Kampung Indonesia Sebagai Identitas

Facebook
RSS

Pro Hospitalianisme : Titik Temu Integrasi Bangsa (1)

-
Arung Shad S

Bagian satu


“Indonesia adalah Negara-bangsa yang paling plural di dunia”- Amin Rais, dalam pembukaan pesmaba 2003 di Kampus Putih Malang

Indonesia adalah Negara paling plural di dunia dengan beraneka ragam agama, suku, bangsa, bahasa, budaya serta tentunya dengan banyak pulau, indoenesia menjadi Negara kepulauan yang maha luas. Dalam konstelasi demikian, Indonesia di satu pihak menjadi tempat atau tujuan waisata masyarakat dunia, karena daya tarik yang demikian banyak, baik panorama alamnya, juga tidak sedikit yang datang karena keanekaragaman manusia indoensia serta budaya-budaya yang ada dalam masyarakat Indonesia itu sendiri. Di lain pihak perubahan yang teramat dahsyat dalam konstelasi global memacu perkembangan pada sebuah perubahan social masyarakat dunia yang banyak kalangan menilai salah satu dampaknya adalah adanya kampung-kampung global, dimana tempat interaksi manusia dari segala macam penjuru Negara bangsa ada di sana. Dalam konteks inilah Indonesia masuk dalam percaturan global dan sebagai bagian yang signifikan terkena dampak global tadi.

Untuk ambil bagian dalam konstelasi global, untuk tidak dikatakan tertinggal jauh di belakang, masyarakat Indonesia hendaknya ambil bagian dalam proses perubahan tersebut. Namun yang realistic dalam konteks ini adalah mahasiswa yang nota bene kaum cerdik cendikia masyarakat Indonesia, adanya wadah yang kondusif untuk mendorong semangat perubahan, daya kritisisme dan radikalisasi pemikiran serta tentunya daya tahan mahasiswa mempertahankan nilai-nilai social yang di milikinya. Disini dianggap urgen dan mendesak adanya ruang-ruang komunikasi mahasiswa yang demokratis, bebas dari intervensi eksternal dan bebas dari segala macam intimidasi untuk memberikan kesempatan kepada mahasiswa mengaktualisasikan potensinya dalam terlibat aktif dalam proses perubahan global tadi.

Selanjutnya, mahasiswa sebagai aktor perubahan baik local ataupun global sebagaimana disebutkan diatas harus mampu merubah maenstreem berpikirnya kearah keperpihakan kaum-kaum yang dilemahkan dengan perubahan tadi, terlepas agama, ras, dan dari Negara manapun, manusia kampus di tuntut berpihak kepada mereka. Namun sebagaimana kita ketahui bahwa untuk merubah sebuah paradigma yang akan melahirkan kesadaran secaara kolektif ditingkatan mahasiswa tidak segampang membalikkan telapak tangan, sehingga di perlukan adanya sebuah instrument-instrumen yang membantu untk mencapai tujuan tadi. Forum-forum bebas, demokratis adalah salah satu instrument untuk melakukan pengayaan kesadaran generasi manusia kampus, sehingga penggalakan forum-forum semacam ini menjadi kebutuhan secara umum manusia kmapus hari ini. Disamping watak kelas yang dimiliki mahasiswa sehingga sangat mudah tergoda dengan kekuasaan serta sesuatu yang bersifat material, juga tidak sedikit manusia kampus yang gampang tergoda dengan doktrin-doktrin atas nama tuhan sehingga terjerumus dalam gerakan-gerakan yang sangat ekstrem seperti bom bunuh diri dll

Sebagai mahasiswa, pemerhati serta praktisi gerakan dan perubahan social, penulis kemudian membuat sebuah wadah yang kedepannya diharapkan menjadi gerakn social mahasiswa dan secara umum masyarakat Indonesia yang di sebut gerakan pro hospitalianisme. Wacana dan praktek Gerakan ini sebenarny berangkat dari Negara-negara eropa yang mengalami ”kedatangan tamu” yang bernama imigran-imigran pasca perang dunia pertama dan kedua. Salah Negara eropa yang mengalami kondosi demikian adalah prancis. Sehingga banyak kajian-kajian, seminar-seminar tentang hospitalitas ini, dan tentunya ada pro dan kontra disana.

Dengan pradiksi para pakar modernitas (bagi yang optimis melihat modernitas), bahwa pada tahun-tahun mendatang akan ada kampung-kampung global. sehingga penulis menganggap perlu adanya serangkaian Gerakan Pro Hospitalianisme ini, sebuah upaya yang diharapkan mampu merubah paradigma masyarakat ”yang nota bene sebagai tuan rumah terhadap para pendatang baru. Dengan masifikasi dan maksimalisasi gerakan pro hospitalianisme yang diprakarsai oleh seluruh element masyarakat, khususnya mahasiswa, akan memberikan ekspektasi terhadap adanya kampung global di indonesia. semoga tidak terjadi sebagaimana yang terjadi di prancis dan nagera eropa lainnya dimana masyarakatnya banyak yang meneriman para imigran-imigran dengan asumsi negatif tanpa alasan yang jelas.

Di masa mendatang, setiap individu tidak lagi menguras energi untuk mencari dan mengtahui serta mempertahankan posisinya dengan kembali pada identitas kelompoknya, dari segi kepercayaan, etnis, budaya dan ras tertentu. Namun lebih pada identitas keanekaragaman kemanusiaan. Sehingga perbadaan satu individu dengan individu lainnya bukanlah sebuah perbedaan karena perbadaan latar belakang budaya tapi lebih pada kepercayaan bahwa perbedaan yang ada pada manusia adalah sebuah kebenaran universal yang dicipta oleh tuhan yang maha kuasa.