Kampung Indonesia Sebagai Identitas

Facebook
RSS

Dinamika Mahasiswa : Mahasiswa Bercermin (2)

-
Arung Shad S

Bagian dua

Dalam konteks kekinian, bertebaran sekelumit pertanyaan tentang peran dan fungsi mahasiswa. Sebagai kalangan yang tidak terpisahkan dalam perjalanan sejarah suatu bangsa, mahasiswa yang diharapkan dan idealnya mengawal sebuah perubahan menuju arah gerak bangsa menggapai cita dalam bentuk kedaulatan, kemerdekaan sehingga melahirkan keadilan serta kesejahteraan untuk rakyat/ khalayak. Wajar kemudian ketika hampir seluruh persoalan bangsa tidak bisa dilepaskan dari gerakan-gerakan mahasiswa. Mahasiswa yang sering menjadi tumbal dari kesewangan Rezim karena berjuang ataupun ikut andil besar dalam memperjuangkan hak-hak rakyat. Pemenuhan hak-hak rakyat oleh pemerintah yang masih sebatas mimpi diharapkan mampu teralisasi ditangan-tangan mahasiswa.     

Namun dalam perjalanan sejarahnya, ketika dunia hedonisme menghegemoni seluruh lapisan masyarakat, dan yang paling terserang wabah ini adalah tidak sedikit dari kalangan mahasiswa, banyak opini yang berkembang bahwa mahasiswa hari ini, tidak lain dari segolongan kaum-kaum borjois kecil, kelas menengah yang mengambil posisi anatara kaum miskin kota dan para kalangan elit baik birokrat, kapitalis kelas internasional, sehingga sangat rentan terhadap bajuk rayu yang ditawarkan kalangan atas dengan wabah busuk berwajah indah, serta terlihat dan terdengar merdu untuk dicicipi. Tidak sedikit mahasiswa yang diharapkan menjadi penghubung antara dua kelompok besar ini justru justru berjatuhan di medan juang suci dan kemudian memainkan peran-peran picik dengan buaian hedonisme; sebuah kesenangan sesaat bersifat materialistic. Pada akhirnya, mahasiswa melupakan peran dan fungsi sebagai pengubah arah gerak sejarah yang selalu menindas kaum-kaum lemah. Maka peran picik tadi berubah menjadi gerakan-gerakan yang tidak lain sebagai perwakilan kalangan atas yang menjajikan hidup mewah, bergelimang harta tahta dan perempuan untuk dicumbu dan dinikmati. Mahasiswa kemudian mengalami penyakit baru yaitu “Amnesia”, lupa terhadap derita khalayak musabab sudah terjebak ataupun menjebak diri dalam pusaran hedonisme yang ditawarkan para penggemar Status Qua dari sebuah system yang selama ini mampu memberikan jaminan kepada mereka untuk hidup enak dengan cara melakukan serangkaian penindasan terhadap rakyat, sehingga mahasiswa dimata kalangan elit yang lain (pemegang kekuasaan) yang tidak kalah garangnya dalam melakukan hal serupa terhadap rakyat kini tidak lebih sebagai golongan yang mampu dijadikan komoditas politik untuk kepentingan mereka; dengan menjanjikan kedudukan yang mempermulus naluri hewaniah mahasiswa, hal demikian sudah lebih dari cukup untuk sebagian mahasiswa untuk melupakan posisi vitalnya, mereka telah bermteforfosis dari pengubah gerak sejarah menjadi pengumbar syahwat-syahwat kekuasaan.

Entah karena kesadaran kita yang telah menurun jauh, atau memang sejarah bagi mahasiswa hari ini tidak lagi memberi inspirasi dalam bergerak sehingga sejarah pergerakan mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang mampu menunjukkan pada dunia, mengukir nama dengan harum lewat perjuangan terhadap pembelaan kaum-kaum mustadhifin, dan akhirnya tetap komitment di jalan ini hingga pemenuhan hak-hak rakyat terpenuhi atau meninggal dalam tugas sebagi pengubah sejarah “in memoriam”. Artinya aspek histories dalam tubuh mahasiswa tidak lagi menyadarkan mereka akan peran dan fungsinya secara maksimal dan penuh tanggung jawab. Atau bahkan aspek histories mahasiswahlah yang kemudian melemahkan gerakan-gerakan mereka sendiri. Mengingat kembali kejayaan gerakan mahasiswa dalam mengawal perubahan ternyata hanya melahirkan ritual-ritual tahunan dalam bentuk peringatan masa lalu “romantisme sejarah”. Akhirnya prilaku-prilaku mahasiswa konteks kekinian menjadi pemuja-pemuja para tokoh-tokoh gerakan tanpa kritisisme atau tergugah untuk lebih memperbaharui bentuk-bentuk gerakan sesuai perkembangan jaman. Karena ketika metode yang digunakan para pendahulu masihlah tidak berubah ditengah perubahan arus zaman yang semakin cepat, lambat laun organisasi mahasiswa akan karatan, lapuk dan tidak menarik, “tidak lagi seksi” bagi mahasiswa yang lain, bagi generasi selanjutnya untuk dicumbu dan sebagai tempat bernaung sehingga lebih terpesona dengan wabah-wabah hedonisme yang penuh warna daya tarik dalam segala bentuk pemujaan/pemenuhan pada kekayaan, kekuasaan dan tubuh kaum hawa.

Walaupun dimasa lalu, dan semoga sampai detik ini, gerakan mahasiswa sangat signifikan dalam perwujudan keadilan dan kesejahteraan masyarakat, sebagai agen gerakan moral, agen terhadap control-kontrol social, namun hari ini tidak berarti bahwa hal demikian menjamin keutuhan gerakan di tubuh para mahasiswa. Bahkan banyak kalangan menilai mahasiswa hari ini, menjadi obyek-obyek gerakan moral musabab sudah bermetaforfisis menjadi agen-agen agama baru “hedonisme” yang berimplikasi buruk pada generasi selanjutnya. Seorang Nurkhalis Madjid pernah menegaskan hal demikian bahwa “pemuda/mahasiswa hari ini tidak lagi menjadi penggerak serta pengawal moralitas bangsa, namun menjadi obyek dari gerakan moral itu sendiri”.