Kampung Indonesia Sebagai Identitas

Facebook
RSS

Tragedi Kohesivitas Masyarakat Indonesia

-
Arung Shad S

Sebagai Negara-bangsa, Kita bangga dengan kebhinekaan. Akan tetapi tragedy social yang melanda kita akhir-akhir ini menunjukkan dengan gamblang bahwa kita belum dewasa hidup dalam perbedaan. Ketentraman rasanya semakin jauh dari keseharian kita akhir-akhir ini. Rupanya pemimpin bangsa Negara perlu bertatap muka tidak hanya sekedar berbicara tentang rekonsiliasi nasional, tidak hanya berbicara konstelasi politik di masa mendatang, tidak hanya melahirkan deal-deal politik pembagian kue kekuasaan tetapi untuk bersepakat sekali lagi; siapa kita dan mau kemana kita sebagai bangsa. Mereka seharusnya memberikan kepastian terhadap agenda-agenda kebangsaan yang merekatkan kita sebagai bangsa yang plural, berbicara menuju kesepahaman bersama dan mencari apa yang sekiranya menjadi alat perekat Negara bangsa ini.

Fenomena yang menarik dinegeri ini ketika ruang kebebasan terbuka seluas-luasnya adalah kekerasan yang dilakukan masyarakat kita yang nota bene ramah terhadap sasama manusia. Kekerasan yang seringkali berujung kepedihan sudah menjadi keseharian public, baik di desa maupun di kota. Tetapi bersamaan dengan maraknya kekerasan, kita menyaksikan yang namanya kepedihan public. Kemalangan sudah mempersempit dan dipersempit menjadi urasan individu, bukan urusan public, bukan urusan bersama lagi. Seolah pribahasa yang kita anut dan yakini selama “bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”, tertiup angin bersama datangnya angin kebebasan bernama reformasi.

Kekerasan yang terjadi secara horizontal yang memakan tidak sedikit korban sesama manusia Indonesia, bencana alam yang seakan tiada henti terus menghantui sepanjang malam dan kembali memakan korban yang tidak terkira, ternyata sejauh ini, tidak lebih dari fakta, kata dan angka. kita tidak tergugah sedikit pun untuk sekedar melakukan sesuatu yang dapat meringankan derita saudara sebangsa kita. Pemerintah yang mengikat kontrak dengan public untuk mengurusi khayalak pun kut-ikut mati rasa. Kepedihan dan derita yang di alami di bukan daerah kita seolah persolan local yang harus diselesaikan sendiri oleh mereka. Kepeduliaan Negara yang seharusnya mampu menjangkau dan menerobos batas wilayah nusantara, merubah menjadi kepeduliaan yang mengkerut.

Ironis memang, bahwa nilai kebersamaan dan persaan kesamaan nasib terkikis habis bersamaan ketika demokrasi menyatakan dan dinyatakan sebagai pemenang di persada nusantara ini. Bertambah semarak di setiap sudut-sudut pelosok negeri di kala semangat madani merasuki wacana kita. Kian memprihatinkan di saat koreksi terhadap politik sebagai panglima demikian dahsayatnya.

Mungkin benar, bencana alam yang terus menggempur adalah bencana yang tak terelakkan oleh kita dikarenakan teknologi kita yang masih terbatas. Namun banyaknya korban jiwa akibat peperangan horizontal sesame anak bangsa dan kita tidak memperdulikan juga adalah bencana, bencana kemanusiaan. Sebuah bencana karena ketidakpeduliaan anak bangsa kepada anak bangsa lainnya yang sedang mengalami musibah. Dan inilah bencana yang lebih dahsyat menerpa negeri ini dibanding bencana alam manapun.

