Abstraki :
Apa
yang kita pahami tentang realitas dunia saat ini? Apakah benturan peradaban
seperti kata Huntington? Perang ideologi atau bahkan ada yang lebih dahsyat
dari semua itu. Sebuah defenisi dari seorang sosiolog, Hebert Blumer, bahwa
persepsi seseorang akan berdampak pada tingkah laku sosialnya.
Melihat
fenomena globalisasi tanpa reserve yang ketat dari kita sebagai individu dan
masyarakat meniscayakan kampung global yang sangat terbuka. Persepsi positif
dan sebaliknya, terhadap globalisasi menentukan penyikapan masyarakat yang
berbeda-beda. Kapitalisme global sebagai sebuah “agama” seseorang akan berdampak
pada kehidupan pribadi dan lingkungannya, juga berdampak pada penyikapan dan
responnya (positif atau negative) pada sebuah perubahan kehidupan modern atau
pembangunan. Di balik dominasi pandangan dunia materialistik tentang sebuah
perubahan menuju perbaikan nasib, menuju kesejerahteraan rakyat—perspektif Islam
tentang keadilan sosial ekonomi pun menjadi sebuah alternatif kajian pada era
global
Ada
apa dengan dunia saat ini? pertanyaan simpel itu sangat tidak mermakna jika
kita mencoba berpikir skeptis atau ogah-ogahan dengan realita tempat kita
berpijak, namun jika kita coba sedikit lebih kritis ternyata dunia tempat kita
berpijak sangat tidak kondusif lagi intuk kita berdiam diri. Rumah (dari kata
ekologis, bahasa yunani yang juga berarti alam secara keseluruhan) nyatanya
sangat memprihatinkan, seperti yang pernah digambarkan para pemikir pra
industri bahwa setelah pengrusakan ekolgois secara menggelobal oleh para
dedengkot feodal yang kemudian menjadi embrio lahirnya kkapitalisme yang kita
kenal saat ini. pada abad menjelang zaman industri indikasi akan kerusakan alam
sudah mengejala di daratan eropah dan amerika.
Setiap
masyakrakat sangat tergantung pada pada dukungan sumber daya alam dasar energi
dan materi ), sejak zaman masyarakat primitif atau nomaden sudah menjadi
ketentuan umum bahwa mereka sangat bergantung pada rumah ini, kemudian datang
zaman pasca nomaden atau era dimana masyarakat mulai belajar bercocok tanam
yang menjadi cikal bakal masyarkat menetap. Ada satu konklusi yang dapat
ditarik dari dua zaman itu bahwa aktivitas mereka tidak terlalu berpengaruh
pada alam kerana produktifitas mereka sangat dibatasi oleh prodktifitas alam
itu sendiri, apalagi mengingat sebelum kapitalisme menghsilkan masyarkat industri
sebagian besar benda yang dgunakan oleh manusia berasal dari hewan dan
selebihnya dari mineral.
Dari
uraian diatas akan timbul pertanyaan, konsepsi yang sebenarnya sangat urgen
dipakai dalam konteks atau untuk melihat dunia, apakah konsepsi kapitalis,
sosialis, islam, atau ada konsepsi yang kemudian diharapkan menjadi konsepsi
global untuk tetap menjaga tidak terjadinnya pengrusakan rumah kita tempat kita
berpijak ini.
Dalam
sejarahnya konsepsi kapitalisme nyatanya menjadi dominant di dunia dari konsepsi
manapun tentang dunia.Namun apa yang kemudian terjadi pasca itu semua, semenjak
capitalism menginjakkan kaki-tangannya dalam ruang rumah kta, setelah pemagaran
tanah-tanah umum dinggris sebagai contoh, mengisyaratkan adanya peralihan zaman
yang sekarang sangat kita rasakan, peralihan dari masyarkat feodalisme menuju
masyarkat kapitalisme. Industrialisme membalikkan rumah ala mini,
industrialisme mengalihakn penekanan dari penggunanaan reproduktif sumber daya
dasar yang tetap terjaga menjadi penggunaan ekstraktif yang menghabiskan
seluruh persediaan. Dari sini kemudian berawal sebuah embrio penghisapan atau
eksploitasi alam atau rumah kita scara besar-besaran dengan logika sederhana
bahwa seluruh alam diperuntukkan untuk manusia makhluk yang paling mulia dari
sekalian makhluk Tuhan apapun yang ada di dunia.
Jika
sedikit kembali menggmbarkan kota inggris yang nota bene salah satu empat cikal
bakal kapitalisme bahwa pada abad ke-19 digambarka secara sederhana inggris
sudah menjadi bengkel dunia. Dengan logika sederhana tadi diatas kapitalisme
industrial yang menghasilkan abad modern, mengeruk seluruh bahan baku tanpa
memeikirkan kaibatnya karena adanya factor yang lain yang seolah-olah mampu
mengatasi kekuranggan bahan baku dari alam yaitu teknologi, teknologi ditangan
para kapitalis telah menaklukkan dan sekaligus memperkosa rumah tempat kita
berpijak.
Begitu
pula, sosialisme sering dipertentangkan secara vis a vis dengan kapitalisme.
walaupun banyak kalangan menilainya lebih dekat dengan Islam dalam beberapa hal,
namun juga tidak dapat berbuat banyak dengan perbaikan rumah alam kita berpijak.
Sosialisme sebagai sebuah ideologi : memrdekakan budak menuju sosialisme
seluruh dunia tanpa kelas dalam masyarakat. Tanpa kelas sebagai pusat dan
sumber kebahagian serta kesejerahteraan manusia.
Namun,
dunia menjadi saksi sosialisme dalam sejarahnya, justru terjebak pada
otoritarianisme lebih kejam : menghancurkanleburkan sisi kemanusiaan itu sendiri.
Bahkan banyak kalangan, sosialisme dalam
memperjuangkan suara rakyat mayoritas kaum proletar, demokrasi sosialis,
kebebasan berpendapat seperti yang sering diserukan oleh partai-partai
beridiologi Sosialis tidak lain hanyalah sebuah tahapan dari strategi meraih
kekuasaan sepenuhnya. Naluri kuasa Rezim Dictator-Represif di bawah jargon
kelas mayoritas kelas proletar. Seperti yang dikutip Lenin dalam bukunya,
Prederick Angel berkata: sesungguhnya kaum proletar pada Negara itu bukan untuk
tujuan kebebasan, tetapi bertujuan untuk menekan (menakut-nakuti) musuh
politiknya.
Apakah
ada ideologi atau cara pandang (baca, sistem) yang mampu keluar sebagai jalan
solutif? Diperlukan kajian lebih dalam. Kita perlu menengok peradaban-peradaban
besar yang diprakarsai atau dilandasi
nilai-nilai teologis, Islam misalnya.


