Kampung Indonesia Sebagai Identitas

Facebook
RSS

Ideologi Alternatif : Sebuah Pengantar (1)

-
Arung Shad S


Abstraki
 Apa yang kita pahami tentang realitas dunia saat ini? Apakah benturan peradaban seperti kata Huntington? Perang ideologi atau bahkan ada yang lebih dahsyat dari semua itu. Sebuah defenisi dari seorang sosiolog, Hebert Blumer, bahwa persepsi seseorang akan berdampak pada tingkah laku sosialnya.

Melihat fenomena globalisasi tanpa reserve yang ketat dari kita sebagai individu dan masyarakat meniscayakan kampung global yang sangat terbuka. Persepsi positif dan sebaliknya, terhadap globalisasi menentukan penyikapan masyarakat yang berbeda-beda. Kapitalisme global sebagai sebuah “agama” seseorang akan berdampak pada kehidupan pribadi dan lingkungannya, juga berdampak pada penyikapan dan responnya (positif atau negative) pada sebuah perubahan kehidupan modern atau pembangunan. Di balik dominasi pandangan dunia materialistik tentang sebuah perubahan menuju perbaikan nasib, menuju kesejerahteraan rakyat—perspektif Islam tentang keadilan sosial ekonomi pun menjadi sebuah alternatif kajian pada era global

Ada apa dengan dunia saat ini? pertanyaan simpel itu sangat tidak mermakna jika kita mencoba berpikir skeptis atau ogah-ogahan dengan realita tempat kita berpijak, namun jika kita coba sedikit lebih kritis ternyata dunia tempat kita berpijak sangat tidak kondusif lagi intuk kita berdiam diri. Rumah (dari kata ekologis, bahasa yunani yang juga berarti alam secara keseluruhan) nyatanya sangat memprihatinkan, seperti yang pernah digambarkan para pemikir pra industri bahwa setelah pengrusakan ekolgois secara menggelobal oleh para dedengkot feodal yang kemudian menjadi embrio lahirnya kkapitalisme yang kita kenal saat ini. pada abad menjelang zaman industri indikasi akan kerusakan alam sudah mengejala di daratan eropah dan amerika.

Setiap masyakrakat sangat tergantung pada pada dukungan sumber daya alam dasar energi dan materi ), sejak zaman masyarakat primitif atau nomaden sudah menjadi ketentuan umum bahwa mereka sangat bergantung pada rumah ini, kemudian datang zaman pasca nomaden atau era dimana masyarakat mulai belajar bercocok tanam yang menjadi cikal bakal masyarkat menetap. Ada satu konklusi yang dapat ditarik dari dua zaman itu bahwa aktivitas mereka tidak terlalu berpengaruh pada alam kerana produktifitas mereka sangat dibatasi oleh prodktifitas alam itu sendiri, apalagi mengingat sebelum kapitalisme menghsilkan masyarkat industri sebagian besar benda yang dgunakan oleh manusia berasal dari hewan dan selebihnya dari mineral.

Dari uraian diatas akan timbul pertanyaan, konsepsi yang sebenarnya sangat urgen dipakai dalam konteks atau untuk melihat dunia, apakah konsepsi kapitalis, sosialis, islam, atau ada konsepsi yang kemudian diharapkan menjadi konsepsi global untuk tetap menjaga tidak terjadinnya pengrusakan rumah kita tempat kita berpijak ini.

Dalam sejarahnya konsepsi kapitalisme nyatanya menjadi dominant di dunia dari konsepsi manapun tentang dunia.Namun apa yang kemudian terjadi pasca itu semua, semenjak capitalism menginjakkan kaki-tangannya dalam ruang rumah kta, setelah pemagaran tanah-tanah umum dinggris sebagai contoh, mengisyaratkan adanya peralihan zaman yang sekarang sangat kita rasakan, peralihan dari masyarkat feodalisme menuju masyarkat kapitalisme. Industrialisme membalikkan rumah ala mini, industrialisme mengalihakn penekanan dari penggunanaan reproduktif sumber daya dasar yang tetap terjaga menjadi penggunaan ekstraktif yang menghabiskan seluruh persediaan. Dari sini kemudian berawal sebuah embrio penghisapan atau eksploitasi alam atau rumah kita scara besar-besaran dengan logika sederhana bahwa seluruh alam diperuntukkan untuk manusia makhluk yang paling mulia dari sekalian makhluk Tuhan apapun yang ada di dunia.

Jika sedikit kembali menggmbarkan kota inggris yang nota bene salah satu empat cikal bakal kapitalisme bahwa pada abad ke-19 digambarka secara sederhana inggris sudah menjadi bengkel dunia. Dengan logika sederhana tadi diatas kapitalisme industrial yang menghasilkan abad modern, mengeruk seluruh bahan baku tanpa memeikirkan kaibatnya karena adanya factor yang lain yang seolah-olah mampu mengatasi kekuranggan bahan baku dari alam yaitu teknologi, teknologi ditangan para kapitalis telah menaklukkan dan sekaligus memperkosa rumah tempat kita berpijak.

Begitu pula, sosialisme sering dipertentangkan secara vis a vis dengan kapitalisme. walaupun banyak kalangan menilainya lebih dekat dengan Islam dalam beberapa hal, namun juga tidak dapat berbuat banyak dengan perbaikan rumah alam kita berpijak. Sosialisme sebagai sebuah ideologi : memrdekakan budak menuju sosialisme seluruh dunia tanpa kelas dalam masyarakat. Tanpa kelas sebagai pusat dan sumber kebahagian serta kesejerahteraan manusia.

Namun, dunia menjadi saksi sosialisme dalam sejarahnya, justru terjebak pada otoritarianisme lebih kejam : menghancurkanleburkan sisi kemanusiaan itu sendiri. Bahkan  banyak kalangan, sosialisme dalam memperjuangkan suara rakyat mayoritas kaum proletar, demokrasi sosialis, kebebasan berpendapat seperti yang sering diserukan oleh partai-partai beridiologi Sosialis tidak lain hanyalah sebuah tahapan dari strategi meraih kekuasaan sepenuhnya. Naluri kuasa Rezim Dictator-Represif di bawah jargon kelas mayoritas kelas proletar. Seperti yang dikutip Lenin dalam bukunya, Prederick Angel berkata: sesungguhnya kaum proletar pada Negara itu bukan untuk tujuan kebebasan, tetapi bertujuan untuk menekan (menakut-nakuti) musuh politiknya.

Apakah ada ideologi atau cara pandang (baca, sistem) yang mampu keluar sebagai jalan solutif? Diperlukan kajian lebih dalam. Kita perlu menengok peradaban-peradaban besar yang diprakarsai atau  dilandasi nilai-nilai teologis, Islam misalnya.