Fenomena
yang menarik dinegeri ini ketika ruang kebebasan terbuka seluas-luasnya adalah
kekerasan yang dilakukan masyarakat kita yang nota bene ramah terhadap sasama
manusia. Kekerasan yang seringkali berujung kepedihan sudah menjadi keseharian
public, baik di desa maupun di kota. Tetapi bersamaan dengan maraknya
kekerasan, kita menyaksikan yang namanya kepedihan public. Kemalangan sudah
mempersempit dan dipersempit menjadi urasan individu, bukan urusan public, bukan
urusan bersama lagi. Seolah pribahasa yang kita anut dan yakini selama “bersatu
kita teguh, bercerai kita runtuh”, tertiup angin bersama datangnya angin
kebebasan bernama reformasi.
Kekerasan
yang terjadi secara horizontal yang memakan tidak sedikit korban sesama manusia
Indonesia, bencana alam yang seakan tiada henti terus menghantui sepanjang
malam dan kembali memakan korban yang tidak terkira, ternyata sejauh ini, tidak
lebih dari fakta, kata dan angka. kita tidak tergugah sedikit pun untuk sekedar
melakukan sesuatu yang dapat meringankan derita saudara sebangsa kita.
Pemerintah yang mengikat kontrak dengan public untuk mengurusi khayalak pun
kut-ikut mati rasa. Kepedihan dan derita yang di alami di bukan daerah kita
seolah persolan local yang harus diselesaikan sendiri oleh mereka. Kepeduliaan
Negara yang seharusnya mampu menjangkau dan menerobos batas wilayah nusantara,
merubah menjadi kepeduliaan yang mengkerut.
Ironis
memang, bahwa nilai kebersamaan dan persaan kesamaan nasib terkikis habis bersamaan
ketika demokrasi menyatakan dan dinyatakan sebagai pemenang di persada
nusantara ini. Bertambah semarak di setiap sudut-sudut pelosok negeri di kala
semangat madani merasuki wacana kita. Kian memprihatinkan di saat koreksi
terhadap politik sebagai panglima demikian dahsayatnya.
Mungkin
benar, bencana alam yang terus menggempur adalah bencana yang tak terelakkan
oleh kita dikarenakan teknologi kita yang masih terbatas. Namun banyaknya
korban jiwa akibat peperangan horizontal sesame anak bangsa dan kita tidak
memperdulikan juga adalah bencana, bencana kemanusiaan. Sebuah bencana karena
ketidakpeduliaan anak bangsa kepada anak bangsa lainnya yang sedang mengalami
musibah. Dan inilah bencana yang lebih dahsyat menerpa negeri ini dibanding
bencana alam manapun.
Mengambil
kearifan local yang ditawarkan budayawan D. Zawawi Amran, bawa kita mampu
melihat sejarah kohesivitas masyarakat Indonesia sangat kental dengan melihat
pribahasa-pribahasa atau adigium-adigium local yang tersebar di seluruh
nusantara. Sebagai contoh dalam pribahasa jawa “mangan ora mangan seng pening
ngumpul” adalah adigium yang kemudian ditarik dalam prinsip Negara atau prinsip
yang mengakar dalam masyarakat pada jaman pemerintah soeharto dengan konsepsi
gotong royong dan menjadi “idiologi” yang mempengaruhi prilaku-prilaku dalam
berinteraksi dengan sesame anak bangsa.
Menggali
lebih jauh dan dalam, adigium local nusantara akan menyingkap nuansa kohevitas
yang kental; dengan budaya local masyrakat sulawesi tengah sebenarnya
melahirkan kesadaran kepada mereka bahwa dalam berinteraksi, kita harus
melempui perbedaan-perbedaan agama dan etnis untuk kemudian menciptakan
harmonisasi dalam batang tubuh masyarakat secara kolektif.
Namun,
pada perkembangan sejarah masyaraka ini, Empati dan simpati public rupanya
sedang mengalami penyempitan medan sensivitas. Duka dan kegembiraan dalam dunia
yang kian menjadi masyarakat teknologi menjadi urusan privat. Tangisan seorang
anak terhadap ibunya yang ditabrak mobil, lama kelamaan dianggap sebagai
kebodohan karena mengganggu wilayah privat. Ketika masyarakat kita menjadi
msyarakat yang terbuka dan mengmbil nilai-nlai impor dari barat (nilai-nilai
individual) karena perkembangan teknologi maka perubahan segera akan nampak
jelas. Artinya, mengikuti pola pembagian dua masyarakat oleh hassan hanafi,
seorang pemikir social keagamaan dari mesir bahwa masyarakat akan terbagi dua;
pertama, masyarakat tradisional dan masyarakat modern, dan ketika masyarakat
memasuki masyarakt modern industri yang berpegang nilai-nilai individual maka
terlihat jelas bahwa Masyarakat kita hari ini sedang menuju menjadi masyarakat
mati rasa.
Kembali
kita harus belajar dari sejarah, ketika ajaran moral agama menjadi pusat
inspirasi untuk bergerak dan berjuang serta membangun kolektivitas bangsa oleh
bapak Negara ini. Haji ahmad dahlan, mengelaoasi pendidikan barat dan ajaran
moral agama dalam membangun generasi muda bangsa ini menuju pencerahan dan
kemerdakaan, haji cokroaminit pun demikian dan masih banyak dari tokoh bangsa
yang menjadikan ajaran moral agama sebagai alat perekat antara anak bangsa yang
beraneka raga mini.
Tapi
kemudian, berkaca pada realitas msa kini, merupakan hal yang ironis ketika
Penyebutan bahwa Indonesia sebagai Negara bangsa yang religus menambah rasa
yang semakin munusuk kemanusiaan kita. Pertanyaan yang mendasar kemana
nilai-nilai ajaran moral yang selama ini didakwakan oleh para pakar agama
secara berkala? Apakah ajaran-ajaran moral itu juga ikut tertiup angina
perubahan sehingga bersamaan datangnya badai bencana alam?
Pelajaran
yang terus ditekankan kepada kita sejak kecil hingga menginjakkan kaki di
perguruan tinggi memperlihatkan bagaimana ajaran-ajaran moral agama merupakan
perekat antara masyarakat di negeri ini, namun terlihat secara sekilas
seolah-olah kini menjadi biang keladi atau salah satu sumber percekcokan yang
berujung petaka.
Tragedy-tragedi
yang terus memperlihatkan wajahnya atas nama agama terus bertambah di era
kebebasan ini. Berkali-kali hal demikian menampar peradaban bermasyarakat dan
bernegara kita. Mungkin kita memang belum mencapai kedewasaan sebagai bangsa
yang pluralistic. Tidak mengherankan kalau dari waktu ke waktu melalui berbagai
tragedy atas nama agama kita, mengajak bangsa-bangsa di dunia untuk menerawakan
kenaifan kita dalam bersikap terhadap realitas itu.
Bagaimana
pun agama dengan segala dimensi ajaran moralnya, adalah ruang yang sangat
sensitive di negeri ini. Dia bisa menjadi factor integrasi tapi sekaligus
mengandung potensi disintegrasi. Atau dengan kata lain, agama dapat berfungsi
sebagai alat kohevitas masyarakat tapi mengandung potensi menjerumuskan manusia
ke ujung degradasi moral social. Maka diperlukan kehati-hatian yang luar biasa
ekstra, untuk memunculkan kembali nilai-nilai agama yang humanis dan membawa
kepada kohesivitas masyarakat yang lebih baik di masa mendatang.


