Kampung Indonesia Sebagai Identitas

Facebook
RSS

Ideologi Islam : Interaksi Dinamis Ideologi Dunia (3)

-
Arung Shad S


Demokrasi yang coba kita tegakkan diatas puing-puing keserba keterbelakangan, dibawah bayang-bayang kekerasan dan masih banyak lagi tatangan kemanusiaan, telah menjadi narasi besar dalam tubuh diskursus akademik Indonesia. Ia bagaikan bayi yang baru terelahir dalam sejarah peradaban kita, dan yang paling pasti bisa merawat makhluk yang lemah itu adalah kaum-kaum intelektual muslim sendiri, kini, dan demi masa depan tata kelolah tatanan kemasyarakatan kita. Demikian adalah keniscyaan. Keharusan bagi semua elemen bangsa, jika tidak ingin terjatuh pada apa yang digambarkan filosof dan kritikus sosial, bernard show ”demokrasi, tempat persinggahan bagi pemerintahan yang buruk, jika di isi oleh orang-orang yang bodoh”.[1]

Dari penggambaran diatas, ketika demokrasi yang coba diterapkan  tanpa atau diluar kesadaran kita diambil alih oleh segelintir golongan elit, khususnya pemodal, pekerjaan untuk melaraskan demokrasi dengan kesejahteraan semakin berat. Sebuah konsepsi  demokrasi berkeadilan ekonomi dan sosial sirna bak terpaan angin.dengan banyaknya teori yang kemudian diusung oleh Negara maju secara kelembagaan dan para pemodal secara korporasi. Hal demikian, justru berdampak pelanggengan pada sebuah penindasan, sebuah eksploitasi suatu masyarkat pada masyarakat lain, semakin membludaknya ”kemiskinan structural” di Negara-negara berkembang, khususnya Indonesia.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                         Indonesia Mansur Fakih dalam bukunya,[2] bahwa pada substansinya perubahan nasib kelompok-kelompok marjianal seperti kaum buruh, para petani dan nelayan, permpuan miskin di pedesaan, maupun anak jalanan serta masyarakat diberbagai daerah nusantara tidak akan menuju perubahan pada kesejahteraan, kehidupan yang lebih baik serta layak sangat tidak bergantung pada teori-teori modernisasi yang ditelorkan Negara maju untuk diterapakan oleh Negara berkembang.

Demokrasi berkeadilan sosial ekonomi yang didamba oleh masyarkat manapun di dunia berkembang tidak memunculkan ”batang hidungnya”, selama para Kapitalis masih menggerogoti lingkungan dalam semua segi kehidupan. Justru yang kemudian terjadi adalah ketidakadilan system dominant yaitu system sosial kapitalisme, atas nama kemajuan berperadaban, berdemokrasi!

Penulis mengajak bertamasya dalam demokrasi yang berideologi kapitalisme, sehingga mampu memberikan pandangan lain, mampu memilah demokrasi yang berideologi positif dan mana demokrasi yang haluan ideologi negatif. Maka Sekali lagi, kita melihat, Negara Berkembang disuguhi sebuah wajah Demokrasi Kepitalisme ala Rostow,[3] atau lebih tepatnya tatanan ideal politk yang selanjutnya dipolitisasi kaum pemodal. 

Teori atau konsep demokrasi yang dipermanis untuk kepentingan rakyat Negara Berkembang; bahwa untuk memajukan Negara berkembang, untuk memakmurkan rakyat yang masih terbelakang, mereka harus mengikuti dan berinteraksi dan belajar dengan Negara Maju, sebagaimana proses mereka sehingga menjadi Negara maju dunia saat ini. Namun lagi-lagi dampak dari teori ini kemudian tak lain dari sebuah penindasan serta kejahatan kepada rakyat Negara Berkembang oleh para Kapitalisme Global. Pada akhirnya, negara berkembang yang disuguhi konsepsi demokrasi berujud dekolinisasi oleh negara maju, sebuah penjajahan yang dimulai dari pikiran.[4]


[1] Bernard Show, Manusia Adimanusia: Sebuah Komedi Dan Sebuah Filsafat, Bentang Budaya,Jogjakarta 2003, hal. pada pengantar bukunya
[2] Mansour Fakih, Runtuhnya Teori Pembangunan Dan Globalisasi , Pustaka Pelajar dan Insist Press, Yogyakarta, 2001. hal. 52-54
[3] Dieter Nohlen (Ed), Kamus Dunia Ketiga, PT. Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta, 1989, hal. 738-739
[4] Linda Tuhiwai Smith, Dekolonisasi Metodologi, Insist Press, Yogyakarta, 2005, hal. xv-xvi