“Indonesia adalah Negara-bangsa yang paling plural di dunia”- Amin Rais,
dalam pembukaan pesmaba 2003 di Kampus Putih Malang
Indonesia adalah
Negara paling plural di dunia dengan beraneka ragam agama, suku, bangsa, bahasa,
budaya serta tentunya dengan banyak pulau, indoenesia menjadi Negara kepulauan
yang maha luas. Dalam konstelasi demikian, Indonesia di satu pihak menjadi
tempat atau tujuan waisata masyarakat dunia, karena daya tarik yang demikian
banyak, baik panorama alamnya, juga tidak sedikit yang datang karena
keanekaragaman manusia indoensia serta budaya-budaya yang ada dalam masyarakat
Indonesia itu sendiri. Di lain pihak perubahan yang teramat dahsyat dalam
konstelasi global memacu perkembangan pada sebuah perubahan social masyarakat
dunia yang banyak kalangan menilai salah satu dampaknya adalah adanya
kampung-kampung global, dimana tempat interaksi manusia dari segala macam
penjuru Negara bangsa ada di sana. Dalam konteks inilah Indonesia masuk dalam
percaturan global dan sebagai bagian yang signifikan terkena dampak global
tadi.
Untuk ambil
bagian dalam konstelasi global, untuk tidak dikatakan tertinggal jauh di
belakang, masyarakat Indonesia hendaknya ambil bagian dalam proses perubahan tersebut.
Namun yang realistic dalam konteks ini adalah mahasiswa yang nota bene kaum
cerdik cendikia masyarakat Indonesia, adanya wadah yang kondusif untuk
mendorong semangat perubahan, daya kritisisme dan radikalisasi pemikiran serta
tentunya daya tahan mahasiswa mempertahankan nilai-nilai social yang di
milikinya. Disini dianggap urgen dan mendesak adanya ruang-ruang komunikasi
mahasiswa yang demokratis, bebas dari intervensi eksternal dan bebas dari
segala macam intimidasi untuk memberikan kesempatan kepada mahasiswa mengaktualisasikan
potensinya dalam terlibat aktif dalam proses perubahan global tadi.
Selanjutnya,
mahasiswa sebagai aktor perubahan baik local ataupun global sebagaimana
disebutkan diatas harus mampu merubah maenstreem berpikirnya kearah
keperpihakan kaum-kaum yang dilemahkan dengan perubahan tadi, terlepas agama,
ras, dan dari Negara manapun, manusia kampus di tuntut berpihak kepada mereka.
Namun sebagaimana kita ketahui bahwa untuk merubah sebuah paradigma yang akan
melahirkan kesadaran secaara kolektif ditingkatan mahasiswa tidak segampang
membalikkan telapak tangan, sehingga di perlukan adanya sebuah instrument-instrumen
yang membantu untk mencapai tujuan tadi. Forum-forum bebas, demokratis adalah
salah satu instrument untuk melakukan pengayaan kesadaran generasi manusia
kampus, sehingga penggalakan forum-forum semacam ini menjadi kebutuhan secara
umum manusia kmapus hari ini. Disamping watak kelas yang dimiliki mahasiswa
sehingga sangat mudah tergoda dengan kekuasaan serta sesuatu yang bersifat
material, juga tidak sedikit manusia kampus yang gampang tergoda dengan
doktrin-doktrin atas nama tuhan sehingga terjerumus dalam gerakan-gerakan yang
sangat ekstrem seperti bom bunuh diri dll
Sebagai
mahasiswa, pemerhati serta praktisi gerakan dan perubahan social, penulis
kemudian membuat sebuah wadah yang kedepannya diharapkan menjadi gerakn social
mahasiswa dan secara umum masyarakat Indonesia yang di sebut gerakan pro
hospitalianisme. Wacana dan praktek Gerakan ini sebenarny berangkat dari
Negara-negara eropa yang mengalami ”kedatangan tamu” yang bernama
imigran-imigran pasca perang dunia pertama dan kedua. Salah Negara eropa yang
mengalami kondosi demikian adalah prancis. Sehingga banyak kajian-kajian, seminar-seminar tentang hospitalitas ini,
dan tentunya ada pro dan kontra disana.
Dengan pradiksi para pakar modernitas (bagi yang
optimis melihat modernitas), bahwa pada tahun-tahun mendatang akan ada
kampung-kampung global. sehingga penulis menganggap perlu adanya serangkaian
Gerakan Pro Hospitalianisme ini, sebuah upaya yang diharapkan mampu merubah
paradigma masyarakat ”yang nota bene sebagai tuan rumah terhadap para pendatang
baru. Dengan masifikasi dan maksimalisasi gerakan pro hospitalianisme yang
diprakarsai oleh seluruh element masyarakat, khususnya mahasiswa, akan
memberikan ekspektasi terhadap adanya kampung global di indonesia. semoga tidak
terjadi sebagaimana yang terjadi di prancis dan nagera eropa lainnya dimana
masyarakatnya banyak yang meneriman para imigran-imigran dengan asumsi negatif
tanpa alasan yang jelas.
Di masa mendatang, setiap
individu tidak lagi menguras energi untuk mencari dan mengtahui serta
mempertahankan posisinya dengan kembali pada identitas kelompoknya, dari segi
kepercayaan, etnis, budaya dan ras tertentu. Namun lebih pada identitas
keanekaragaman kemanusiaan. Sehingga perbadaan satu individu dengan individu
lainnya bukanlah sebuah perbedaan karena perbadaan latar belakang budaya tapi
lebih pada kepercayaan bahwa perbedaan yang ada pada manusia adalah sebuah
kebenaran universal yang dicipta oleh tuhan yang maha kuasa.


