Bagian dua
Dalam
konteks kekinian, bertebaran sekelumit pertanyaan tentang peran dan fungsi
mahasiswa. Sebagai kalangan yang tidak terpisahkan dalam perjalanan sejarah
suatu bangsa, mahasiswa yang diharapkan dan idealnya mengawal sebuah perubahan
menuju arah gerak bangsa menggapai cita dalam bentuk kedaulatan, kemerdekaan
sehingga melahirkan keadilan serta kesejahteraan untuk rakyat/ khalayak. Wajar
kemudian ketika hampir seluruh persoalan bangsa tidak bisa dilepaskan dari
gerakan-gerakan mahasiswa. Mahasiswa yang sering menjadi tumbal dari kesewangan
Rezim karena berjuang ataupun ikut andil besar dalam memperjuangkan hak-hak
rakyat. Pemenuhan hak-hak rakyat oleh pemerintah yang masih sebatas mimpi
diharapkan mampu teralisasi ditangan-tangan mahasiswa.
Namun
dalam perjalanan sejarahnya, ketika dunia hedonisme menghegemoni seluruh
lapisan masyarakat, dan yang paling terserang wabah ini adalah tidak sedikit
dari kalangan mahasiswa, banyak opini yang berkembang bahwa mahasiswa hari ini,
tidak lain dari segolongan kaum-kaum borjois kecil, kelas menengah yang
mengambil posisi anatara kaum miskin kota dan para kalangan elit baik birokrat,
kapitalis kelas internasional, sehingga sangat rentan terhadap bajuk rayu yang
ditawarkan kalangan atas dengan wabah busuk berwajah indah, serta terlihat dan
terdengar merdu untuk dicicipi. Tidak sedikit mahasiswa yang diharapkan menjadi
penghubung antara dua kelompok besar ini justru justru berjatuhan di medan juang suci dan
kemudian memainkan peran-peran picik dengan buaian hedonisme; sebuah kesenangan
sesaat bersifat materialistic. Pada akhirnya, mahasiswa melupakan peran dan
fungsi sebagai pengubah arah gerak sejarah yang selalu menindas kaum-kaum
lemah. Maka peran picik tadi berubah menjadi gerakan-gerakan yang tidak lain
sebagai perwakilan kalangan atas yang menjajikan hidup mewah, bergelimang harta
tahta dan perempuan untuk dicumbu dan dinikmati. Mahasiswa kemudian mengalami
penyakit baru yaitu “Amnesia”, lupa terhadap derita khalayak musabab sudah
terjebak ataupun menjebak diri dalam pusaran hedonisme yang ditawarkan para
penggemar Status Qua dari sebuah system yang selama ini mampu memberikan
jaminan kepada mereka untuk hidup enak dengan cara melakukan serangkaian
penindasan terhadap rakyat, sehingga mahasiswa dimata kalangan elit yang lain
(pemegang kekuasaan) yang tidak kalah garangnya dalam melakukan hal serupa
terhadap rakyat kini tidak lebih sebagai golongan yang mampu dijadikan
komoditas politik untuk kepentingan mereka; dengan menjanjikan kedudukan yang
mempermulus naluri hewaniah mahasiswa, hal demikian sudah lebih dari cukup
untuk sebagian mahasiswa untuk melupakan posisi vitalnya, mereka telah
bermteforfosis dari pengubah gerak sejarah menjadi pengumbar syahwat-syahwat
kekuasaan.
Entah
karena kesadaran kita yang telah menurun jauh, atau memang sejarah bagi mahasiswa
hari ini tidak lagi memberi inspirasi dalam bergerak sehingga sejarah
pergerakan mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang mampu menunjukkan pada dunia,
mengukir nama dengan harum lewat perjuangan terhadap pembelaan kaum-kaum
mustadhifin, dan akhirnya tetap komitment di jalan ini hingga pemenuhan hak-hak
rakyat terpenuhi atau meninggal dalam tugas sebagi pengubah sejarah “in
memoriam”. Artinya aspek histories dalam tubuh mahasiswa tidak lagi menyadarkan
mereka akan peran dan fungsinya secara maksimal dan penuh tanggung jawab. Atau
bahkan aspek histories mahasiswahlah yang kemudian melemahkan gerakan-gerakan
mereka sendiri. Mengingat kembali kejayaan gerakan mahasiswa dalam mengawal
perubahan ternyata hanya melahirkan ritual-ritual tahunan dalam bentuk peringatan
masa lalu “romantisme sejarah”. Akhirnya prilaku-prilaku mahasiswa konteks kekinian
menjadi pemuja-pemuja para tokoh-tokoh gerakan tanpa kritisisme atau tergugah
untuk lebih memperbaharui bentuk-bentuk gerakan sesuai perkembangan jaman.
Karena ketika metode yang digunakan para pendahulu masihlah tidak berubah
ditengah perubahan arus zaman yang semakin cepat, lambat laun organisasi
mahasiswa akan karatan, lapuk dan tidak menarik, “tidak lagi seksi” bagi
mahasiswa yang lain, bagi generasi selanjutnya untuk dicumbu dan sebagai tempat
bernaung sehingga lebih terpesona dengan wabah-wabah hedonisme yang penuh warna
daya tarik dalam segala bentuk pemujaan/pemenuhan pada kekayaan, kekuasaan dan
tubuh kaum hawa.
Walaupun
dimasa lalu, dan semoga sampai detik ini, gerakan mahasiswa sangat signifikan
dalam perwujudan keadilan dan kesejahteraan masyarakat, sebagai agen gerakan
moral, agen terhadap control-kontrol social, namun hari ini tidak berarti bahwa
hal demikian menjamin keutuhan gerakan di tubuh para mahasiswa. Bahkan banyak
kalangan menilai mahasiswa hari ini, menjadi obyek-obyek gerakan moral musabab
sudah bermetaforfisis menjadi agen-agen agama baru “hedonisme” yang
berimplikasi buruk pada generasi selanjutnya. Seorang Nurkhalis Madjid pernah
menegaskan hal demikian bahwa “pemuda/mahasiswa hari ini tidak lagi menjadi
penggerak serta pengawal moralitas bangsa, namun menjadi obyek dari gerakan
moral itu sendiri”.


