahwa president dan kabinetnya sebenarnya sedang memainkan sandiwara nasional. Dan parahnya lagi, tidak memberikan pendidikan dan kesadaran politik pada khalayak. Sebaliknya, terjadi pembodohan terstruktur secara sengaja. Sebagai missal, cabinet memperdengarkan kebanggaan kepada rakyat bahwa Indonesia orde ini terbebas dari utang IMF, tapi tidak memberikan penjelasan kenapa Indonesia di pihak lain, justru mempunyai utang yang lebih banyak di Bank Asia.

Maka, meneropong Indonesia lima tahun mendatang pada cermin sejarah, tidak lebih dari sebuha negara bangsa awal kemerdekaan, yang seolah sibuk mencari bentuk. Lima tahun mendatang masih akan kita dapati kesenjangan besar anatara demokrasi yang di bangun dan kesejahteraan rakyat. Masih menjadi perjuangan panjang; menghilangkan gap antara kelancaran suksesi kepempinan nasional dan perut masyarakat yang semakin keroncong. Langkah Rakyat sebagai pemilik sah Negara ini untuk mendapatkan hak-haknya dalam bentuk pelayanan public yang maksimal, akan terus bergulir searah dengan perjalanan sejarah bangsa ini.
[ Read More ]

Wajah Demokratisasi Indonesia (1)

Proses demokratisasi baru saja di gelar dalam ruang sejarah bangsa ini, dengan susah payah dan mungkin banyak kalangan menilai belum seutuhnya ideal, namun yang pasti, kita telah mendapatkan seorang pemimpin/president yang mempunyai legitimasi yuridis-konstitusional dan legitimasi social. Legitimate konstitusional karena diatur dan berjalan sesuai dengan undang-undang, dan legitimate social karena di pilih langsung oleh rakyat.

Seperti sikap rakyat kebanyakan selama ini, adanya proses-proses demokratis bangsa ini, diikuti oleh espektasi yang besar. Harapan-harapan perubahan ke arah yang lebih baik; harga turun, kebijakan yang lebih pro rakyat, pemerintah pro petani dengan subsidi pupuk dan seterusnya. Tapi sejarah pun terus berulang. Espektasi rakyat banyak tidak terealisasi dan di ikuti kekecawaan missal dari rakyat yang nota bene pemilik sah negeri ini.

Belajar dan bercermin dari sejarah, pemimpin bangsa ini, yang awalnya di elu-elukan, di dewakan pada akhir perjalanannya menjadi musuh bersama, sebutlah seokarno sebagai president pertama. Rakyat terus mendengungkan dan mengangungkan namanya awal republic ini terbentuk, tapi pasca itu, khususnya tahun 1959 dengan konsep demokrasi terpimpinnya, kalangan banyak menilai beliau telah keluar jalur untuk mensejahterahkan rakyat, dan puncaknya, aksi massal mengharuskannya lengser dari jabatan dengan tidak “terhormat”. President kedua seoharto sebagai pengganti “penyelamat pancasila” pun bernasib sama atau bahkan lebih tragis.

Bukan tidak mungkin sejarah akan terus berulang, menjadi sebuah siklus antara eskpektasi besar akan perubahan ke arah yang lebih baik dan kekecawaan-kekecewaan ketika melihat pola pemerintahan yang termanage “ala kerajaan”.

Tengonglah misalnya pola pembentukan cabinet, dimana kita melihat tidak adanya pit dan propertest yang pasti dan kemudian di komsumsi public, apakah calon mentri-mentri layak menduduki posisnya atau tidak. Sedikit pun, Public tidak mempunyai peran dalam pembentukan cabinet. Sang president memilih orang-orang yang loyal tanpa melihat apakah nantinya mampu bekerja maksimal untuk mengemban tugas-tugas pelayanan pada rakyat banyak.

Wajar kita pesimis. Bukankah pola-pola pembentukan cabinet seperti itu juga dilakukan president kedua, dan kita bisa melihat bagaimana dampaknya bagi bangsa ini? Kita menyaksikan bagaimana dampak negative pada rakyat sebagai pemilik negeri ini. Warisan yang di dapat hanyalah rasa malu sebagai bangsa Indonesia di mata dunia dan juga utang yang menumpuk di setiap kepala warga Negara.
           