Mengambil kearifan local yang ditawarkan budayawan D. Zawawi Amran, bawa kita mampu melihat sejarah kohesivitas masyarakat Indonesia sangat kental dengan melihat pribahasa-pribahasa atau adigium-adigium local yang tersebar di seluruh nusantara. Sebagai contoh dalam pribahasa jawa “mangan ora mangan seng pening ngumpul” adalah adigium yang kemudian ditarik dalam prinsip Negara atau prinsip yang mengakar dalam masyarakat pada jaman pemerintah soeharto dengan konsepsi gotong royong dan menjadi “idiologi” yang mempengaruhi prilaku-prilaku dalam berinteraksi dengan sesame anak bangsa.
Menggali lebih jauh dan dalam, adigium local nusantara akan menyingkap nuansa kohevitas yang kental; dengan budaya local masyrakat sulawesi tengah sebenarnya melahirkan kesadaran kepada mereka bahwa dalam berinteraksi, kita harus melempui perbedaan-perbedaan agama dan etnis untuk kemudian menciptakan harmonisasi dalam batang tubuh masyarakat secara kolektif.

Namun, pada perkembangan sejarah masyaraka ini, Empati dan simpati public rupanya sedang mengalami penyempitan medan sensivitas. Duka dan kegembiraan dalam dunia yang kian menjadi masyarakat teknologi menjadi urusan privat. Tangisan seorang anak terhadap ibunya yang ditabrak mobil, lama kelamaan dianggap sebagai kebodohan karena mengganggu wilayah privat. Ketika masyarakat kita menjadi msyarakat yang terbuka dan mengmbil nilai-nlai impor dari barat (nilai-nilai individual) karena perkembangan teknologi maka perubahan segera akan nampak jelas. Artinya, mengikuti pola pembagian dua masyarakat oleh hassan hanafi, seorang pemikir social keagamaan dari mesir bahwa masyarakat akan terbagi dua; pertama, masyarakat tradisional dan masyarakat modern, dan ketika masyarakat memasuki masyarakt modern industri yang berpegang nilai-nilai individual maka terlihat jelas bahwa Masyarakat kita hari ini sedang menuju menjadi masyarakat mati rasa.
Kembali kita harus belajar dari sejarah, ketika ajaran moral agama menjadi pusat inspirasi untuk bergerak dan berjuang serta membangun kolektivitas bangsa oleh bapak Negara ini. Haji ahmad dahlan, mengelaoasi pendidikan barat dan ajaran moral agama dalam membangun generasi muda bangsa ini menuju pencerahan dan kemerdakaan, haji cokroaminit pun demikian dan masih banyak dari tokoh bangsa yang menjadikan ajaran moral agama sebagai alat perekat antara anak bangsa yang beraneka raga mini.

Tapi kemudian, berkaca pada realitas msa kini, merupakan hal yang ironis ketika Penyebutan bahwa Indonesia sebagai Negara bangsa yang religus menambah rasa yang semakin munusuk kemanusiaan kita. Pertanyaan yang mendasar kemana nilai-nilai ajaran moral yang selama ini didakwakan oleh para pakar agama secara berkala? Apakah ajaran-ajaran moral itu juga ikut tertiup angina perubahan sehingga bersamaan datangnya badai bencana alam?
Pelajaran yang terus ditekankan kepada kita sejak kecil hingga menginjakkan kaki di perguruan tinggi memperlihatkan bagaimana ajaran-ajaran moral agama merupakan perekat antara masyarakat di negeri ini, namun terlihat secara sekilas seolah-olah kini menjadi biang keladi atau salah satu sumber percekcokan yang berujung petaka.

Tragedy-tragedi yang terus memperlihatkan wajahnya atas nama agama terus bertambah di era kebebasan ini. Berkali-kali hal demikian menampar peradaban bermasyarakat dan bernegara kita. Mungkin kita memang belum mencapai kedewasaan sebagai bangsa yang pluralistic. Tidak mengherankan kalau dari waktu ke waktu melalui berbagai tragedy atas nama agama kita, mengajak bangsa-bangsa di dunia untuk menerawakan kenaifan kita dalam bersikap terhadap realitas itu.

Bagaimana pun agama dengan segala dimensi ajaran moralnya, adalah ruang yang sangat sensitive di negeri ini. Dia bisa menjadi factor integrasi tapi sekaligus mengandung potensi disintegrasi. Atau dengan kata lain, agama dapat berfungsi sebagai alat kohevitas masyarakat tapi mengandung potensi menjerumuskan manusia ke ujung degradasi moral social. Maka diperlukan kehati-hatian yang luar biasa ekstra, untuk memunculkan kembali nilai-nilai agama yang humanis dan membawa kepada kohesivitas masyarakat yang lebih baik di masa mendatang.