Kampung Indonesia Sebagai Identitas

Facebook
RSS

Kreatif Minority Dan Dialog Kebangsaan

-
Arung Shad S

Mencari jalan keluar dari benang kusut keselarasan budaya lokal dan demokrasi kesejahteraan, diperlukan skala prioritas serta elemen kecil yang mampu membawa jiwa konsistensi induvidual, dan selanjutnya menyebarkan virus jiwa kolektivisme yang konstruktif

Pemuda adalah elemen kecil itu, sebuah kreatif minority.

Namun realitas sering berkata lain. Kita belum melihat peran penting bagaimana pemuda Indonesia menjaga pelestarian budaya lokal masing-masing. Langkah-langkah reaksioner dengan turun ke jalan sebagai wujud loyalitas dan pelestarian budaya adalah salah arah. Tindakan reaksioner itu, ketika ada Negara lain mengklaim budaya lokal Indonesia, tidak dibarengi dengan keseriusan menjaga dan melestarikan kearifan budaya lokal.

Meneropong pemuda dan budayanya, dengan potret Kang Radhar Panca Dahana, dalam bukunya Menjadi Manusia Indonesia—tidak lain adalah generasi yang kehilangan rumah. Dan gejolak masyarakat pasca reformasi, tidak lagi dilihat hanya sebagai ekpresi atas keterkekangan dalam waktu yang lama, namun karena pencarian identitas yang belum selesasai “disatu sisi, pemuda ingin keluar dari kungkungan tradisi lama, tapi disisi lain, mereka belum menemukan nilai baru sebagai pegangan”

Hilangnya kita semua dalam rimba raya kebebasan pasca reformasi, mempunyai efek yang tidak sedikit membumi hanguskan nilai-nilai lokal yang sebenarnya potensial membangun kebangsaan yang lebih baik. Lanjutnya, situasi yang berkembang belakangan ini, memberi kita bukan hanya kekisruhan di setiap lapis kehidupan kita sebagai bangsa. Namun juga kericuhan pada usaha mencari standar-standar baru, terutama ketika pihak yang bertikai tidak mampu mendekat bahkan hanya untuk mengatakan: “mari kita bersepakat untuk mencoba sepakat”. Lalu mereka pun hidup melulu dengan rasa malu, risi dan dendam. Sebuah psikologisme khas mereka yang merasa direkayasa untuk merasa dipinggirkan, dijadikan korban dan berhak jadi pahlawan. Walau tentu, belum tentu.[1]

Maka, secara sederhana, kita pun dapat ber“kesimpulan”, bahwa dosa terbesar yang dilakukan oleh pemegang amanah negeri ini adalah ketidakmampuan memberikan ruang-ruang dialogis bagi mereka yang merasa termarginalkan, bagi mereka yang merasa belum merdeka, bagi mereka yang merasa hilang dalam rumah budaya mereka sendiri, bagi mereka yang seperti kita-yang merasa tidak diberikan kesempatan yang sama untuk melestarikan kearifan-kearifan budaya lokal kita masing-masing.

Dialog kebangsaan.

Meminjam pendekatan Peneliti senior LIPI tahun 80-an, Alfian,[2]tulisan ini, ingin melihat signifikansi peranan kebudayaan di dalam berbagai aspek dari proses pembangunan manusia dan masyarakat Indonesia sebagai sebuah bangsa.

Bahwa kebudayaan yang berkembang di Indonesia bercirikan pluralistik dan mampu memberikan harmoni dalam membangun bangsa, semua kita akan sepakat! Tapi tidak cukup kata “sepakat” di-dialogkan atau di-dealektikakan dalam konseptual belaka, namun harus merujuk pada tindakan-tindakan konkret dari masing-masing pihak; artinya, semua elemen bangsa, setidaknya mampu memposisikan diri bagaimana sinergisitas antara kita sebagai bangsa dan kita sebagai pemilik budaya lokal.