Kita belum bisa berharap banyak pada Cabinet Indonesia jilid Dua. Sense Of Critis cabinet baru belum terbangun. Sebagai indicator sederhana, penanganan permasalahan bencana alam yang menyengsarakan rakyat masih di tanggulangi secara serampangan dan lamban. Serangkapangan karena tidak adanya kebijakan yang pasti dan cepat bagaimana seharusnya kita menghadapai ini. Justru kalangan swasta lebih cepat dan banyak bergerak. Lamban karena signifikansi tim yang dibentuk “penanganan bencana nasional”, tidak terlihat jelas. Lamban segalanya, sehingga mengakibatkan tidak meratanya pembagian sandang pangan, khususnya logistic instant yang sangat dibutuhkan penderita bencana alam.

[ Read More ]

Mahasiswa Mencari Bentuk


 Ketika reformasi terjadi nama mahasiswa kembali naik daun. Media, baik cetak maupun elektrotik, lokal maupun nasional, membicarakan peran mahasiswa dalam reformasi. Aksi yang dilakukan oleh mahasiswa dianggap mempunyai peran yang besar bagi turunnya Presiden kedua RI H. Muhammad Soeharto yang telah berkuasa selama kurang lebih 32 tahun. Orde Baru yang sudah menguasai negeri selama tiga dasawarsa dan hampir memiliki segalanya ternyata bisa ditumbangkan.

Kontribusi tersebut bukanlah yang pertama yang diberikan oleh mahasiswa Indonesia. Jatuhnya Orde lama yang kemudian digantikan oleh Orde Baru juga tidak lepas dari peran mahasiswa. Gerakan mahasiswa yang berhasil menjatuhkan Orde Lama kemudian dikenal dengan “Angkatan ‘66”. Angkatan tersebut melahirkan banyak tokoh yang masih mempunyai pengaruh yang kuat sampai sekarang.

Gerakan kemerdekaan, yang akhirnya berhasil membebaskan bangsa Indonesia dari belenggu penjajahan Belanda yang sudah berlangsung dari dari tiga abad, tidak lepas dari peran penting mahasiswa. Bung Tomo, Bung Karno, Bung Hatta dan banyak lagi yang lainnya adalah para mahasiswa yang menjadi pemimpin perjuangan kemerdekaan. Dan yang perlu dicatat, banyak di antara para mahasiswa pemimpin perjuangan adalah mahasiswa yang kuliah di perguruan tinggi yang dirikan oleh Pemerintah Hindia Belanda. Karena adanya kesadaran akan kondisi bangsa, mereka justru melawan pemerintah yang mendirikan perguruan tinggi mereka.

Peran mahasiswa dalam perjuangan kemerdekaan dan pengusiran penjajah, penumbangan Orde Lama, dan penumbangan Orde Baru menempatkan mahasiswa pada kelompok yang diperhitungkan. Perubahan-perubahan besar yang terjadi Negara ini hamper selalu melibatkan mahasiswa. Maka tidak mengherankan kalau kemudian mahasiswa mendapatkan sebutan yang mentereng, agent of change.

Tapi selain peran kebangsaan yang diwujudkan dalam aksi nyata melawan pihak-pihak yang dianggap menindas rakyat, mahasiswa mempunyai tugas untuk memperdalam ilmu sesuai dengan disiplin ilmu masing-masing. Mahasiswa Tekni Sipil misalnya, ia harus menguasai betul bagaimana membuat bangunan yang baik dan kokoh sehingga bangunan tersebut tidak roboh ketika baru berusia beberapa bulan saja. Mahasiswa Jurusan Planalogi harus tahu bagaimana mendesain sebuah kota dengan baik sehingga tata ruang kota di kota-kota yang ada di negeri ini tidak amburadul. Kebutuhan akan penguasaan ilmu pengetahuan di wilayah disiplin akademik merupakan salah satu kebutuhan dasar mahasiswa. Karena merupakan kebutuhan dasar, maka hal tersebut tidak dapat ditunda pemenuhannya.

Salah satu bagian dari pemenuhan kebutuhan dasar akademik adalah kebutuhan referensi dengan buku bacaan. Sebagian dari kebutuhan akan buku referensi sudah dipenuhi oleh kampus. Mahasiswa bisa menjaci referensi di perpustakaan yang dipunyai oleh kampus. Tapi kampus tidak bisa memenuhi semua kebutuhan referensi yang dibutuhkan oleh mahasiswa. Untuk itu mahasiswa harus memenuhi sendiri kebetuhannya. Pertanyaannya, berapa besar alokasi anggaran yang disiapkan oleh mahasiswa untuk memenuhi kebutuhan akan referensi?

[ Read More ]