Telah banyak dilakukan seminar-seminar yang secara garis besar bertema “dialog kebangsaan”. Hal yang membuat kita tersenyum lega, bahwa kesadaran sebagai bangsa besar, dan membutuhkan ruang-ruang dialogis yang memberikan kesempatan sama kepada seluruh manusia-manusia Indonesia untuk turut berpartisipasi aktif membangun bangsanya sendiri.

Namun, senyum lebar itu akan segera sirna, ketika realita disintegrasi disemangati oleh perbedaan-perbedaan; latar belakang budaya, kondisi ekonomi yang tidak merata, dan masih banyak lagi permasalahan kebangsaan yang belum selesai pada tataran praksis sosial kemasyarakatan.

Tidak sedikit kalangan menilai dengan optimis, bahwa generasi muda Indonesia mampu keluar dari krisis multidimensi yang di alami kita sekarang. Fenomena pemimpin-pemimpin muda yang masuk dalam bursa suksesi kepemimpinan nasional, mungkin berangkat dari asumsi dasar ini. Namun ketika berbicara budaya, apakah kita juga optimis-generasi muda dapat melestarikan budaya lokal di tengah pusaran nilai-nilai baru yang mengajak kita untuk “seragam”?

Menurut Alfian, Ada tiga hal atau prinsip, untuk mempertahankan budaya dan di masa mendatang hidup tumbuh berkembang dalam masyarakat, dan mempunyai peran penting dalam pembangunan bangsa. Pertama, kebudayaan itu mempunyai dimensi idealitas. Bahwa ada tujuan yang ingin dicapai dalam pelestarian budaya lokal Indonesia. Kedua, dimensi realitas. Bahwa strategi kebudayaan, niscaya memperhatikan realitas yang berkembang dalam tubuh masyarakat. Dimensi ketiga, bahwa budaya itu bersifat fleksibel. Artinya, budaya yang ada tidak tertutup, tapi sebaliknya terbuka untuk arus zaman tanpa kehilangan budaya itu sendiri.

Mungkin kita sepakat dengan pemaparan diatas, tapi pertanyaannya, siapa yang kemudian menjadi pioner budaya-budaya lokal tersebut? Penulis melihat potensialitas pemuda dalam hal ini. Berkaca dari sejarah pembentukan Jong-jong yang lahir pra kemerdekaan, yang mampu menjadi ruang-ruang atau wadah ekspresi membangun masyarakatnya, khususnya kaum muda, maka penulis pun melihat bahwa hal demikian dapat dijadikan sebagai pos-pos pelestarian budaya lokal. Artinya, diperlukan organisasi-organsasi berlatar belakang budaya lokal oleh pemuda, tanpa terjebak pada paham-paham kedaerahan. Pada wadah itu, pemuda memaksimalkan diri untuk menggali nilai-nilai keuniversalan budaya lokal dan memberi kontribusi positif pada bangsa Indonesia sebagai bangsa yang pluralistik. Menggali bagaimana kearifan lokal bersinergi dan memberikan solusi pada persoalan-persoalan kebangsaan yang sedang membelenggu masyarakat Indonesia.

Dengan demikian, pemuda mampu menjadi panglima dalam pelestarian budaya-budaya lokal atau penjaga gawang pengembangan kearifan lokal masyarakat mereka. Dengan kesadaran budaya, pemuda sebagai generasi mendatang diharapkan memberikan kebijakan-kebijakan yang berkesadaran budaya pula.

Pada akhirnya, terbentuknya pos-pos budaya, yang digawangi para pemuda akan melahirkan kesadaran sejarah oleh kita sebagai bangsa, tidak lagi hilang dalam rumah sendiri, bahkan dimasa mendatang akan muncul panorama-panorama indah, dimana dari budaya lokal, dengan pengayaan diri terhadap kearifan-kearifan lokal kita membangun bangsa yang besar, Indonesia sebagai Singa atau Macan Asia!


[1]. Radhar Panca Dahana, Menjadi Manusia Indonesia, 2001, LKiS, Yogyakarta

[2]. Alfian, Politik, Kebudayaan Dan Manusia Indonesia, 1980, LP3ES, Jakarta